Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Mimpi yang Aneh


Mungkin ini adalah periode terlama saya tidak menulis blog. Sepanjang bulan November, saya sama sekali tidak punya waktu (atau tidak punya ide) untuk menerbitkan posting-posting baru. Padahal, sejak punya blog lima tahun silam, saya selalu bisa mengisi minimal dua kali dalam sebulan. Jujur memang ketiadaan posting tersebut adalah karena sesuatu yang sedang saya kerjakan, dan barangkali dapat dikatakan sebagai "mimpi yang aneh". Mengapa? Begini ceritanya:

Selesai menggarap buku Nasib Manusia, saya tiba-tiba bersemangat untuk menulis buku yang lain, berjudul Filsafat Komunikasi: Dari Sokrates Hingga Buddhisme Zen. Karena memang suka dan mendalami filsafat sudah sejak lama, maka bagi saya sendiri, tidak susah untuk menuliskannya. Dalam waktu hampir sebulan setengah, saya sudah merampungkan enam dari sepuluh bab yang direncanakan. Proses menulis saya tersebut ternyata tercium oleh kawan saya, seorang direktur penerbitan yang bernaung di bawah sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Tanah Air. Ia senang dengan rencana saya, dan berniat untuk membuatkan satu peluncuran buku besar-besaran. Bukan hanya terkait buku Filsafat Komunikasi, melainkan juga buku sebelumnya, Nasib Manusia -yang memang belum pernah resmi diluncurkan-. Kawan saya yang bernama Syahriar itu tidak sendirian merencanakan hal tersebut. Ada juga Pak Sufyan, direktur setingkat di atasnya, yang turut antusias dengan gelaran ini.

Jadilah, lewat suatu rapat yang digelar secara singkat di Starbucks Coffee di Paris van Java (tanggal rapat adalah 28 November), diputuskan bahwa acara peluncuran buku akan dilaksanakan pada tanggal 12 Desember -atau dalam waktu dua minggu saja!-. Tadi sudah diceritakan bahwa saya masih menyisakan empat bab lagi agar Filsafat Komunikasi dapat rampung seluruhnya. Artinya, selain menyiapkan acara yang kata Syahriar dan Pak Sufyan adalah acara peluncuran yang sangat besar, saya juga mesti menyelesaikan sisa bab dalam waktu kurang dari empat belas hari (tentu karena ada periode waktu cetak mencetak yang pasti memakan waktu minimal tiga hari). Sebagai rincian, yang harus saya siapkan adalah: Menulis naskah karena Pak Sufyan menginginkan adanya semacam monolog yang agak teatrikal, menyiapkan bumper acara berupa tayangan multimedia yang gegap gempita, menyiapkan film yang berisi kisah hidup Pak Awal Uzhara beserta subtitle dalam bahasa Indonesia (ini agak sulit karena film itu sendiri disajikan dalam bahasa Rusia), menyusun daftar undangan untuk siapa saja yang kira-kira mesti menghadiri acara ini dari pihak saya, serta menyiapkan orasi kebudayaan yang akan dibawakan oleh saya sendiri sebagai penampilan pamungkas.

Dua minggu persiapan merupakan salah satu pengalaman paling menegangkan sekaligus paling buruk dalam hidup saya (kedua setelah resital pertama saya tahun 2006). Tidur tidak enak, makan tidak enak, juga gerak-gerik menjadi teramat gelisah dan susah sekali untuk fokus berbicara pada siapapun juga. Mengapa? Karena ini adalah peluncuran buku atas nama saya sendiri. Tidak hanya satu, tapi dua buku sekaligus. Pak Sufyan mengatakan bahwa yang hadir adalah pucuk tertinggi pimpinan yakni ketua yayasan, rektor, dekan dari seluruh fakultas, dan perwakilan dari kedutaan besar Rusia. Mungkin enak jika saya hanya tinggal duduk dan mengikuti seluruh acara dengan memasang wajah sumringah. Namun sialnya, Syahriar dan Pak Sufyan meminta saya untuk turut mengonsep acara, juga bermain di dalamnya. Ini adalah pertaruhan besar.

Sebelum lupa, saya beritahukan bahwa judul acara ini adalah Manusia, Mau Ke Mana? Peluncuran dan Interpretasi Seni Buku Nasib Manusia dan Filsafat Komunikasi. H-3 jelang acara, umbul-umbulnya sudah terpasang dari mulai jalan masuk kampus, hingga ke area fakultas tempat saya mengajar. Acaranya sendiri dilaksanakan di aula lantai empat Fakultas Komunikasi dan Bisnis, tempat yang cukup besar dan mungkin sanggup menampung tiga ratus hingga empat ratus orang. Sejak umbul-umbul itu terpasang, saya seperti dibangunkan dari tidur panjang untuk masuk pada mimpi yang lain. Saya dipaksa sadar bahwa ini adalah acara besar dan jangan sekali-kali menganggapnya mainan. Namun kenyataan bahwa acara tersebut adalah acara besar, merupakan sesuatu yang saya katakan di awal: Mimpi yang aneh.

Singkat cerita, acara itu berjalan juga. Segalanya berlangsung lancar: Bumper, film, teater yang dimainkan oleh Sophan Ajie (monolog), Ammy Kurniawan (musik), dan Gaby (ballerina); sambutan demi sambutan mulai dari dekan, wakil rektor, hingga ketua yayasan; ulasan singkat dari pakar semiotika Pak Yasraf Amir Piliang, dan orasi kebudayaan dari saya sendiri yang termasuk di dalamnya adalah permainan gitar klasik solo, sekaligus gitar jazz manouche duet bersama violinis Ammy Kurniawan. Kemudian tanpa terasa, acara selama 120 menit itu berakhir dan yang tersisa tinggal ucapan selamat demi ucapan selamat. Saya tertegun oleh mimpi yang aneh. Ternyata segala yang saya pelajari dan jalani secara konsisten selama ini (gitar klasik, gitar jazz, menulis, bicara, mengurus acara, hingga mengapresiasi seni), semuanya termanifestasikan dalam satu acara besar. Saya selalu menganggap bahwa apa-apa yang saya lakukan tersebut, merupakan suatu perjalanan di "jalan yang sunyi", yang tidak mungkin dihargai orang lain secara meriah dan penuh hingar bingar. 

Di tengah ketertegunan, di bawah kesadaran yang tipis akibat mimpi yang aneh tersebut, tiba-tiba saya ingat kata-kata Kahlil Gibran yang tertulis dalam Pasir dan Buih, "Jika kamu menyanyikan sesuatu dengan sepenuh hati, di Gurun Sahara yang paling sunyi sekalipun, ada, ada yang mendengarkanmu." Saya berdoa agar tidak lama-lama berada dalam euforia. Saya tidak ingin hati saya tercederai oleh balutan lampu-lampu dan pujian yang berderai bagai mata orang yang tengah mengiris bawang. Saya segera pergi ke Gurun Sahara untuk menyanyi seorang diri. Biar saja mimpi yang aneh sesekali datang, ketika saya tengah berteduh di oase kesementaraan. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...