Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Energi Kecemasan


Hari itu, 20 Maret, saya mendapat dua kali pengalaman visual yang menakjubkan. Setelah akhir Februari lalu saya berjumpa dengan Slamet Abdulsjukur yang masih tetap berkarya di usianya yang 78, sekarang saya berhadapan lagi dengan manula-manula (jika kita sebut manula itu adalah yang  enam puluh tahun ke atas) enerjik yang tetap berkarya secara horizontalistik. Maksudnya horizontalistik, mereka tidak menjauhkan diri dari manusia demi berasketik ria dan mabuk dalam religiusitas vertikal. Para manula tersebut, Dieter Mack dan Awal Uzhata, keduanya sangat enerjik untuk memberikan sesuatu bagi manusia. Semangatnya yang berapi-api membuat aspek fisiologis ke-manula-an-nya tak berarti banyak karena ditelan spirit khas pemuda dua puluh-an.

Dieter Mack adalah profesor dari Jerman kelahiran tahun 1954. Artinya, ia tepat berusia enam puluh di tahun ini. Kehadirannya di Indonesia bukanlah hal yang aneh. Ia menganggap Bali adalah rumah keduanya karena kecintaan yang serius pada gamelan Bali. Untuk ketiga kalinya saya menyaksikan beliau bicara di Bandung ini. Saya tak pernah kehilangan kekaguman padanya bukan hanya disebabkan oleh kecerdasan beliau dalam menjelaskan segala tetek bengek soal musik, melainkan juga bagaimana energi kuat yang sanggup ia tebarkan ketika bicara -yang saya yakini datang bukan hanya dari pengalaman, tapi juga passion yang tinggi dan jujur-. Di tanggal 20 Maret kemarin itu saya menyaksikan kembali Dieter Mack berbicara di Bandung. Sekarang, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjadi panggungnya. Ia mengajarkan tentang pembelajaran musik sambil berdiri, mondar-mandir, dan sesekali berjingkrak mengikuti alunan musik yang ia lafalkan dari mulutnya sendiri. Ia mempraktikkan apa yang dianut oleh dirinya sendiri, "Segala sesuatu yang dilakukan dengan sepenuh hati, akan sampai pada pendengarnya."

Dieter Mack
Di hari yang sama, malam harinya, saya berduet dengan Awal Uzhara untuk membicarakan sebuah film asa Rusia tahun 1928 yang berjudul The Man with A Movie Camera karya Dziga Vertov. Usia Awal Uzhara jauh di atas Dieter Mack. Ia sekarang sudah 82 tahun dan menggunakan tongkat untuk membantunya jalan. Tapi alangkah luar biasa ketika beliau memutuskan untuk mengajar sambil berdiri -walaupun saya tahu itu sangat menyusahkannya-. Dengan bicaranya yang sedikit terbata-bata karena terlalu lama tinggal di Rusia, ia memaparkan pengetahuan filmnya yang segudang tanpa sedikitpun kelihatan capek -meskipun ketika ia mulai bicara waktu sudah menunjukkan pukul delapan dan saya tahu beliau sudah mengajar sedari pagi-. 

Awal Uzhara
Baik Awal Uzhara maupun Dieter Mack mengingatkan saya pada seorang Siddharta Gautama yang pencerahan tertingginya adalah dengan tidak berdiam diri lagi untuk bertapa. Siddharta turun dari tempat samadinya dan berbagi pada banyak orang dengan kecintaan duniawi -yang tidak sama dengan istilah "duniawi" yang kita pahami dalam konteks "nafsu rendah"-. Cinta duniawi yang dimaksud adalah kecintaannya yang bertambah pada manusia. Mereka tidak menyia-nyiakan masa tuanya untuk pergi ke tempat ibadah dan "samadi" disana. Saya dapati informasi ini langsung dari keduanya: Dieter Mack tidak peduli soal agama, sedangkan Awal Uzhara ia mengatakan bahwa sembahyangnya adalah bukan demi Tuhan, tapi demi ketenangannya sendiri.

Martin Heidegger mengatakan bahwa hidup manusia menjadi punya nilai karena fitrahnya sebagai ada-menuju-kematian (being-toward-death). Kematian adalah keniscayaan ontologis agar manusia senantiasa cemas. Namun kecemasan itu, kata Heidegger, adalah elemen penting dalam pembuktian eksistensi manusia. Dengan kecemasan terselubung itu, manusia dihadapkan pada sejumlah pilihan-pilihan bagaimana menyikapi hidupnya yang seolah-olah sia-sia jika dihadapkan pada nihilnya kematian. Ada orang yang membayangkan kematian sebagai keabadian. Dengan demikian ia bisa saja memilih untuk hidup asketik dan konsentrasi untuk hari nanti saja (agama-agama besar getol mengajarkan hal semacam ini). Tapi ada yang memilih untuk tetap tidak tahu dan tetap menerima kecemasannya secara otentik. Menghadapi absurdnya kematian manusia, orang-orang seperti Awal Uzhara dan Dieter Mack memilih untuk enerjik, bergerak, dan mencintai dunia dengan perasaan yang tak terbayangkan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...