Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Menjelang Terbitnya Demotivasi 2

Kumpulan Kalimat Demotivasi 2: Panduan Hidup Bahagia untuk Medioker

 

Sudah lama saya bercita-cita menulis Demotivasi jilid dua, tetapi baru benar-benar menuliskannya pada akhir Juni 2021, tepatnya di masa-masa terkena virus Covid. Waktu itu, suasananya memang mendukung: saya tidak punya banyak opsi dalam berkegiatan dan memang kondisi terkena Covid membuat suasana hidup terasa lebih muram mood yang cocok untuk menulis sesuatu yang demotivasional. Entah kenapa, Demotivasi 2 ini rasanya lebih serius dan juga kelam. Mungkin dalam rentang waktu antara Demotivasi 1 dan Demotivasi 2 saya ada waktu memikirkan ulang tentang ide tersebut dan terinspirasi dari beberapa diskusi tentang demotivasi itu sendiri. 

Awalnya demotivasi ditulis untuk senang-senang saja. Isinya tidak terlalu diatur harus bagaimana dan yang penting berisi olok-olok terhadap motivator beserta kata-kata motivasionalnya. Namun pada Demotivasi 2 ini, saya memikirkan beberapa hal, misalnya soal paradigma motivasional yang terikat dengan prinsip-prinsip liberal - kapitalistik, asal-usul pemikiran motivasional dari buku William Wattles berjudul The Science of Getting Rich, demotivasi sebagai sebuah permainan bahasa, dan beberapa lainnya. Unsur jenaka tentu tetap dipertahankan, misalnya dengan adanya doa demotivasi lengkap dengan terjemahan Arab-nya agar terkesan relijius dan ilustrasi yang dibuat oleh Mufti "Amenk" Priyanka yang gambar-gambarnya terkenal agak "anti art."

Di tengah proses penulisan, Gema Ganeswara menawarkan diri untuk menyumbangkan foto-foto miliknya agar bisa dimuat di buku. Tentu ini menyenangkan sekali! Saya memang berharap buku ini juga diwarnai oleh ide-ide lain. Akhirnya diputuskan bahwa sepuluh foto kiriman Gema akan ditempelkan kata-kata demotivasional. O iya, terjemahan doa demotivasi ke bahasa Arab dilakukan oleh Akbar Rafsanjani, pegiat film asal Aceh yang saya kenal lewat Kelas Isolasi. Ternyata tidak salah mengajak Akbar, bahasa Arabnya sangat baik dan ia menggarap proyek ini dengan sangat serius, sampai-sampai meminta temannya yang ada di Saudi untuk melakukan proofreading

Untuk kata pengantar, jika pada Demotivasi 1 dituliskan oleh Romo A. Setyo Wibowo, maka di kesempatan kali ini saya meminta tolong Mbak Saras Dewi. Sama seperti di jilid pertama, edisi kedua ini juga diterbitkan oleh penerbit Buruan and Co. Kapan kira-kira buku ini terbit? Saat saya sedang menulis ini, naskah sedang ada dalam proses finalisasi oleh editor. Jika proses tersebut telah rampung, maka langkah selanjutnya tinggal melakukan layout dan ini memerlukan waktu sekitar seminggu. Jadi, jika semua berjalan lancar, maka diproyeksikan Demotivasi 2 naik cetak antara tanggal 17 - 20 Agustus 2021. 

Kalau ditanya mengapa saya tertarik dengan proyek demotivasi, sejujurnya saya tidak bisa menjawabnya secara memuaskan. Semua tercetus begitu saja. Namun jika ingin digali lagi, mungkin saya bisa menjawab begini: ada masa-masa saya menjadi orang yang sangat motivasional, tetapi suatu rentetan kejadian buruk sejak akhir 2017 hingga tahun 2020 membuat saya terpuruk dan merasa bahwa hidup yang motivasional sama sekali tidak ada artinya. Dipicu dari berbagai keputusasaan tersebut, saya menulis tentang demotivasi dan rupanya membuahkan perasaan yang menyenangkan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...