Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pemasaran Icip-Icip


Selama hampir tiga bulan terakhir ini, saya rutin bermain game di ponsel berjudul Top Eleven. Game manajer sepakbola itu dirancang dengan sangat baik sehingga mengharuskan saya untuk aktif berpikir meracik strategi (baik dalam hal manajerial maupun taktik di lapangan) karena kalau tidak, akan gagal bersaing dengan klub lainnya. Seperti biasa, game ini menyediakan opsi belanja bagi siapapun yang ingin memperkuat tim secara instan. Namun bagi mereka yang tak punya cukup uang, ada cara supaya timnya tetap kuat: menonton iklan. 

Iya, dengan rajin menonton iklan, kita bisa memperkuat stamina pemain, meningkatkan skill, hingga mendapat dukungan tambahan saat berlaga di lapangan. Menariknya, rata-rata iklan ini adalah iklan pinjaman online (pinjol) yang tampak dibuat dengan bujet rendah. Meski kualitas iklannya begitu buruk, tetapi pesannya mudah diingat: bunga rendah, tenor panjang, mudah cair, penagihan santuy, dan iming-iming menarik lainnya. Poinnya, membuat siapapun (yang sedang butuh duit cepat) rasanya tertarik untuk menginstall aplikasi yang ditawarkan. 

Masalahnya, dalam iklan-iklan itu, pinjol tak terlihat seperti sebuah pinjaman, hutang, melainkan diperlakukan seperti "pemberian uang". "Saya berhasil cairin uang empat juta, bisa DP motor deh," begitu kira-kira ujar aktor dalam salah satu iklan, seolah-olah uang empat juta itu tak usah dibayar. Padahal tentu mesti dikembalikan, bersama bunganya yang pastinya lumayan. Iklan lainnya adalah judi online (judol). Saya tidak mengerti istilah chip-chipan, tapi ada iklan yang menjanjikan 50 juta chip dan katanya bikin dia kaya raya. Jelas iklan ini bohong. Tidak ada orang yang kaya raya karena judi, kecuali dua: dia adalah bandarnya, atau dia pernah kaya raya, tapi sesaat saja. 

Pertanyaannya, mengapa iklan ini banyak mengumbar kebohongan? Jelas, kesesuaian antara janji dan kenyataan bukanlah hal yang penting. Yang penting, orang-orang icip-icip dulu, menginstall pinjol dan judol, sebelum akhirnya merasakan sengsaranya. Selebihnya, pihak iklan tak lagi peduli, selama orang-orang sudah icip-icip akibat termakan janji. Kebiasaan icip-icip memiliki suatu ciri psikologis yang menarik: rasakan dulu, bayar kemudian atau nikmati dulu, sengsara kemudian. Bahkan psikologi semacam ini didorong oleh justifikasi tentang keharusan kita menikmati apa yang ada di hadapan, masa sekarang, tidak usah berpikir tentang yang akan datang karena belum terjadi. Nanti gimana nanti. 

Cara berpikir semacam itulah yang menjadi landasan kemunculan produk-produk seperti kartu kredit, paylater, dan fitur penundaan pembayaran lainnya. Bunga berbunga tak masalah, kan itu nanti, bukan sekarang. Siapa tahu nanti hidup kita lebih baik, yang penting kesenangan hari ini telah diraih. Jelas ini bukan bagian dari ajaran Buddhisme Zen yang mengafirmasi situasi kekinian, melainkan kemahiran pihak pengiklan dalam memainkan psikologi YOLO (you only live once). Masyarakat modern tak hanya menganut prinsip penumpukan kekayaan untuk menjadi modal di "hari nanti", tetapi juga paradoksnya, mereka punya kegelisahan untuk menikmati "hari ini" di tengah serba tekanan akan persaingan. 

Untung saya punya pengalaman cukup dengan pinjol dan judol, sehingga tak punya ketertarikan sama sekali untuk mencicipi aplikasi yang ditawarkan. Saya tetap memutar iklan demi menambah kekuatan tim.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...