Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Berdagang Ayam Crispy

Sejak akhir Desember 2025 kemarin, Nadya dan saya memutuskan untuk berdagang. Kapok dengan dagang roti tahun 2024 yang kurang laku, akhirnya kami memutuskan berdagang yang "aman-aman saja" yaitu ayam crispy. Ayam crispy ini kami beli lisensi atau franchise saja supaya tidak ribet. Bahan-bahan sudah ada, kami tinggal masak. Nama produknya Pride Chicken. Setelah survei sana-sini, kami memutuskan untuk menyewa tempat di daerah Ujungberung. Wilayah yang sebenarnya jauh dari lokasi kediaman kami, tetapi tidak apa-apa, siapa tahu hoki kami ada di sana.  Singkat cerita, saya mengikuti training sekitar empat hari sebelum akhirnya pihak Pride Chicken mengirimkan gerobak ke lokasi tempat kami berjualan. Seminggu awal, saya kuat berjualan sendirian. Saya menggoreng ayam, melayani pembeli, dan beres-beres. Namun lama kelamaan, badan ini remuk juga. Apalagi untuk sampai ke lokasi jualan, perlu sambung menyambung ojek baik online maupun offline .  Akhirnya kami memutuskan merekrut pegaw...

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Komentar atas Madilog (Bab Logika Mistika)

    Demikianlah firman Maha Dewa Rah: Ptah: maka timbullah bumi dan langit. Ptah: maka timbullah bintang dan udara. Ptah: maka timbullah Sungai Nil dan daratan. Ptah: maka timbullah tanah subur dan gurun. Jika saya silap mencatat (di luar kepala) firman Maha Dewa Rah itu, maka silapnya itu tak akan beberapa. Tetapi saya pikir maknanya sudah tersimpul pada catatan di atas ini. Firman Maha Dewa Rah sudah tentu banyak juga kawannya di dunia sekarang. Firman Maha Dewa Rah sudah cukup memberi gambaran tentang Logika Mistika, atau logika yang berdasarkan rohani. Bagian ini memperlihatkan bagaimana Tan Malaka menjelaskan apa yang ia sebut sebagai Logika Mistika, sebuah cara berpikir yang mendasarkan penjelasan dunia pada kekuatan rohani atau supranatural. Ia mencontohkannya melalui kepercayaan pada Dewa Rah dalam kebudayaan Mesir Kuno. Tan Malaka juga sekaligus hendak menunjukkan bahwa Logika Mistika bukanlah hal asing atau terbatas pada satu peradaban, melainkan suatu pola berpik...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Yang Tuna Nada, Yang Berjaya

(artikel diturunkan dari Pop Hari Ini )    Media sosial adalah tempat orang bisa mengunggah konten apapun untuk dikonsumsi publik. Meski demikian, konten-konten tertentu, yang mengganggu kenyamanan pandangan, sadis, bikin eneg dan risih, tentu bisa dilaporkan ramai-ramai untuk kemudian dihapus oleh admin media sosial. Nah, tapi kenapa yang kerap dilaporkan dan diturunkan itu hanya hal-hal yang mengganggu pandangan mata? Bagaimana dengan konten yang mengganggu pendengaran alias bikin telinga tidak nyaman? Rasanya jarang orang melakukan report ramai-ramai hanya karena mereka tidak suka pada aspek audio dari suatu konten. Alasannya mungkin sederhana: Kalau tidak suka suaranya, tinggal di- skip saja kontennya, atau di- mute saja audionya. Menariknya, alasan yang sama belum tentu bisa diterapkan pada konten visual (hal yang mengganggu mata kadangkala tidak hanya di- skip , tapi juga sekaligus di- report ).  Salah satu conton konten yang mengganggu pendengaran adalah orang m...

Musik Latar di Kafe: Gangguan Menyenangkan dan Pemecah Keheningan

(artikel diturunkan dari Pop Hari Ini )  Sebagai orang yang mencari nafkah dari menulis, faktor suasana merupakan hal yang krusial dalam membangun mood agar bisa menuangkan kata-kata ke dalam tulisan dengan lancar. Atas dasar itu, saya sering mencari kafe yang nyaman dengan pertimbangan tidak hanya makanan dan kopinya yang enak ataupun suasananya yang tenang, melainkan juga musik apa yang biasa diputar. Musik ini, bagi saya, sangat mempengaruhi mood dan konsentrasi.  Kafe yang memutar musik populer seperti misalnya Tulus atau Adhitia Sofyan tentu bagus dan membuat suasana menjadi hidup. Namun hati-hati dengan popularitas sebuah lagu, yang bisa jadi malah menghanyutkan kita untuk ikut bernyanyi, alih-alih berkonsentrasi memeras gagasan. Menulis melibatkan proses berpikir dan proses berpikir tidak jarang dilakukan dengan cara “berdialog dengan diri sendiri”. Bagaimana mungkin bisa berdialog dengan lancar jika ada “gangguan menyenangkan” berupa nyanyian misalnya: “ Ku percaya s...