Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pandemi dari Sudut Pandang Filsafat

(Ditulis untuk rubrik Opini Pikiran Rakyat, tapi ditolak)

Dalam sejarah peradaban manusia, wabah yang menyerang manusia dalam jumlah banyak semacam pandemi yang sedang kita alami ini tentu bukan yang pertama kali. Misalnya, yang paling terkenal, tentu saja wabah yang menyerang Eropa di abad ke-14, yang diakibatkan oleh bakteri yersinia pestis atau disebut juga dengan pes. Wabah yang berlangsung sekitar tujuh tahun tersebut, membunuh 75 hingga 200 juta orang dan masih dianggap sebagai pandemi terburuk sepanjang sejarah. Pandemi lain, yang muncul dalam dua ratus tahun terakhir, adalah kolera. Pandemi kolera diketahui muncul tujuh kali (salah satunya di Indonesia tahun 1961) dan dianggap masih mengancam hingga hari ini.

Pada setiap wabah yang terjadi, tentu saja setiap manusia berhak menafsirnya dari berbagai sudut pandang. Albert Camus (1913 – 1960), filsuf asal Prancis, menuliskan pemikirannya tentang wabah dalam bukunya berjudul La Peste (1947), yang menggambarkan situasi di Kota Oran yang diserang oleh wabah pes. 

Dalam kondisi ancaman wabah mengerikan tersebut, Camus dapat melihat bagaimana reaksi yang beragam, yang dalam novel digambarkan sebagai berikut: ada yang melihatnya sebagai kutukan Tuhan, ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang rasional – persoalan medis semata -, dan ada juga yang menganggapnya sebagai berkah – karena katanya, sebuah penderitaan, menghindarkan kita dari penderitaan yang lainnya -. 

Camus kemudian mengajukan pertanyaan yang barangkali menantang kita semua: Pada titik di mana manusia ada di bawah situasi yang mematikan seperti wabah, apa yang kira-kira akan kita lakukan? Di sini lah pemikiran Camus tujuh puluh tahun silam dan situasi kita hari ini menemukan hubungannya. Pada situasi semacam ini, insting dasar manusia untuk bertahan hidup kemudian ditampakkan, dengan misalnya, memborong bahan makanan, dan melihat orang lain sebagai ancaman. 

Berdasarkan dua premis di atas yang diambil dari novel La Peste karya Albert Camus tersebut, maka pandemi dalam hal ini, pertama, mencerabut kita untuk sementara dari rutinitas keseharian yang normal dan tertib, untuk kemudian sejenak merenungkan keseluruhan kehidupan. Kedua, kita, di sisi lain, diajak untuk mengenali insting purba yang oleh Thomas Hobbes disinggung sebagai homo homini lupus atau diartikan sebagai “manusia adalah serigala bagi sesamanya”. 

Teodise 

Sebagaimana ditulis oleh Camus di atas, perkembangan virus Corona menimbulkan reaksi juga dari kalangan agamawan. Sebelum virus ini mewabah di Indonesia seperti sekarang ini, ada yang sempat menyebut virus ini sebagai tentara Tuhan untuk menghukum suatu kaum (maksudnya, orang-orang Tiongkok), dan ada juga yang mengatakan bahwa Indonesia tidak mungkin terjangkiti Corona karena banyaknya orang yang berwudhu.

Pernyataan-pernyataan semacam itu menjadi semacam ditantang, ketika fakta yang terjadi justru tidak sesuai. Masalah ini, dalam tradisi filsafat disebut dengan teodise – sebuah istilah yang diangkat pertama kali oleh pemikir asal Jerman, Gottfried Leibniz (1646 – 1716) -.

Pada teodise, dibahas masalah terkait hubungan antara Tuhan yang Maha Sempurna, dengan kenyataan dunia yang serba tidak sempurna. Pertanyaannya, jika Tuhan Maha Sempurna, bagaimana bisa, di dunia ini ada kejahatan dan penderitaan – termasuk juga, wabah -? Mengapa Tuhan, dengan segala kuasanya, tidak menghentikannya? Apalagi, melihat korelasinya dengan contoh di atas, Tuhan ternyata juga membiarkan wabah tersebut menyerang orang-orang beragama.

Terhadap pertanyaan tersebut, berbagai respons diajukan dalam sejarah pemikiran, yang mungkin dapat menjadi acuan dalam bagaimana kita melihat virus Corona ini, dalam kacamata yang lebih filosofis. John Hick (1922 – 2012), teolog asal Inggris, mencoba menjawab hal tersebut dengan mengatakan bahwa pada dasarnya, Tuhan menciptakan dunia ini tanpa kejahatan dan penderitaan. Iblis kemudian masuk ke dunia melalui “dosa asal” Adam dan Hawa. Ini hampir senada dengan pernyataan ulama besar dalam sejarah Islam, yaitu Imam Al-Ghazali (1058 – 1111) yang mengatakan bahwa apa yang diciptakan dan terjadi di dunia, merupakan hal yang sudah demikian sempurna adanya (perfect world).

Tentu tidak ada jawaban yang bisa benar-benar memuaskan kita, terlebih dari bagaimana karakter pertanyaan filosofis memang bukan untuk dijawab secara pasti. Hal yang lebih penting adalah kegiatan mengajukan pertanyaan itu sendiri, yang menimbulkan refleksi dan kesadaran yang lebih mendalam pada cara kita memandang sesuatu.

Bagaimanapun, situasi pandemi adalah situasi yang serba tidak pasti. Kita bahkan juga tidak tahu kapan wabah ini berakhir dan akan berkembang hingga seberapa luas. Selain tetap menjaga kesehatan, kita bisa memilih untuk tetap hidup tenang dan berbahagia, tanpa harus larut dalam ledakan kepanikan.

Camus memberi contoh dengan baik, masih dari novelnya berjudul La Peste. Melalui tokoh dr. Bernard Rieux, Camus mengajak kita untuk mementahkan beragam tafsir yang berseliweran. Di tengah wabah yang mematikan sekaligus membingungkan, ia berpendapat bahwa sikap yang benar adalah menerima dengan lapang dada segala ketidakmampuan manusia untuk memaknai kejadian tersebut, dan mencoba hidup berbahagia saja. Pada akhirnya, virus ini menyadarkan kita, bahwa realitas selalu lebih besar dari pikiran kita, dan bahkan dari tafsir agama sekalipun.

Sampul buku La Peste karya Albert Camus

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...