Skip to main content

Posts

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Pandemi dari Sudut Pandang Filsafat

(Ditulis untuk rubrik Opini Pikiran Rakyat, tapi ditolak) Dalam sejarah peradaban manusia, wabah yang menyerang manusia dalam jumlah banyak semacam pandemi yang sedang kita alami ini tentu bukan yang pertama kali. Misalnya, yang paling terkenal, tentu saja wabah yang menyerang Eropa di abad ke-14, yang diakibatkan oleh bakteri yersinia pestis atau disebut juga dengan pes. Wabah yang berlangsung sekitar tujuh tahun tersebut, membunuh 75 hingga 200 juta orang dan masih dianggap sebagai pandemi terburuk sepanjang sejarah. Pandemi lain, yang muncul dalam dua ratus tahun terakhir, adalah kolera. Pandemi kolera diketahui muncul tujuh kali (salah satunya di Indonesia tahun 1961) dan dianggap masih mengancam hingga hari ini. Pada setiap wabah yang terjadi, tentu saja setiap manusia berhak menafsirnya dari berbagai sudut pandang. Albert Camus (1913 – 1960), filsuf asal Prancis, menuliskan pemikirannya tentang wabah dalam bukunya berjudul La Peste (1947), yang menggambarkan situasi d...

Demotivasi, Obat Pahit Abad Ke-21

Sudah lama saya merasa ada yang salah dengan berbagai acara motivasional di televisi ataupun kutipan motivasi yang bertebaran di media sosial ataupun Whatsapp group. Perasaan itu kira-kira begini: Mengapa saya tidak sedikitpun merasa termotivasi dengan hal tersebut? Dibaca tentu dibaca, diamini tentu diamini, dan kadang-kadang, harus diakui, ungkapan-ungkapan motivasional itu lumayan ada yang bagus juga. Tapi sekali lagi, mengapa saya tidak sedikitpun merasa termotivasi dengan hal tersebut? Ilustrasi oleh M. Rico Wicaksono (Instagram: @matjan_ningratz) Tapi kita sepertinya tidak hidup di era di mana sikap anti-motivasional dipandang sebagai sikap yang mesti dihargai. Kurang dari itu, malah sikap anti-motivasional lebih baik dianggap sebagai sikap yang tidak populer, tidak terpuji, dan bahkan penyakit menular yang harus dijauhi. Iya, para motivator terkenal itu sering mengatakan, jangan dekat-dekat orang yang berpikiran negatif, nanti kita yang berpikiran positif ikut terbawa....

Dari Diskusi Literasi Road to Bandung Writers Festival

Saya diajak oleh teman, Deni "Kochun" Ramdani untuk menjadi project officer untuk acara bertajuk Bandung Writers Festival . Saya iyakan meski tahu bahwa ini adalah tugas yang tidak ringan, apalagi akan berlangsung nyaris sepanjang tahun. Rangkaian acara Bandung Writers Festival dimulai pada tanggal 21 - 23 Februari yang diberi judul Road to Bandung Writers Festival: Sastra dan Kearifan Urban . Acaranya macam-macam dan detailnya bisa dicek di instagram @bandungwritersfestival. Tulisan di bawah ini adalah rangkuman dari salah satu mata acaranya yaitu Diskusi Literasi. Diskusi Literasi berlangsung sebanyak lima kali dalam tiga hari.  Diskusi Literasi #1  Sastra Masa Kini Narasumber: Zulfa Nasrulloh Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival Masa kini adalah masa ketika ukuran kebenaran menjadi serba nisbi. Tidak terkecuali di wilayah sastra, yang mana setiap orang tiba-riba menciptakan ukuran sendiri untuk menilai mana sastra yang bagus dan mana yang kurang bagus....

Belajar dari Hidup Seneca: Bolehkah Filsuf Sekaligus Orang Kaya?

