Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

30hari30film: Vanilla Sky (2001)



4 Ramadhan 1433 H
 
 

Vanilla Sky adalah film garapan Cameron Crowe yang merupakan remake dari film berbahasa Spanyol berjudul Abre los Ojos. Film ini diawali dengan kisah tentang eksekutif muda bernama David Aames (Tom Cruise) yang kehidupannya diwarnai kesuksesan baik dari segi uang maupun wanita. Hal ini berjalan lancar hingga akhirnya rasa cinta David terhadap Sarah Serrano (Penelope Cruz) berujung pada cemburu luar biasa dari Julie Gianni (Cameron Diaz). Kecemburuan itu berujung pada aksi nekat Julie yang menabrakan mobilnya ke pagar pembatas jalan hingga terlempar ke bawah jembatan. Dikisahkan di sana, Julie meninggal sedangkan David selamat namun mengalami kehancuran wajah dan lengan.

Cerita berikutnya menjadi mozaik yang membuat kita terheran-heran. Kadang wajah David digambarkan rusak, kadang utuh. Kadang kita melihat Sofia, lalu ia berubah menjadi Julie yang mengaku sebagai Sofia. Perubahan-perubahan cepat ini terjawab di akhir film, bahwa sebenarnya David tengah menjalani suatu program “perpanjangan usia” bernama Life Extension. Salah satu dari subprogram tersebut mempunyai sisi hiburan yaitu lucid dream. Apa gerangan lucid dream? Yaitu mimpi dimana kita dapat berkehendak, memutuskan apa yang mau diperbuat dan memeroleh konsekuensinya. Jadi apa yang dialami David, segala keanehan tersebut, adalah bagian dari keinginan-keinginan yang tersembunyi dalam alam bawah sadarnya. Seperti halnya menurut Freud, hasrat yang tak tercapai di alam bawah sadar, akan terekplisitkan kemudian dalam mimpi.

Sedari awal, film ini memang sudah menunjukkan gejala-gejala kejanggalan. Misalnya, film bermula dengan adegan David menyadari dirinya sendirian di tengah kota New York tanpa ada satupun manusia di sekitarnya. Meski di akhir cerita, pihak dari Life Extension sudah menceritakan apa yang terjadi pada David (Ingat bagaimana seorang psikiater menjelaskan keseluruhan misteri pada film Psycho-nya Alfred Hitchcock?), namun sutradara Cameron Crowe agaknya tetap mau membiarkan ada sedikit keheranan pada masing-masing benak penonton. Tetap saja menjadi misteri tentang dimana batas lucid dream yang dialami David: Apakah sejak 150 tahun lalu (Seperti terekplisitkan dalam suatu dialog)? Atau sejak David mengalami kecelakaan dengan Julie Gianni? Atau sejak awal keseluruhan film ini sudah tidak nyata?

Apapun itu, Vanilla Sky tetap merupakan sebuah film yang agaknya membuat kita punya kesan seperti menonton Truman Show: Ada sisi terhibur tapi sekaligus termenung-menung. Keduanya punya tema mirip-mirip, tentang bagaimana kecanggihan teknologi di suatu hari bisa membuat kita ketakutan. Tentu saja Life Extension bukan suatu proyek utopis karena gejala medis sudah semakin ke arah sana. Namun efek samping berupa lucid dream, yang isinya utopia tentang kehendak bawah sadar masyarakat modern yang idealismenya hanya seputar uang dan wanita, sungguh menciptakan alienasi yang berlapis. Vanilla Sky cukup sukses menyampaikan pesan ini.

Rekomendasi: Bintang Tiga Setengah

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Honest Review

Istilah " honest review " atau "ulasan jujur/ apa adanya" adalah demikian adanya: ulasan dari seseorang (hampir pasti netizen dalam konteks ini) tentang suatu produk entah itu kuliner, buku/ tulisan, film, dan lain-lain, yang disampaikan secara "jujur". Hal yang umumnya terjadi, "jujur" ini lebih condong pada "kalau jelek bilang jelek" atau semacam "kenyataan pahit". Sebagai contoh, jika saya menganggap sebuah rasa sebuah makanan di restoran A itu buruk, saya akan mengklaim diri saya telah melakukan " honest review " jika kemudian dalam membuat ulasan, benar-benar mengatakan bahwa makanan tersebut rasanya buruk. Mengatakan bahwa sebuah makanan itu enak dan memang benar-benar enak, memang juga semacam " honest review ", tapi biasanya bisa dicurigai sebagai bentuk dukungan, promosi, atau endorsement . Jadi, saat seorang pengulas berani mengatakan bahwa makanan ini "tidak enak", fenomena semacam itu ...

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dal...