Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Meski aku sering kemana-mana sendiri, konsep kesendirian bukanlah hal yang akrab denganku. Maksudnya, dalam kesendirian, aku selalu terdistraksi, untuk nge-scroll Twitter, cari teman ngobrol di Whatsapp, atau apa sajalah yang penting jangan sampai jatuh pada kesunyian, jangan sampai sendiri banget. Tentu saja, seorang pengkaji filsafat harus punya waktu-waktu sendiri, untuk membaca teks secara intens, untuk berefleksi, aku butuh itu, tetapi sekali lagi, konsepnya bukan dalam kesendirian, tetapi lebih tepatnya: dalam sebuah lingkungan yang aku nyaman di dalamnya. Aku mesti membangun sekelilingku dulu, enjoy dengan itu, baru aku bisa menulis dan membaca dengan khidmat.
Apa bedanya konsep semacam itu dengan kesendirian? Beda. Kesendirian adalah kenyamanan akan diri, dalam diri, tanpa perlu sibuk menyiapkan lingkungan eksternal. Kesendirian adalah buah dari pergulatan batin yang sibuk, untuk kemudian tak lagi menganggap lingkungan eksternal sebagai sesuatu yang krusial, karena kita, pada akhirnya, hanya punya diri kita, untuk dirangkul, untuk diajak bicara. Kesendirian bukan perkara ada teman atau tidak, kesendirian adalah perkara diri yang sunyi di tengah keriuhan, atau malah: diri yang riuh di tengah kesunyian. Yang pasti, kesendirian bukanlah apa yang selama ini kulakukan: kemana-mana sendiri, tapi tak pernah merasa nyaman, sehingga senantiasa memerlukan distraksi.
Sebagai contoh, aku suka membaca berlama-lama, tapi pertama, tak pernah terus-terusan fokus pada bacaan tersebut, pasti perlu "gangguan" sebentar-sebentar. Kedua, aku baru sadar, tak sepenuhnya aku membaca demi kenikmatan membaca itu sendiri. Membaca palingan karena diundang jadi pembicara, atau perlu untuk menulis sesuatu, atau dipamerkan lewat Twitter/ X. Aku tak bisa menghayati membaca sebagai dialog sunyi dengan diri sendiri. Aku tidak tahu kenapa seperti itu, dan hal ini baru aku sadari belakangan-belakangan ini, kala hidup benar-benar sendiri, yang tak ada jalan lain kecuali menikmatinya. Menikmatinya ini bukan dengan cara mencari-cari hiburan atau kesibukan yang dibuat-buat, melainkan dengan cara menghayatinya, membuat diri menjadi nyaman.
Selama ini, aku selalu takut akan kesendirian. Padahal kesendirian adalah fondasi eksistensi kita: lahir sendiri, mati sendiri. Bahkan sepanjang hidup pun, pada hakikatnya, kita sendirian. Meski di sekeliling ada banyak teman, keluarga, mahasiswa, atau pengikut media sosial, mereka tak akan benar-benar menyelamatkan kita jika kita tertimpa kesulitan. Iya mereka bisa saja membantu kita, tapi mereka akan memikirkan keselamatan dirinya dulu, mereka pun ada diri sendiri yang mesti dijaga, baru setelah itu, mereka akan mulai memikirkan orang lain (itupun sembari memikirkan apa untungnya orang lain tersebut bagi diri mereka). Jika memang hal demikian begitu alamiah dianut oleh setiap orang, kenapa kita tidak mendahulukan diri kita sendiri juga?
Kesendirian juga adalah semacam momen-momen berbincang dengan apalah itu namanya Tuhan. Aku baru sadari, dalam kesendirian, kita lebih dekat dengan "hati", dan konon dalam "hati" itulah bersemayam sang ilahi. Tapi Tuhan sekaligus tahu, manusia takut sendiri, maka dibuatlah suruhan untuk berkumpul dalam sebuah jemaah, mengarahkan sesembahan pada sesuatu yang "di luar", supaya mudah bagi manusia, yang enggan menenggelamkan diri pada yang sunyi. Begitu baiknya Tuhan, sampai-sampai mengizinkan manusia untuk mencari Dia dalam keriuhan, padahal Dia juga ada dalam kesunyian. Dalam kesendirian, doa senantiasa kupanjatkan: Tuhan yang sunyi, tak perlu sering berkata-kata. Berilah aku pengertian. Berilah aku pengertian.

Comments
Post a Comment