Bunuh Diri Seneca (1871) karya Manuel Dominguez Sanchez diambil dari sini . Seneca (4 SM - 65) adalah pemikir Romawi yang juga sekaligus penasihat dari Nero, kaisar Romawi yang terkenal tiran dan kejam. Seneca menulis sejumlah karya termasuk tragedi Medea , Thyestes , dan Phaedra , serta pemikiran filosofi yang beberapa diantaranya dituangkan ke dalam buku berjudul Naturales Quaestiones dan surat-surat berjudul Epistulae Morales ad Lucilium . Secara garis besar, pemikiran Seneca adalah tentang stoisisme, suatu aliran pemikiran yang mengajarkan untuk berjarak dari "keinginan", "kehendak", dan "kecenderungan" sebagai cara untuk mencapai ketenangan batin dalam tujuannya mencapai kebahagiaan ( eudaimonia ). Orang-orang stoik biasanya cenderung tenang, bahkan dingin - seperti tidak memiliki emosi - sebagai cara mereka untuk tidak terlalu terlibat secara berlebihan dengan hidup. Namun di sisi lain, Seneca adalah orang dengan kekayaan berlimpah. Ia m...

Ludwig dan Keluarga Wittgenstein

Gambar diambil dari sini . Ludwig Wittgenstein adalah filsuf asal Wina dari awal abad ke-20 yang pemikirannya bertalian dengan bahasa dan dituangkan dalam dua bukunya yaitu Tractatus Logico Philosophicus (1921) dan Philosophical Investigations (1953). Buku kedua berjarak 22 tahun dari buku pertama dan isinya justru merevisi pemikirannya terdahulu. Di buku pertama, Wittgenstein mengatakan bahwa bahasa adalah "gambar fakta". Artinya, jika ada gambar, atau kata, maka ada faktanya. Jika sebuah gambar tidak memiliki basis fakta, maka itu omong kosong, atau lebih baik dikatakan nilai kebenarannya hanyalah psikologis ketimbang logis. Di buku kedua, Wittgenstein mengakui bahwa dulu dia sangat kaku dalam memahami bahasa. Ia lebih setuju kalau bahasa bukan perkara benar atau tidaknya, melainkan bagaimana penempatannya dalam satu konteks permainan ( language game ). Jadi kalau kita bilang "Cus!", meski tidak ada relasi logisnya, tapi punya nilai kebenaran dalam pe...

Rashomon dan Alih Wahana Sastra ke Teater

(Ditulis sebagai suplemen diskusi Maca #9 tentang "Teater Naskah Adaptasi", Bandung Creative Hub, 6 Oktober 2019) Sudah lama saya merasa bahwa literatur Jepang adalah "sesuatu". Selain mahakarya Musashi dan Taiko karya Eiji Yoshikawa, yang menyuguhkan romantisme historis, Jepang juga melahirkan tulisan-tulisan gelap, absurd, psikologis dan eksistensialistik. Para penulisnya, sebut saja, Yukio Mishima, Ryonusuke Akutagawa, dan yang paling baru, Haruki Murakami.  Mishima dan Murakami tentu saja menarik dan "aneh", tapi mari membahas lebih banyak tentang Akutagawa, sebagaimana topik tulisan ini yang akan membahas karyanya yang diadaptasi dengan unik oleh Zulfa Nasrulloh, seorang kawan penyair yang kemudian akan menjalani debutnya sebagai sutradara teater.  Selain terpesona oleh tulisan Akutagawa yang gelap dan dalam, saya menduga Zulfa juga terinspirasi oleh sutradara film Jepang, Akira Kurosawa. Kurosawa menyutradarai film Rashomon (19...

Menjadi Pimpro Harpa Nusantara

Tawaran untuk menjadi pimpinan produksi Harpa Nusantara itu saya ingat sekali, tanggal 1 Maret 2019. Waktu itu Sisca dan suami datang ke restoran Truno 58, karena saya sedang ada tampil di sana. Sisca bertanya apakah kira-kira yang bisa dilakukan untuk konsernya? Karena dia kurang sreg dengan konsep konser yang megah dan melibatkan banyak artis (komersil) - seperti yang katanya sudah dibicarakan dengan beberapa temannya -.  Inilah yang membuat saya senang mendengarnya. Sisca, si pemain guzheng dan harpa yang nyaris lekat dengan dunia " weddingan " tersebut, ternyata sedang mencari bentuk pertunjukan yang kiranya lebih relevan dengan renungan dan pencariannya. Saya bisa membayangkan apa yang ada di benaknya: Tidakkah harus ada hal yang lebih agung, yang mesti dicapai lewat seni, yang tentunya sekaligus lebih ugahari daripada panggung nikahan ke nikahan? Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat pada panggung nikahan, tapi seni, bagaimanapun, puny...