Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Menjalani Hidup dengan Demotivasi: Mungkinkah?


“Tingkatkan terus kualitasmu!” 

“Kalau kamu yakin bisa, kamu pasti bisa!” 

“Berpikirlah positif setiap hari!” 

Kalimat-kalimat motivasi seperti di atas pasti sudah sering kita lihat dan dengar nyaris setiap waktu. Profesi orang yang sering bicara seperti itu juga kemudian bermunculan dalam beberapa tahun terakhir yang namanya, kita tahu, motivator. Motivator ini selain muncul di televisi, juga membuat seminar- seminar, tampil atas undangan perusahaan, dan belakangan mulai merambah media sosial seperti Youtube.

Apakah ada masalah dengan memotivasi orang untuk lebih baik? Tentu tidak, bahkan harus! Tapi di sisi lain, kita juga semestinya kritis dalam melihat gejala motivator yang menjamur dengan berbagai kalimat motivasinya ini. Karena toh, kenyataannya, banyak juga orang yang menjadi semangat setelah mendengar ocehan mereka, tapi tidak seberapa punya dampak konkrit terhadap karir dan kehidupannya. Artinya, semangat ya tinggal semangat saja. 

Lantas, apa yang bisa kita kritisi dari para motivator ini? Pertama, sadarkah bahwa para motivator selalu mengajarkan bahwa rumus dari segala sesuatu adalah pola pikir? Jika kita mau sukses, kita harus berpikir bahwa kita akan sukses. Sebaliknya, jika kita gagal, berarti pola pikir kita yang senantiasa mengarah pada kegagalan. Tapi, apakah benar bahwa hidup adalah sesederhana soal pola pikir? Jika begitu, berapa banyak orang yang sudah berpikir positif hingga mentok, tapi hidupnya di situ-situ saja? Sebaliknya, berapa orang yang menjadi sukses oleh sebab orangtuanya sudah sukses duluan?

Kenyataannya, ada masalah yang lebih rumit dari sekadar pola pikir. Misalnya, masalah struktural. Orang tidak sukses karena pendidikannya rendah. Mengapa pendidikannya rendah? Bukan artinya orang tersebut tidak mau sekolah, melainkan karena bisa saja akses terhadap pendidikan itu sulit. Contoh lain, orang sudah ikut seminar motivasi berpuluh kali tentang bagaimana membangun kewirausahaan, tapi selalu gagal karena kenyataannya, wirausahawan yang sukses itu juga harus punya koneksi yang bagus terhadap kekuasaan. Masalah berikutnya adalah soal retorika yang mengarah pada aspek psikologis daripada logis. Kalau seorang motivator mengatakan bahwa kita harus berpikir positif atau kita harus mengisi hidup kita secara berkualitas, apakah pernyataan tersebut cukup jelas? Berpikir positif itu yang bagaimana? Apakah misalnya dengan kita diberi beban pekerjaan yang melebihi kontrak seharusnya, kita harus berpikir positif bahwa itu adalah bentuk kepercayaan bos terhadap kita? Mengisi hidup kita secara berkualitas itu yang bagaimana? Apakah dengan membaca buku-buku motivasi, self-help atau filsafat? Tidak ada metode yang jelas karena mungkin tujuannya hanya untuk memberi sugesti saja. 

Masalah lainnya adalah ilusi kesuksesan yang diarahkan pada kepentingan tertentu. Kata siapa kesuksesan itu adalah soal target marketing yang terpenuhi? Kata siapa kekayaan itu perkara harta material yang bertumpuk-tumpuk? Kata siapa kebahagiaan itu adalah memenangkan persaingan sehingga menjadi yang terbaik diantara manusia lainnya? Motivator seringkali mengajarkan prinsip- prinsip semacam itu, yang bisa saja bertentangan dengan definisi kesuksesan, kekayaan, dan kebahagiaan dari batin kita masing-masing. Hal yang lebih membahayakan, kita bahkan menjadi tidak tahu apa yang sebenarnya kita sendiri inginkan, karena senantiasa terpaku dengan doktrin para motivator tersebut.  

