Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Menangkap Paris dalam Sekali Pandang



Tentang Paris: Invisible City

Paris Ville Invisible terbit tahun 1998 dan merupakan karya kolaboratif Bruno Latour dan fotografer Emilie Hermant. Paris Ville Invisible kemudian diterjemahkan oleh Liz Carey- Libbrecht pada tahun 2006 dengan judul Paris: Invisible City. Terdapatnya banyak foto dalam buku tersebut (ditambah format cetakannya yang eksklusif dan berwarna) membuat Paris: Invisible City dalam versi original sekilas terkesan seperti katalog pariwisata ketimbang sebuah karya filsafat. Gerard de Vries menyebut karya Latour tersebut sebagai karya yang “un-philosophical”, tetapi penting untuk dibaca dalam rangka memahami cara kerja Latour dalam merumuskan gagasan-gagasan filsafatnya (De Vries, 2016: 5). 

Hal apa yang dibahas Latour dalam Paris: Invisible City? Pada karyanya ini, Latour mencoba menjawab pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan “menangkap Paris dalam sekali pandang” (capture all of Paris in a single glance). Latour kemudian mengawali teksnya ini dengan deskripsinya tentang Samaritaine, pusat perbelanjaan raksasa di Paris yang mengklaim bahwa setiap pendatang, jika pergi ke atas gedung, dapat melihat seluruh Paris. Latour tidak memungkiri bahwa sebagian panorama Paris terlingkupi dari atas Samaritaine, tetapi tetap saja ada bagian-bagian tertentu yang tak terlihat (Latour & Hermant, 2006: 2). 

Latour tidak puas dengan kunjungannya ke Samaritaine, ia kemudian beralih pada permainan virtual berjudul Second World. Pada gim tersebut, kita bisa menemukan berbagai macam objek di kota Paris dan semuanya tampak cukup realistis. Namun Second World adalah ruang virtual yang tidak menggambarkan seluruh realitas kota Paris beserta warga di dalamnya. Orang-orang di kota Paris terbuat dari darah dan daging, dengan segala dinamika sosialnya. Lagi-lagi Latour merasa bahwa Second World juga tidak mampu “menangkap Paris dalam sekali pandang”. 

Bagaimana dengan foto satelit? Bukankah kita bisa melihat seisi kota dari mata satelit? Jalan-jalannya, sungai Seine, gedung bersejarah, halaman yang teduh, taman-taman pribadi, jalan raya yang memotong petak-petak di perkotaan, lokasi-lokasi pembangunan. Itukah seluruh Paris? Tentu saja bukan, kita tidak bisa melihat apa-apa tentang Paris dalam peta tersebut, tidak dalam bentuk yang detail (Latour & Hermant, 2006: 8). Setelah berkunjung ke tempat lainnya seperti stasiun metro Abesses, perusahaan suplai air SAGEP, Ecole de Mines, The Ordinance Survey Department, dan beberapa lainnya, pertanyaan Latour tetap tidak terjawab. Realitas kota Paris tidak dapat ditangkap dalam sekali pandang kecuali lewat usaha untuk membuatnya terlihat dari para kartografer, teknisi, dan pegawai sipil (De Vries, 2016: 7). 

Untuk mempertajam analisisnya, Latour kemudian masuk lebih dalam dengan mengunjungi departemen biologi di École de Physique et Chimie de Paris. Di tempat tersebut, Latour meneliti bagaimana para saintis mengkaji tentang saraf tikus. Latour menemukan bahwa hal tentang saraf tikus (anatomi, potensi elektris, dan biokimia molekuler dari saraf) memang dapat ditemukan dalam “sekali pandang” di laboratorium, tetapi Latour juga sekaligus mengajak kita untuk mengamati prosesnya: untuk menghasilkan simpulan tentang saraf tikus, kepala tikus harus dipenggal, otaknya diambil, dipotong di bagian tertentu, ditempatkannya dalam mikroskop, dan berbagai tahapan lainnya. Latour hendak mengatakan bahwa dalam usaha mengobservasi fenomena dan menjabarkan fakta, realitas itu sendiri harus dibuat sedemikian rupa supaya “tampak” (De Vries, 2016: 36).


Apa yang Hendak Dikatakan Latour?

“Aktivitas saraf yang menyerupai saraf, tidak lebih dari lembar tagihan di Café de Flore yang menyerupai secangkir kopi ...” (Latour & Hermant, 2006: 22)

Hal pertama yang bisa kita bicarakan tentang Paris: Invisible City adalah metode Latour dalam merumuskan gagasan filosofis yang bermula dari riset etnografis. Latour tidak berfilsafat “dari balik meja sambil bertopang dagu”, melainkan turun ke lapangan, mewawancarai orang-orang, mengamati setiap peristiwa dengan sungguh-sungguh dan mencatatnya (De Vries, 2016: 8). Pada titik inilah kita menyebut Latour sebagai filsuf empiris karena cara berpikirnya yang kerap berangkat dari hal-hal yang teramati.

Berangkat dari studi lapangannya ke sejumlah tempat di kota Paris, Latour mula-mula mengajukan persoalan filosofis: Dari sudut pandang mana kita dapat melihat struktur sejati dari realitas? Namun pertanyaan tersebut ternyata keliru, karena dari sudut pandang manapun, struktur dari realitas tidak pernah tampak dalam wujudnya yang sejati, melainkan senantiasa berupa penampakan-penampakan yang sifatnya parsial. Struktur dari realitas kota Paris tidak ditemukan secara sempurna dari atas Samaritaine, pun dari foto citra satelit atau permainan Second World.

