Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kesendirian

Meski aku sering kemana-mana sendiri, konsep kesendirian bukanlah hal yang akrab denganku. Maksudnya, dalam kesendirian, aku selalu terdistraksi, untuk nge-scroll Twitter, cari teman ngobrol di Whatsapp, atau apa sajalah yang penting jangan sampai jatuh pada kesunyian, jangan sampai sendiri banget. Tentu saja, seorang pengkaji filsafat harus punya waktu-waktu sendiri, untuk membaca teks secara intens, untuk berefleksi, aku butuh itu, tetapi sekali lagi, konsepnya bukan dalam kesendirian, tetapi lebih tepatnya: dalam sebuah lingkungan yang aku nyaman di dalamnya. Aku mesti membangun sekelilingku dulu, enjoy dengan itu, baru aku bisa menulis dan membaca dengan khidmat. 
 
Apa bedanya konsep semacam itu dengan kesendirian? Beda. Kesendirian adalah kenyamanan akan diri, dalam diri, tanpa perlu sibuk menyiapkan lingkungan eksternal. Kesendirian adalah buah dari pergulatan batin yang sibuk, untuk kemudian tak lagi menganggap lingkungan eksternal sebagai sesuatu yang krusial, karena kita, pada akhirnya, hanya punya diri kita, untuk dirangkul, untuk diajak bicara. Kesendirian bukan perkara ada teman atau tidak, kesendirian adalah perkara diri yang sunyi di tengah keriuhan, atau malah: diri yang riuh di tengah kesunyian. Yang pasti, kesendirian bukanlah apa yang selama ini kulakukan: kemana-mana sendiri, tapi tak pernah merasa nyaman, sehingga senantiasa memerlukan distraksi. 
 
Sebagai contoh, aku suka membaca berlama-lama, tapi pertama, tak pernah terus-terusan fokus pada bacaan tersebut, pasti perlu "gangguan" sebentar-sebentar. Kedua, aku baru sadar, tak sepenuhnya aku membaca demi kenikmatan membaca itu sendiri. Membaca palingan karena diundang jadi pembicara, atau perlu untuk menulis sesuatu, atau dipamerkan lewat Twitter/ X. Aku tak bisa menghayati membaca sebagai dialog sunyi dengan diri sendiri. Aku tidak tahu kenapa seperti itu, dan hal ini baru aku sadari belakangan-belakangan ini, kala hidup benar-benar sendiri, yang tak ada jalan lain kecuali menikmatinya. Menikmatinya ini bukan dengan cara mencari-cari hiburan atau kesibukan yang dibuat-buat, melainkan dengan cara menghayatinya, membuat diri menjadi nyaman. 
 
Selama ini, aku selalu takut akan kesendirian. Padahal kesendirian adalah fondasi eksistensi kita: lahir sendiri, mati sendiri. Bahkan sepanjang hidup pun, pada hakikatnya, kita sendirian. Meski di sekeliling ada banyak teman, keluarga, mahasiswa, atau pengikut media sosial, mereka tak akan benar-benar menyelamatkan kita jika kita tertimpa kesulitan. Iya mereka bisa saja membantu kita, tapi mereka akan memikirkan keselamatan dirinya dulu, mereka pun ada diri sendiri yang mesti dijaga, baru setelah itu, mereka akan mulai memikirkan orang lain (itupun sembari memikirkan apa untungnya orang lain tersebut bagi diri mereka). Jika memang hal demikian begitu alamiah dianut oleh setiap orang, kenapa kita tidak mendahulukan diri kita sendiri juga? 
 
Kesendirian juga adalah semacam momen-momen berbincang dengan apalah itu namanya Tuhan. Aku baru sadari, dalam kesendirian, kita lebih dekat dengan "hati", dan konon dalam "hati" itulah bersemayam sang ilahi. Tapi Tuhan sekaligus tahu, manusia takut sendiri, maka dibuatlah suruhan untuk berkumpul dalam sebuah jemaah, mengarahkan sesembahan pada sesuatu yang "di luar", supaya mudah bagi manusia, yang enggan menenggelamkan diri pada yang sunyi. Begitu baiknya Tuhan, sampai-sampai mengizinkan manusia untuk mencari Dia dalam keriuhan, padahal Dia juga ada dalam kesunyian. Dalam kesendirian, doa senantiasa kupanjatkan: Tuhan yang sunyi, tak perlu sering berkata-kata. Berilah aku pengertian. Berilah aku pengertian.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...