Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Refleksi dan Kapitalisme


Refleksi disini bukanlah refleksi dalam arti merenung. Ini adalah pengertian refleksi secara sederhana: pijat kaki!

Refleksi adalah salah satu kegiatan favorit saya sebulan sekali. Ini adalah fase dimana saya mengalami relaksasi total dengan cara dipijat di tempat yang adem dan dilatari alunan musik India. Mewah? Ya dan tidak. Dari segi fasilitas dan tingkat kenyamanan, boleh dibilang saya tengah bermewah-mewah. Karena siapa yang tidak merasa jadi raja, ketika kakinya dielus-elus sementara kita sendiri tiduran? Tapi harganya sendiri bisa dibilang murah, cuma lima puluh ribu sekali pijit. Di tempat refleksi terkenal di Sukajadi saja, harganya cuma lebih mahal dua ribu dari pasaran pada umumnya. 

Namun inilah yang disebut oleh kawan saya, Tobing, sebagai, "Sebetulnya seluruh istirahat kita, digunakan juga untuk bekerja di hari berikutnya." Maksudnya, jika kita menggunakan perspektif weekday dan weekend: Apa arti dari weekend selain daripada sebuah persiapan untuk menghadapi weekday? Dalam arti kata lain, weekend itu adalah sebuah ilusi! Sejatinya, kapitalisme adalah sistem yang membuat seluruh hidup manusia adalah "weekday yang diselingi istirahat". Kawan saya yang lain, Esoy, menyebutkan bahwa, "Sesungguhnya kita kerja 24 jam."

Lagi-lagi, kegiatan semacam refleksi ini luput juga dari kritik Marx terhadap kapitalisme. Marx memandang bahwa kapitalisme mengalienasi manusia dari keseharian dan juga dirinya, tapi lupa bahwa kapitalisme dengan segera menyediakan penawarnya. Jika problemnya adalah fisik dan kebugaran (kapitalisme tentu mengerti betul mensana in corpore sano), maka mereka menyediakan suatu tempat dimana para buruh bisa me-re-charge kekuatannya untuk bekerja kembali menjadi sekrup kapitalis. Ini seperti ironi di mal-mal besar: Selalu ada tempat refleksi, karena kaki-kaki konsumen pasti pegal setelah seharian berjalan-jalan mengonsumsi!

Tentu saja bagi kamu yang merasakan faedah refleksi, tulisan saya ini seperti yang lebay (pun saya mengatakan ini lebay karena saya juga merasakan faedah refleksi). Ini adalah semacam penyadaran saja, bahwa semakin hari semakin terasa bahwa kapitalisme bergerak pelan tapi pasti ke wilayah-wilayah yang sepertinya terlalu "mulia" untuk dikritisi. Kita bisa mengritik kapitalisme ketika mereka mempekerjakan buruh dengan upah rendah tapi jam kerja yang tinggi, kita bisa melontarkan serangan terhadap kapitalisme yang sering memberi janji-janji suci tapi nyatanya tujuannya sederhana: produk laku, tapi kita sulit untuk melepaskan kritik terhadap kapitalisme yang nyata-nyata memberi manfaat bagi tubuh kita, seperti refleksi atau -yang sudah saya pernah kemukakan dulu- facial.

Kita cuma bisa menyadarkan diri bahwa seluruh kehidupan ini sudah dikonstruksi sedemikian rupa dalam jaring-jaring yang kita tidak sanggup lepas daripadanya: Mitos kebahagiaan dihadirkan oleh kapitalisme (rumah, mobil, asuransi), setelah itu ada "mitos untuk mendapatkan kebahagiaan" bernama kerja dan kerja setiap hari. Capek? Jangan jadi alasan, karena kami punya: pijat kaki!




Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...