 

Hidup dengan Demotivasi 

Kita bisa mulai dengan mengetik kata kunci “demotivasi” lewat mesin pencari Google. Apa yang muncul? Rata-rata yang keluar adalah artikel tentang bagaimana mengatasi demotivasi. Artinya, demotivasi dianggap sebagai sesuatu yang negatif, berbahaya, dan harus disembuhkan. Tidak salah-salah amat pendapat semacam itu. Tapi mari kita balik keadaannya: Bagaimana jika motivasi, sebagaimana yang diajarkan oleh para motivator, adalah konsepsi yang menjerumuskan, sehingga kita memerlukan demotivasi sebagai penawarnya? 

Jika kita menengok sejenak ke sejumlah ajaran ataupun pemikiran klasik, kita akan menemukan pemikiran tentang bagaimana bersikap kritis, realistis, dan sekaligus kurang antusias terhadap hidup. Dalam arti kata lain, hidup boleh saja disikapi dengan santai, minim ekspektasi, dan jauh dari rancangan berlebihan tentang masa depan. Stoisisme, misalnya, aliran pemikiran yang dianut oleh sejumlah pemikir dari masa Yunani Kuno hingga Romawi ini, mengajarkan kita untuk hidup tanpa harus memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Seorang stoik (istilah untuk penganut stoisisme) harus senantiasa berada dalam ketenangan yang berpusat dari pikiran, sehingga tidak mudah gelisah oleh berbagai perubahan. 

Ajaran agama tertentu juga mengarah pada konsepsi yang kurang lebih mirip. Buddhisme, misalnya, mengajarkan kita untuk menekan kehendak. Mengapa? Kehendak itulah sumber derita, yang membuat kita senantiasa terikat pada keinginan-keinginan sementara terhadap dunia. Dalam Islam pun ada ayat yang mengatakan bahwa “Hidup ini adalah senda gurau belaka”, yang menunjukkan bahwa kita tidak perlu terlalu semangat dan ambisius di dunia ini: santuy saja

Dalam arti kata lain, demotivasi bukanlah sesuatu yang murni buruk. Demotivasi jangan-jangan menjadi dicap buruk karena senantiasa bertentangan dengan wacana-wacana kesuksesan, kebahagiaan, dan kekayaan yang diagung-agungkan oleh para motivator. Namun, apakah demotivasi kemudian menjadi identik dengan malas-malasan dan hidup sepanjang hari dengan rebahan? Tentu tidak perlu secara ekstrem diterjemahkan seperti itu. Jika kita harus bekerja, teruslah bekerja, tapi tidak perlu dengan motivasi berlebihan dengan keinginan yang terlampau tinggi. Tidakkah kucing pun tetap hidup tanpa harus mendengarkan ocehan motivator? 

Jika kita kerucutkan, kita bisa renungkan, bahwa apakah artinya hidup, selain hanya mencari dua hal: gairah dan ketenangan batin. Kita mencari itu di mana-mana, dan motivator menunjukannya lewat doktrin yang sangat sempit tentang definisi kekayaan dan kebahagiaan versi mereka. Kita boleh dan sah- sah saja mencari gairah dan ketenangan batin melalui versi kita sendiri, dengan definisi yang sangat personal. Demotivasi memberi kita peluang untuk menafsirkan segala bentuk kegagalan dan kehancuran sebagai sesuatu yang bisa jadi bermakna, hanya jika kita menutup telinga dari berbagai ekspektasi para motivator yang jika terus menerus kita ikuti, justru malah berpotensi menimbulkan depresi. Mari hidup demotivasional di tengah dunia yang sering merasa sok pasti, padahal demikian rapuh dan bisa hancur kapan saja.

 

Ini adalah tulisan yang pernah dimuat di website voxpop.id. Sayangnya, website tersebut sekarang tidak aktif sehingga artikel-artikel di dalamnya tidak dapat diakses. Artikel yang diposting di blog ini adalah versi tulisan yang belum disunting oleh pihak voxpop.id.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...