Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Manusia Paripurna dalam Perspektif Nietzsche

(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Manusia Paripurna", 28 Juli 2019 di Rumah Komuji) 



Ketika membicarakan tentang konsep "manusia paripurna", agaknya tidak banyak tokoh dalam filsafat Barat yang membicarakannya secara gamblang. Kebanyakan dari mereka menyisipkannya dalam suatu pemikiran tentang etika, mengenai nilai-nilai yang seyogianya dipegang oleh manusia. 

Misalnya, Aristippus menganggap bahwa kebaikan tertinggi dimulai dari kepuasan ragawi. Sementara Diogenes sebaliknya, kebaikan tertinggi adalah penolakan terhadap kemelekatan dan sikap sinis pada dunia. Atau jika melompat ke zaman Pencerahan di abad ke-18, Immanuel Kant mengatakan bahwa kebaikan tertinggi seyogianya mengandaikan bahwa apa yang kita lakukan punya maksim universal. 

 Namun seorang filsuf di era antara romantik dan modern ada yang dengan berani bicara tentang "manusia paripurna". Namanya Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) dan ia bicara tentang konsep übermensch atau adimanusia. Gaya menulis Nietzsche sangat sastrawi, tapi bukan sastra yang nyaman dibaca dengan berbagai bunga-bunganya. Nietzsche menulis dengan gaya yang menghantam kita setiap saat, sehingga tulisannya sering dijuluki sebagai "martil". 

Bagi Nietzsche, manusia ada pada tegangan, antara hewan dan adimanusia. Berkelindan kita diantara keduanya, apakah tindak tanduk kita membawa kita menjadi budak atau menjadi tuan. Nietzsche menekankan bahwa bermental tuan adalah syarat utama menjadi adimanusia. Memang motif awal Nietzsche adalah mengritisi ajaran umat Nasrani, yang terlampau fatalis dan kurang berani. 

Nietzsche mengatakan bahwa yang terpenting adalah menjalani hidup dengan gagah berani, dan berdiri di atas kaki sendiri. Okelah Nietzsche tidak melibatkan Tuhan dalam hal ini. Memang ia dikenal sebagai filsuf "pembunuh Tuhan" (lewat pernyatannya yang terkenal: Tuhan telah mati) tapi bukan artinya secara literal konsepsi Tuhan ia tiadakan. Yang hendak ia maksudkan adalah untuk menjadi manusia paripurna, hal yang terpenting adalah membunuh segala dogma dan berhala yang mengekang kita. 

Dalam tafsir lain, dogma dan berhala itu tidak melulu agama, melainkan juga sains dan malah filsafat. Kemudian, pada bab lain ia mengatakan tentang tiga metamorfosa ruh, yaitu menjadi unta, singa, dan anak. Unta dianggap sebagai hewan yang menanggung beban. Manusia semacam ini menerima dan patuh saja pada apapun yang diberikan padanya. Sementara tahapan berikutnya adalah singa. Singa kerap memberontak, menginginkan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Manusia semacam ini kerap dinamis dan menginginkan perubahan. Namun metamorfosa final bukanlah menjadi singa, kata Nietzsche, melainkan menjadi anak. Mengapa anak? Mereka sangat imajinatif memandang dunia, dan hanya pikiran sendirinya saja yang menjadi tuan. Bagi seorang anak, bebas saja untuk membayangkan banjir sebagai arena bermain, atau orang terjatuh sebagai bahan tertawaan. Seorang anak menganggap hidup adalah "senda gurau belaka" dan ini dapat diterima dalam banyak konsepsi filosofi yang terdapat dalam agama-agama. 

Masih senada dengan pikiran Nietzsche tentang metamorfosa roh, satu lagi, ia menganggap bahwa ada dua cara memandang hidup, yaitu dengan gaya Apollonian atau Dyonisian. Apollonian berarti bertindak seperti Dewa Apollo, mengandalkan rasionalitas dan pencerahan. Sementara Dyonisian berasal dari Dewa Dyonisus yang bertanggung jawab pada anggur dan pesta perayaan. Hiduplah dengan gaya Dyonisian, kata Nietzsche, agar hidup terasa gelegaknya. Manusia paripurna adalah manusia yang hidup dengan gairah dan "mabuk"-nya, bukan pada akal pikirannya yang seringkali kurang luwes dan malah membosankan. 

Jadi terbayang kurang lebih bagaimana Nietzsche melihat konsep manusia paripurna. Tentu saja ada sejumlah kritik terhadap apa yang ia rumuskan. Misalnya, Nietzsche sendiri sebelas tahun terakhir dalam hidupnya, mengalami kegilaan secara harfiah. Artinya, dapat diasumsikan ia gagal menjadi manusia paripurna sebagaimana yang ia telah pikirkan (walau mungkin bisa jadi, kegilaan adalah bentuk paripurna?). 

Selain itu, pemikiran Nietzsche sering disalahtafsirkan sebagai bentuk arogansi karena terus menerus mengajak kita untuk hanya percaya pada diri sendiri. Padahal, ini sama sekali tidak bertentangan dengan konsep-konsep spiritualitas yang menjadikan Tuhan dan diri sebagai satu kesatuan. Nietzsche justru jengah dengan cara mengonsepsikan Tuhan yang selama ini terjadi, yang meminimalkan potensi dan gairah hidup kita sebagai manusia - itu sebabnya Nietzsche mengatakan bahwa ia hanya akan menyembah pada Tuhan yang bisa menari -. 

Artinya, dapat kita simpulkan bahwa konsepsi manusia paripurna menurut Nietzsche adalah manusia yang bermental tuan, mampu menjadikan hidup ini arena bermain layaknya seorang anak, punya sikap yang kuat terhadap gairah dan "kemabukan", serta membebaskan diri dari dogma dan berhala. 

 Mari membahasnya secara kritis.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...