Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pertaruhan dan Hukuman Seumur Hidup


 
Perdebatan tentang mana yang lebih baik antara hukuman mati dan hukuman seumur hidup memang kerap pelik. Ada versi yang mengatakan bahwa hukuman mati lebih manusiawi karena tidak memperlama penderitaan dan menimbulkan efek jera bagi yang mengetahuinya. Sementara itu hukuman seumur hidup, di sisi lain, dianggap lebih baik karena negara sebenarnya tidak mempunyai wewenang mencabut nyawa warga negara. Akhirnya saya cukup tercerahkan tentang perdebatan ini setelah membaca cerpen Anton Chekhov yang berjudul Pertaruhan

Cerpen yang ditulis tahun 1889 tersebut berkisah tentang perdebatan antara bankir dan yuris (ahli hukum). Kata bankir, "Hukuman mati langsung membunuh, sedangkan hukuman kurungan selama hidup membunuh secara perlahan-lahan. Manakah algojo yang lebih berperikemanusiaan? Yang membunuh dalam beberapa menit, atau yang menarik-ulur nyawa Tuan selama bertahun-tahun?" Yuris berpendapat lain, "Hukuman mati dan hukuman kurungan seumur hidup sama-sama tidak bermoral, tapi bila saya disuruh memilih antara hukuman mati dan hukuman seumur hidup, tentu saya memilih yang kedua. Hidup, bagaimanapun, lebih baik daripada tidak sama sekali."

Lalu atas perdebatan itu, mereka bertaruh dua juta Rubel: Yuris limas belas tahun akan tinggal di dalam penjara dari pukul 12 tanggal 14 November 1870 sampai pukul 12 tanggal 14 November 1885. Kalaupun yuris keluar dua menit sebelum waktu yang ditentukan, maka ia tetap kalah dan bankir tidak perlu membayar uang dua juta Rubel. Di dalam penjara, yuris masih boleh surat menyurat lewat jendela kecil. Ia juga disediakan buku, partitur, anggur, dan piano. 

Awalnya, yuris merasa bosan dan menderita. Namun di tahun-tahun berikutnya, yuris mengisi waktu dengan membaca. Bacaannya terus bertambah dan ia selalu memesan buku-buku baru lewat sipir. Berbagai jenis pengetahuan dilahap oleh yuris, mulai dari bahasa, filsafat, sejarah, roman, kedokteran, ilmu-ilmu alam, hingga Injil. 

Singkat cerita, yuris menikmati kegiatannya tersebut hingga tak terasa lima belas tahun hampir berlalu. Bankir mulai panik dan yakin ia akan kalah dalam waktu dekat. Bankir tidak punya uang sebanyak dua juta Rubel dan ia mulai menyusun rencana jahat untuk membunuh yuris diam-diam. Di tengah perwujudan rencana tersebut, bankir menemukan secarik surat yang ditulis oleh yuris. Penggalan isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

"Besok pukul 12 saya memperoleh kebebasan saya dan hak untuk bergaul dengan orang banyak. Tapi sebelum meninggalkan kamar ini dan melihat matahari, saya anggap perlu untuk mengatakan beberapa patah kata kepada Tuan. Sesuai hati nurani yang bersih dan di hadapan Tuhan yang melihat diri saya, saya nyatakan kepada Tuan bahwa saya memandang rendah kebebasan, hidup, kesehatan, dan semua yang di dalam buku-buku Tuan dinamakan maslahat dunia."

".. di dalam buku-buku Tuan saya membubung ke puncak Elbrus dan Mont Blanc, dan dari sana memandang bagaimana saban pagi terbit matahari dan saban petang ia mewarnai langit, samudra, dan puncak gunung dengan emas merah jingga; dari sana saya melihat bagaimana di atas saya kilat menyambar menembus awan; saya melihat bentangan hutan yang hijau, sungai-sungai, danau-danau, kota-kota, mendengar kicau burung sirene dan permainan seruling penggembala, meraba sayap-sayap setan indah yang terbang mendatangi saya untuk bertukar pikiran tentang Tuhan... Dengan buku-buku Tuan saya menceburkan diri ke jurang tanpa dasar, menciptakan keajaiban, membunuh, membakari kota-kota, mengkhotbahkan agama-agama baru. menaklukkan kerajaan-kerajaan besar.."

"Buku-buku Tuan memberikan kepada saya kebijaksanaan. Semua yang selama berabad-abad diciptakan oleh akal manusia yang tidak kenal lelah, di dalam tengkorak saya menggumpal dalam satu gumpalan kecil. Saya tahu bahwa saya lebih pandai dari tuan-tuan sekalian."

"Untuk menunjukkan secara nyata bahwa saya memandang rendah cara hidup Tuan-Tuan, saya menolak menerima uang dua juta yang dahulu pernah saya impikan sebagai surga, yang kini saya anggap rendah. Untuk meniadakan hak atas uang itu, saya akan keluar dari sini lima jam sebelum jangka waktu yang disyaratkan dan dengan demikian saya melanggar persetujuan.."

Bankir menangis dan merasa kalah. Digambarkan, "Belum pernah, bahkan sesudah mengalami kekalahan besar di pasar bursa, dia merasa demikian benci kepada diri sendiri seperti sekarang." 

Bagaimana melihat cerita tersebut sebagai pernyataan bahwa hukuman seumur hidup lebih baik dari hukuman mati? Pak Awal Uzhara adalah orang yang menjelaskan saya tentang ini. Katanya, "Hukuman seumur hidup memberi peluang seseorang untuk berubah. Dalam perjalanannya menuju kematian, orang diberi kesempatan untuk bermakna, setidaknya bagi dirinya sendiri." 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...