Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Demotivasi dan Anjing


Dalam beberapa hari ini, Demotivasi 2 sedang dikirim-kirimkan pada mereka yang memesan sejak sebelum buku dicetak atau biasa disebut pre-order. Buku-buku ini rata-rata dikirimkan melalui jasa ekspedisi dan pada jarak dekat sekalipun, biasanya perlu minimal satu hari hingga sampai ke tangan penerima (jika dikirim hari ini, maka setidaknya besok baru sampai). Salah seorang pembeli, teman saya, Pangestu Hning Bhawana atau biasa dipanggil Estu, bertanya-tanya mengapa pesanannya tidak kunjung tiba padahal ia telah menunggu tiga hari. Pada keluhan-keluhan semacam itu saya hanya bisa mengatakan, "Tunggu saja." 

Di hari keempat, Estu mengirim pesan berupa gambar bahwa bukunya telah sampai, tetapi dalam keadaan rusak. Rusak kenapa? Rupanya kurir ekspedisi melemparkan buku tersebut dan jatuh di kandang anjing. Si anjing mengoyak-ngoyak si buku hingga sebagian besar isinya tidak bisa dibaca. Saya turut sedih dengan kejadian itu dan mengirimkan buku yang baru sebagai pengganti. Di waktu bersamaan, Estu mengirimkan foto si anjing yang entah kenapa nampak murung. 

Saya senyum-senyum melihat kaitan antara demotivasi dan anjing. Di esai pertama dalam buku Demotivasi 2, saya menyebutkan bahwa demotivasi bukanlah sesuatu yang baru. Maksudnya, dalam dunia pemikiran, sudah ada gagasan yang serupa, yang tertuang dalam -isme -isme seperti sinisme, pesimisme, absurdisme dan nihilisme - dari mereka, demotivasi mengambil inspirasi. Sinisme diambil dari istilah dalam bahasa Latin yaitu canninus yang artinya "seperti anjing" (dog-like). Secara prinsip, sinisme menolak segala hal tentang masyarakat dan berbagai produk yang dihasilkannya, serta memilih untuk hidup sesuai kehendak alam. Pertanyaannya, dengan prinsip semacam itu, mengapa mereka disebut "seperti anjing"? 

Saya menemukan jawaban yang lumayan memuaskan dari buku berjudul Classical Cynism: A Critical Study (1996) yang ditulis oleh Luis E. Navia. Di dalamnya dituliskan pendapat Aristoteles tentang mengapa kaum sinis ini disebut "seperti anjing" - Aristoteles berkomentar dengan nada yang kurang positif. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut: (1) Mereka membedakan cara hidup dirinya dengan orang lain lalu bangga dengan perbedaan tersebut. Seperti anjing, mereka juga makan dan bercinta di depan umum, berjalan tanpa alas kaki dan tidur di tong atau di persimpangan jalan; (2) anjing adalah binatang yang tidak tahu malu dan kaum sinis membanggakan rasa ke-tidaktahumalu-an tersebut; (3) anjing adalah penjaga yang baik dan kaum sinis adalah penjaga bagi prinsip-prinsip filsafatnya sendiri; (4) anjing adalah hewan yang mampu membedakan mana yang kawan dan mana yang lawan. Seorang sinis akan ramah terhadap kawannya, yaitu mereka yang cocok dengan filsafatnya dan akan galak terhadap lawannya yang dianggap tidak cocok dengan filsafatnya. 

Buku demotivasi dikoyak-koyak anjing dan bagi saya ini peristiwa yang sungguh filosofis. Saya tidak bisa menerka apa maksud si anjing merusak buku tersebut, tetapi saya bisa berimajinasi: anjing itu adalah perwujudan dari sinisme yang ingin membaca bagaimana jadinya sinisme di masa kini. Namun karena jari-jarinya tidak cukup ideal untuk membuka halaman demi halaman dari buku, ia malah merusak dengan cakar-cakarnya. Meski demikian, saya yakin si anjing sudah menyerap intisarinya. Itu sebabnya, ia muram.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...