Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Bergelut dengan Logika Sensasi


Sebenarnya sudah sejak bulan April 2019, saya ditawari oleh Pak Hendro Wiyanto untuk menerjemahkan tulisan Gilles Deleuze yang berjudul Francis Bacon: The Logic of Sensation, yang aslinya ditulis dalam bahasa Prancis dan terbit tahun 1981. Buku yang saya terjemahkan adalah versi Inggris (2003) yang sudah dialihbahasakan oleh Daniel W. Smith. 

Saat saya membaca-baca teks ini, sungguh isinya sukar sekali dipahami. Bahkan banyak bagian yang saya bingung: "Deleuze sebenarnya mau membicarakan apa?" Hal yang lebih menyulitkan, Deleuze banyak membicarakan lukisan karya Francis Bacon (Bacon pelukis ya, bukan Bacon filsafat ilmu), tapi lukisan itu sendiri tidak dicantumkan di dalam buku. Artinya, untuk bisa memahami konteks tulisan Deleuze, mesti sering-sering sambil membuka internet dan mencari lukisan yang dimaksud. Bisa dimaklumi, di bagian pengantar penerjemah, disebutkan bahwa jika gambar reproduksi lukisan disertakan, maka bukunya menjadi tebal sekali dan sebaiknya berwarna. Dalam arti kata lain, kurang ekonomis. 

Sempat merasa buntu hingga lebih dari satu setengah tahun karena tidak kunjung memahami maksud Deleuze, akhirnya saya menemukan titik terang saat tiba-tiba teringat nama Dwihandono Ahmad alias Doni, kurator muda yang keahliannya memang di bidang seni lukis. Kata Doni, teks ini memang rumit, salah satunya karena Deleuze menggunakan banyak istilah seni lukis yang teramat teknis (selain dari gaya pemaparan Deleuze yang memang rumit). Doni kemudian berperan penting dalam penerjemahan ini, selain bisa diajak konsultasi perkara teknis peristilahan, ia juga banyak mengoreksi terjemahan saya yang bisa dikatakan, berantakan, karena ya, dalam banyak hal, diterjemahkan secara "intuitif" saja, menerka-nerka maksudnya apa, padahal sama sekali tidak paham. Sampai pada satu titik saya berpendapat, untuk apa saya berusaha membuat pembaca mengerti Deleuze, sementara dia sendiri enggan berusaha agar dimengerti pembacanya? Tidakkah sebagai "penerjemah yang baik", saya harus setia pada intensi Deleuze untuk "tidak usah dimengerti"? 

Jadi, tentang apa sebenarnya The Logic of Sensation, yang akhirnya Pak Hendro dan saya menyepakatinya untuk diterjemahkan dengan judul Logika Sensasi ini? Meski menerjemahkan, saya tidak bisa dikatakan mengerti keseluruhannya. Namun pada pokoknya, Deleuze hendak mengatakan bahwa karya lukis bukan untuk dimengerti dengan cara-cara yang naratif, ilustratif, ataupun representatif. Mengambil contoh lukisan karya Francis Bacon, Deleuze seolah hendak berkata, lihatlah karya-karya Bacon, dia tidak hendak menceritakan sesuatu, melainkan membuat pelihatnya merasakan sesuatu, yang langsung menuju daging, tidak melalui otak, dan langsung berupa sensasi! Bagaimana cara Bacon melakukannya? Nah, itu yang akan dibahas dalam buku. 

Menariknya, jika kita membayangkan lukisan semacam apa yang mampu memberikan sensasi, mungkin kita akan langsung membayangkan karya-karya abstrak, yang tidak merepresentasikan sesuatu apa pun (sehingga tidak membuat kita membayangkan segala sesuatu di luar lukisan). Namun dalam karya-karya Bacon, kata Deleuze, justru banyak dilukis beraneka sosok - yang disebut sebagai Figur -, yang sebenarnya berpotensi membuat kita bertanya-tanya: Siapakah sosok itu? Mengapa dia ada di sana? Apa yang hendak ia sampaikan? Apa yang menjadi latar dari sosok tersebut? Namun Bacon, lewat serangkaian tekniknya, mampu, menurut Deleuze, melepaskan Figur dari kesan naratif, ilustratif, dan representatif - misalnya, dengan menempatkannya pada bidang yang mengisolasi, dengan "menggosok" bagian tertentu dari lukisan agar buram. 

Melalui pergulatan dengan teks tersebut juga, mungkin saya paham, meski bisa jadi ini semacam pembenaran saja, bahwa Deleuze tidak ingin sepenuhnya dimengerti, melainkan ingin menyuguhkan hal yang sama dengan jika kita melihat karya Bacon: sensasi. Harus diakui, meski banyak bagian yang sukar dipahami, tetapi teks Deleuze ini nikmat untuk dibaca. Jadi, nantikan saja terbitnya Logika Sensasi, yang akhirnya berhasil diselesaikan terjemahannya setelah hampir tiga tahun berada di tangan saya. Oh ya, kata pengantar buku ini juga ditulis oleh Martin Suryajaya, yang menurut saya, brilian sekali. 

 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...