Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Akhirnya Tercapai Juga ...

Sewaktu kecil, saya pernah membaca tentang Rene Descartes. Dengan pemahaman seadanya -waktu itu masih kelas 3 atau 4 SD- saya mengingat-ngingat jargon sang filsuf: Aku berpikir maka aku ada. Waktu itu saya coba merumuskan sendiri apa artinya kalimat aneh tersebut. Bapak mencoba menjelaskan tapi saya tidak kunjung paham. Meski demikian, ketertarikan akan Descartes adalah awal mula saya haus akan ilmu pengetahuan. Sejak itu saya membaca tumpukan ensiklopedia dan mengoleksi buku biografi para penemu seperti Albert Einstein, Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell, Wright bersaudara hingga Margaret Mead.

Selalu ada anggapan umum bahwa "Belajar sesuatu itu ada waktunya". Ketika kawan-kawan sebaya mengoleksi lagu Bondan Prakoso dan Enno Lerian, saya dicekoki jazz, The Beatles, dan Michael Franks. Ketika kelas 4 SD -di waktu bebas setelah ujian- teman-teman rata-rata membawa Lego atau mobil-mobilan, saya membawa mikroskop. Semuanya hanya menunjukkan bahwa saya telah menyukai sesuatu yang "tidak pada waktunya". Di mata orang dewasa, saya hanyalah anak yang patut dikasihani karena tidak mengalami satu masa kecil yang penuh kewajaran.

Memang anggapan "belajar sesuatu itu ada waktunya" ada betulnya. Artinya, perangkat pemahaman kita akan berkembang seiring pertumbuhan fisik. Ketika perangkat pemahaman itu semakin lama semakin berkembang, kita akan sanggup memahami sesuatu yang makin kompleks. Namun di sisi lain, saya pun merasa bahwa kalaupun istilahnya bukan belajar, namun ada yang terserap pelan-pelan ke dalam tubuh. Hal yang demikian pun saya tidak merasa tepat menggolongkannya pada memori. Yang diyakini: Tubuh kita, seluruh tubuh kita mencerap dan menyimpan apa-apa yang pernah jadi asupan keseharian. Pada titik ini, apa yang saya cerap sejak kecil tidak terbuang begitu saja seperti buang gas. Kesemuanya mengkristal, membatin, mengendap dan "bersiap untuk dipanggil kapanpun mereka siap".

Akhirnya tercapai juga ... satu cita-cita yang saya incar sejak kecil dulu sebagai bentuk eksternalisasi apa yang sudah dicerap. Cita-cita itu hadir melalui kesempatan yang diberikan oleh Kang Zainal Abidin di kelas pengantar filsafat. Di Fakultas Psikologi tersebut, saya diberi kepercayaan untuk mengajar delapan puluh mahasiswa selama kurang lebih satu jam lima puluh menit. Saya berbagi materi tentang para filsuf alam, Sokrates, Plato, dan Aristoteles dengan gaya yang pernah saya impikan dulu: Memegang mikrofon, mengacungkan telunjuk sesekali, dan dengan sepenuh hati "mengikhtiarkan kebenaran". Pada titik ini, tubuh yang sudah pernah diisi oleh pelbagai pengalaman masa kecil menggeliat dan mengeluarkan sari-sari pengetahuan dengan sangat indah. 

Kamis ini adalah masa yang berharga. Kenapa? Karena saya mengajar materi yang pernah saya kenali sekitar lima belas tahun lalu: Tentang Descartes dan Cogito ergo sum-nya yang fenomenal. Kegembiraan ini bukan hanya sebatas cita-cita yang akhirnya tercapai. Tapi di dalamnya juga terselip doa: Ya Tuhanku, semoga aku termasuk ke dalam orang-orang yang selalu bergairah; menghadapi segala sesuatu seolah-olah untuk pertama kalinya. Melihat daun seolah-olah untuk pertama kali aku melihat daun. Mencium istri seolah-olah untuk pertama kali aku menjalankan ciuman pertama di kala remaja. Karena dunia ini sesungguhnya selalu baru. Setiap saatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...