Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Kami yang terdiri dari beberapa pemilik dan pekerja lapak rutin nongkrong di sebuah warung di Batununggal nyaris setiap selesai foodcourt tutup. Apa yang dilakukan sepanjang nongkrong itu, ya begitu-begitu saja: bergosip, merokok, ngopi, makan paket sepuluh ribuan, dan kadang-kadang minum kalau sedang ada uang. Topik yang dibicarakan adalah seputaran omzet, kejadian tak biasa di foodcourt, kebijakan dari atas, atau kelakuan si ini si itu.
Memang dalam sejumlah momen, ada pembahasan yang agak dalam, seperti orientasi seksual, pengalaman-pengalaman unik, dan sejarah kegagalan percintaan. Tetapi pembahasan semacam itu tak terlalu sering. Mungkin dianggap memerlukan konsentrasi tambahan, sementara pikiran ini sudah mumet.
Dalam kondisi serumit apapun, merokok dan ngopi, kadang minum, adalah hal yang hampir wajib. Uang yang sedikit tak boleh disia-siakan untuk mengonsumsi barang-barang yang dipandang mampu menurunkan stres. Pengeluaran-pengeluaran pas nongkrong ini seringkali tak masuk akal jika dibandingkan dengan omzet harian. Namun bagi kami, sepertinya tak masalah selama bisa sesaat melegakan pikiran, sebelum bertempur lagi keesokan harinya. Bahasa gampangnya: "Gak apa-apa gak ada duit, yang penting nongkrong dulu. Nanti gimana nanti, besok gimana besok."
Saya sempat berpikir, apakah kondisi semacam ini begitu tidak produktif? Alih-alih menggunakan uang untuk menabung atau menyambung hidup, kami malah menghabiskannya untuk merokok dan mabuk-mabukan. Tetapi setelah dipikir-pikir, bukankah hal semacam ini terjadi di hampir semua kelas?
Pada kelas yang lebih atas, sama saja. Waktu luang, bagi sebagian orang, digunakan untuk berbelanja, makan enak (kadang pake paylater) juga mabuk-mabukan, sampai uang habis, seolah menjadi lingkaran tak ada putusnya: bekerja supaya bisa mabuk-mabukan, mabuk-mabukan supaya bisa bekerja.
Tetapi kadang begitulah hal yang bisa dilakukan jika harapan untuk mengubah keadaan tak kunjung kelihatan. Menganggap hari-hari akan berjalan selalu sama, membuat kami merasa tak perlu berbuat sesuatu yang istimewa setiap harinya. Dorongan untuk mengubah keadaan kadang cuma bisa dibayangkan lewat sesuatu yang instan seperti menikah dengan pasangan kaya, dapat jackpot slot, atau pinjaman bank emok. Selebihnya, kami bekerja keras untuk membeli candu, demi melupakan sejenak kerasnya hidup itu sendiri.
Comments
Post a Comment