Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kucing dan Zen

 

 


Kata Eckhart Tolle, dia pernah tinggal dengan sejumlah guru Zen, semuanya adalah kucing. Terdengar berlebihan, tapi ternyata saya merasakan kebenaran kata-kata Tolle tersebut belakangan ini. Saya memang suka kucing dari dulu, tetapi pikiran saya tentang kucing waktu itu seringkali berbau antroposentris dan cenderung motivasional. Saya menganggap hidup mereka membosankan, kekurangan tantangan dan pencapaian. Mereka hanya makan, tidur, sesekali kawin dan lebih banyak berantem. Lebih buruknya, berbeda dengan anjing, yang setia mendampingi dan membantu manusia dalam banyak hal, kucing kerap dituding sebagai "bos yang pemalas". Mereka tak bisa diatur, tak bisa benar-benar dimiliki, dan mencoba sekuat tenaga supaya keinginan mereka terpenuhi. 

Di hari-hari belakangan, ketika hidup saya mengalami banyak perubahan, saya menjadi lebih sering mengamati kucing saya, Niko. Saya menjadi hampir seritme dengannya: setiap hari hanya makan, tiduran, bengong. Bedanya, saya masih ada kegiatan seperti menulis dan bepergian agak jauh. Pada saat kegiatan-kegiatan tersebut sedang tidak ada, saya banyak belajar dari Niko, tentang bagaimana menghidupi masa sekarang, menikmati apa yang tersaji di hadapan. Saat sedang tidur, tidurlah sepenuh hati, tanpa perlu memikirkan beban pikiran, apa yang terjadi di masa yang akan datang, atau apa yang telah berlalu. Saat sedang makan, makan saja, tak banyak merenungkan hal-hal lain, apalagi filsafat. 

Niko bisa hanya duduk, memandangi jalanan nyaris seharian, sambil sesekali menjilat bagian tubuhnya atau merespons suara di sekitar dengan hanya menengok sesaat. Hanya itu yang dilakukannya, berulang-ulang, tanpa mungkin terpikirkan, "Mau jadi kucing apa saya nantinya jika terus bermalas-malasan?" Tapi pertanyaan semacam itu hanya ada dalam semesta manusia. Konsep "malas" hanya mungkin jika dikaitkan dengan produktivitas. Sama halnya dengan kucing yang kerap berbaring sembarangan di dalam rumah (seperti di dalam lemari atau menghalangi jalan), konsep "sembarangan" ada karena dikaitkan dengan konsep ketertiban dalam kepala manusia. 

Dalam semesta seekor kucing, mungkin konsep produktivitas dan ketertiban itu tak benar-benar eksis. Semuanya fana, melebur. Sama halnya dengan nama mereka sendiri, Niko, misalnya, yang saya sematkan, tapi dia sendiri tak melekat dengan nama itu. Nama begitu penting bagi manusia, karena termasuk di dalamnya: segala kediriannya, termasuk narasi hidupnya. Niko mungkin tak sadar dirinya adalah Niko. Dia tahu dirinya kucing, tapi apakah dia itu Niko atau Mengski, baginya tak penting. Tak ada yang melekat pada nama-nama itu. Dengan demikian, apa yang biasa melekat pada nama-nama, seperti memori atau identitas, bisa jadi tak berlaku bagi kucing.

Rasanya itulah yang dihayati melalui Zen. Konsep dosa, misalnya, melekat pada identitas (bayangkan saat kita dihisab di akhirat [jika percaya], yang dipanggil adalah nama kita, tempat segala dosa dan pahala akan dihitung). Alih-alih memikirkan cara menghapus dosa, lebih baik fokus pada penghancuran identitas. Alih-alih fokus pada cara membersihkan debu, lebih baik hilangkan kaca atau lemari-lemari, tempat debu itu menempel. Aku bukanlah namaku, karena nama hanyalah konstruksi semiotik. Niko adalah konstruksi semiotik. Kucing itu bukan Niko, melainkan kucing yang dalam semestanya tak dijejali banyak konsep, kecuali kehadiran penuh atas apa yang sedang terjadi di hadapan. Itulah Zen.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...