Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Perjalanan Mengajar

 


Saya lupa kapan pertama kali mulai mengajar musik. Yang pasti, mengajar gitar klasik sudah dilakoni sejak saya masih kuliah S1 (antara tahun 2003 hingga 2007). Sekolah musik yang pertama kali menerima saya adalah Wisma Musik STESA di Batununggal. Awalnya, saya malah menjadi murid gitar jazz dari Kanggep Kusuma di sekolah musik tersebut, sebelum akhirnya diplot menjadi guru oleh sekolah musik milik Koh Sensus dan Ci Debby itu. Saya ingat murid gitar perdana saya, namanya Marvin. Entah dimana dia sekarang. 

Setelah Wisma Musik STESA, saya lupa tempat mengajar selanjutnya, apakah ke Purwatjaraka di Cijerah atau ke Allegria Music. Manapun itu, yang pasti saya hanya sebentar di Purwatjaraka, dan mengabdi lama di Allegria Music milik Ci Juniar Jacob, mengajar di tiga cabang yang mereka punya. Mungkin lebih dari sepuluh tahun saya mengajar gitar di Allegria Music. Selain mengajar di sekolah musik, saya juga mengajar murid secara privat. Ada yang datang ke rumah, ada juga yang saya datang ke rumah murid. Terakhir saya punya murid gitar adalah tahun 2023 kemarin. Namanya Athaya. Sekarang saya tak lagi mengajar gitar, meskipun ada sedikit kerinduan. 

Sementara karir mengajar sebagai dosen dimulai tahun 2008. Institusi tempat saya mengajar pertama adalah Universitas Padjadjaran. Saya mengajar program D3 Akselerasi yang isinya adalah orang-orang yang setelah lulus SMA langsung bekerja selama dua atau tiga tahun di Jepang. Beda dengan mahasiswa baru program reguler, anak-anak akselerasi ini sedikit lebih senior dan punya pengalaman di lapangan. Pengalaman mengajar pertama di kampus Jatinangor tersebut sangat berkesan bagi saya. Saya tak akan lupa bagaimana guru saya, Bambang Q-Anees, memberi wejangan sebelum mulai kelas perdana, "Mengajarlah seperti hujan." Maksudnya, siramilah semua, mereka akan mengambil air hujan itu sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Asyiknya, mahasiswa D3 Akselerasi kelihatan lebih punya tanggung jawab (ketimbang anak-anak kelas reguler) karena mungkin mereka pernah bekerja di Jepang sebelumnya sehingga sudah terbiasa disiplin. Beberapa diantaranya masih berhubungan baik dengan saya setelah lulus. Kami biasa berkontak via Facebook atau jalur pribadi. 

Setelah sempat mengajar kelas reguler di UNPAD, saya melamar ke Telkom University dan diterima sebagai dosen tetap pada tahun 2013. Menjadi dosen tetap, saya merasakan suatu kenyamanan yang aneh. Di satu sisi, hidup saya sangat terjamin bahkan hingga nanti pensiun, di sisi lain, saya juga merasakan kehidupan yang stagnan dan kurang tantangan. Di Tel-U, saya merasakan kehidupan akademik yang lebih seperti perkantoran ketimbang sirkel intelektual. Sekarang hampir semua kampus menerapkan gaya ala ala korporasi seperti itu, tetapi rasa-rasanya waktu itu Tel-U adalah salah satu pelopornya di Indonesia. Empat tahun di Tel-U, saya diminta mengundurkan diri karena terlibat aksi demo mahasiswa yang diskors akibat memajang sejumlah buku kiri di lapak buku gratis di lingkungan kampus. Dengan perasaan sedikit senang, saya mengundurkan diri dari menara gading yang nyaman itu. Siap bertualang ke dunia berikutnya.

Tahun 2017, saya hampir diterima menjadi dosen tetap di UNPAR, sebelum kemudian ditarik ITB untuk bergabung di bagian Sosioteknologi. Namun UNPAR tetap berbaik hati untuk memberi saya kelas di bagian Humaniora. Waktu itu saya mengajar mata kuliah logika. Di ITB, nasib saya kurang jelas dan selama dua tahun banyak membantu penelitian sembari diberi kelas tipis-tipis, tetapi tak kunjung direkrut. Tahun 2019, saya mendapat surat undangan untuk mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR. Undangan istimewa karena saya bukanlah lulusan filsafat. ITB pun ditinggalkan dan saya fokus untuk mengajar di FF hingga awal tahun 2024. 

Diantara waktu-waktu itu, saya sempat mengajar satu semester di jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Gunung Djati, beberapa semester di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM), dan terakhir, sekitar setahunan lalu, di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Selebihnya, saya senang berbagi dari komunitas ke komunitas. Yang paling lama adalah Madrasah Falsafah yang berdiri tahun 2007 dan saya sempat mengampunya beberapa tahun karena diamanatkan oleh sang pendiri, Bambang Q-Anees. Pada tahun 2018 dan 2019 juga saya sempat mengajar di kelas-kelas publik di Kaka Cafe. Kemudian sejak tahun 2020, saya membangun komunitas saya sendiri, Kelas Isolasi, yang (di)bubar(kan) bulan Mei 2024. 

Sekarang saya sedang tak ada kanal mengajar. Namun karena kegiatan itu sudah menjadi panggilan selama hampir dua puluh tahun dan didorong juga oleh lingkungan keluarga yang memang pengajar (kedua orang tua saya adalah dosen), saya pasti akan kembali. Saya anggap ini hanya fase istirahat saja untuk menata dan menatap hidup. Saya pasti akan kembali.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...