Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pertemanan

Entah kenapa selama ini saya begitu naif. Saya pikir yang dinamakan teman itu adalah semua orang yang bersikap baik pada saya dan saya tak keberatan untuk juga bersikap baik pada dia. Namun tak hanya itu. Untuk membedakan dari kegiatan yang murni transaksional seperti bisnis atau politik, teman juga biasanya bisa diajak ngobrol atau curhat dalam beberapa hal di luar "alasan terbentuknya relasi sosial itu pada mulanya". Maksudnya, misalnya saya dan A dipertemukan karena alasan kesamaan dalam bidang filsafat, maka teman artinya bisa ngobrol hal-hal di luar filsafat juga, contohnya, problem percintaan atau keuangan. Tadinya teman bagi saya ya begitulah definisinya. Maka itu saya pikir teman saya banyak, karena memang termasuk dalam kategori yang saya sebutkan itu. 

Namun ketika saya mengalami kejadian ini semenjak dua bulan lalu, saya menemukan bahwa pengkategorian semacam itu terlalu bodoh dan sederhana. Sekarang saya menemukan bahwa teman itu ada banyak jenisnya. Pengklasifikasian ini sebenarnya agak terinspirasi oleh video yang di-share oleh teman saya di grup Whatsapp, tapi semuanya cocok dan tervalidasi oleh pengalaman saya belakangan. Klasifikasinya adalah sebagai berikut: 

  1. Teman yang selalu ada saat kita berada di atas, bisa berupa reputasi, jabatan, atau kekayaan, yang membuat siapapun merasa bisa mengambil keuntungan dari posisi kita itu. Teman semacam itu tak perlu dicari, pasti datang sendiri seiring dengan status sosial kita. Mereka pasti berusaha berteman dengan kita karena justru melalui kita lah, status sosialnya ikut terangkat atau kebutuhan hidupnya menjadi tercukupi. Untuk menguji kesetiaan teman semacam ini mudah saja. Saat kita jatuh atau bangkrut, mereka pasti lenyap tanpa jejak atau malah balik menghujat kita. 
  2. Teman yang tak terlalu terombang-ambing dengan keadaan kita, tetapi sebenarnya masih punya sisi oportunis. Saat kondisi kita sedang bagus, dia akan menempel, dan saat kita sedang di bawah, dia tetap menempel, tetapi sambil tetap mengkalkulasi risiko bagi dirinya sendiri. Sebenarnya teman semacam ini masih tergolong oportunis, tetapi dia masih punya stamina bertahan yang lebih tinggi ketimbang jenis teman sebelumnya. Saat kita benar-benar terpuruk, dia akan mundur teratur dengan dalih "memikirkan dirinya sendiri". 
  3. Teman yang entah mempunyai kekuatan darimana, selalu mendukung terutama dalam keadaan kita yang paling terpuruk. Memberi semangat dan dukungan nyata meskipun hal demikian sama sekali tak memberikan keuntungan baginya. Dia tak peduli omongan orang, tak peduli apakah kita bisa membalas kebaikannya atau tidak, pokoknya teman jenis ini akan selalu mendukung dalam keadaan apapun. Bahkan kadang kita bisa tak ingat hal apa yang telah kita lakukan terhadap dia, sampai-sampai dia mau segitunya memberi dukungan pada kita.

Dalam kejadian belakangan ini, saya menemukan ketiga kategori teman ini. Saya baru tahu ternyata memang teman ini punya semacam "kasta"-nya sendiri dalam kehidupan kita. Saya tak perlu membahas yang nomor satu dan dua, tetapi teman nomor tiga ini yang saya sampai terheran-heran. Beberapa di antaranya malah saya tak pernah merasa dekat dengannya. Namun entah kenapa dia mendadak memberikan dukungan, melihat sisi baik dari diri saya, dan percaya bahwa saya tak seburuk yang diperkatakan orang-orang di luar sana. Bahkan ada orang yang rela menemani saya setiap malam, menjadi rekan curhat dan berbincang, yang tak peduli apapun badai yang saya alami, dia mengatakan, "Kamu adalah teman saya, apapun yang terjadi, saya akan mendampingimu hingga pulih." 

Ada juga yang mengirimkan doa, meminta saya merapalkannya ratusan kali setiap hari, sembari mengucapkan mantera penenang hati, "Saya akan menemanimu melewati hari-hari yang berat ini." Ada juga yang langsung mengundang saya ke tempatnya, meminta saya untuk sejenak melakukan uzlah atau pengasingan diri, dalam rangka menenangkan batin dan menjauh sejenak dari keriuhan masalah. 

Saya dulu senaif itu, menganggap semua orang yang baik itu teman saya, sekaligus hidup dalam pemikiran paradoks bahwa setiap orang sekaligus berkepentingan bagi diri sendiri, yang menunjukkan perilaku saling memangsa atau homo homini lupus. Artinya, saya sudah tahu sejak awal, bahwa mereka yang baik itu sesungguhnya juga mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Namun bodohnya, saya menganggap bahwa mereka juga memberi keuntungan bagi saya. 

Sekarang, setelah menemukan teman kategori nomor tiga, pandangan saya tentang homo homini lupus tak lagi ajeg. Bahwa terdapat orang-orang semacam itu benar adanya, tetapi jika saya menerapkan cara pandang demikian pada semua orang, maka saya tak lebih menjadi seorang reduksionis. Saat bertemu teman kategori tiga, mungkin tak bisa ditampik bahwa dalam diri mereka, terdapat kandungan oportunis yang mencoba mengambil keuntungan, tapi saya merasa tak perlu melihat atau mencari-cari itu secara berlebihan. Kenyataan bahwa mereka ada, memberi dukungan, yang mana sikap tersebut tak memberinya semacam keuntungan dan malah mendatangkan risiko, saya cukup menangkapnya sampai situ, dan menganggap bahwa hal demikian adalah sebentuk ketulusan yang mengatasi homo homini lupus. Tolok ukurnya gampang, yakni mereka melakukannya saat kita sedang tak punya apa-apa.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...