Berangkat dari bagaimana Latour mengamati proses penelitian atas saraf tikus École de Physique et Chimie de Paris, maka pertanyaan filosofinya diubah: Bagaimana struktur realitas dibuat tampak dan apakah penampakannya tersebut berkorespondensi dengan realitas? Apakah saraf tikus yang telah diteliti sedemikian rupa kemudian dimuat di jurnal ilmiah adalah benar-benar saraf tikus yang sebenarnya? Apakah tagihan secangkir kopi di Café de Flore adalah berkorespondensi dengan secangkir kopi yang sebenarnya? Apakah panorama Paris dari atas gedung Samaritaine adalah benar-benar Kota Paris yang sejati?

Di sinilah Latour hadir dengan gagasannya tentang “realitas yang dibuat tampak”. Realitas tidak pernah hadir dalam penampakannya yang sejati, melainkan mesti dibuat tampak. Paris dibuat tampak oleh tidak hanya orang-orang yang berkepentingan dengannya, tapi juga orang yang menjalani kehidupan dengan apa-adanya dan juga hal-hal yang “bukan orang” atau “non-manusia”. Paris adalah sekumpulan orang-orang Paris, beserta air, telepon, gedung-gedungnya, dan banyak lagi. Pertanyaannya, mengapa Latour mempermasalahkan hal demikian? Apa yang “aneh” dari sebuah kota yang di dalamnya berisi warga dan juga fasilitas serta infrastruktur? Bukankah memang demikian isi dari sebuah kota, di manapun itu?

Latour bergerak lebih jauh dengan menunjukkan jejaring dari keseluruhan unsur-unsur itu (manusia dan non-manusia) yang bersifat sejajar. Paris berisi tempat yang di dalamnya memuat unsur historis, tempat orang-orang besar pernah hidup, tetapi di manakah mereka sekarang? Tentu saja, orang-orang tersebut telah tiada: Pascal, Saint Geneviève, Laplace Hugo, Péguy, Foucault, dan lainnya. Mereka tidak lagi dapat bersuara. Bagi Latour, mereka tetap hadir dalam nafas kota, dalam berbagai peninggalan yang tersurat maupun tersirat pada bangunan-bangunan (Latour & Hermant, 2006: 97).

Namun hal demikian, bagi Latour, masih merupakan pandangan tentang kota sebagai “sekumpulan suksesi” (series of successions) dalam artian rentang waktu. Kota dalam arti “sekumpulan suksesi” dianggap Latour sebagai proyek modern yang mengukur suksesi dari hal-hal baru yang menggantikan hal-hal yang lama. Latour kemudian menawarkan kota juga sebagai ruang yang isinya adalah “sekumpulan koeksistensi” (series of coexistences). Dalam sesuatu yang disebut sebagai “opera sosiologis” (sociological opera), Latour dan Hermant, lewat tampilan teks dan foto, berusaha menyajikan peran “perantara” (intermediares) yang tak terhitung, yang ambil bagian dalam koeksistensi jutaan warga Paris (Latour & Hermant, 2006: 101).

Lantas, apa “perantara” yang dimaksud oleh Latour? “Perantara” adalah keseluruhan dari mulai ekonomi, sosiologi, air, listrik, telepon, pemilik yang mempunyai hak pilih, geografi, iklim, selokan, rumor-rumor, metro, hingga pengawasan polisi, dan banyak lagi (Latour & Hermant, 2006: 101). Seluruh “perantara” tersebut bersirkulasi di Kota Paris, membentuk keseluruhan Kota Paris yang tidak bisa dipandang sebagai suksesi yang saling menggantikan. 

Di sinilah sekaligus letak kritik Latour terhadap modernisme, yang menurutnya kerap dipandang sebagai sebuah suksesi: saat satu gagasan dianggap menggantikan gagasan lainnya, saat yang satu menjadi tampak lebih baru, sementara yang sebelumnya menjadi terasa ketinggalan.

Melalui penerimaannya terhadap “perantara” itu juga, Latour mengajak untuk tidak memandang struktur sejati realitas dari satu kerangka berpikir, melainkan memahami keseluruhan jejaringnya, yang tidak hanya melibatkan manusia, tapi juga non-manusia. Struktur sejati realitas, jikapun ada, tidak bisa terlihat dengan sendirinya, tanpa ada sesuatu yang membuatnya terlihat. Jadi, pertanyaan tentang dapatkah kita melihat Paris dalam sekali pandang? Mungkin jawaban Latour: tergantung apa yang kita maksud sebagai “Paris”. Saat kita memahaminya sebagai suksesi, kita akan selalu gagal, tetapi saat kita menerima sebagai kumpulan koeksistensi, kita akan selalu melihat keseluruhan Paris.


Daftar Pustaka

  • De Vries, Gerard. (2016). Key Contemporary Thinkers: Bruno Latour. Cambridge: Polity Press.
  • Latour, Bruno & Hermant, Emilie. (2006). Paris: The Invisible City (terj. Libbrecht, Liz-Carey). Bruno Latour.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...