Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
![]() |
| Gambar diambil dari sini. |
Ludwig Wittgenstein adalah filsuf asal Wina dari awal abad ke-20 yang pemikirannya bertalian dengan bahasa dan dituangkan dalam dua bukunya yaitu Tractatus Logico Philosophicus (1921) dan Philosophical Investigations (1953). Buku kedua berjarak 22 tahun dari buku pertama dan isinya justru merevisi pemikirannya terdahulu. Di buku pertama, Wittgenstein mengatakan bahwa bahasa adalah "gambar fakta". Artinya, jika ada gambar, atau kata, maka ada faktanya. Jika sebuah gambar tidak memiliki basis fakta, maka itu omong kosong, atau lebih baik dikatakan nilai kebenarannya hanyalah psikologis ketimbang logis.
Di buku kedua, Wittgenstein mengakui bahwa dulu dia sangat kaku dalam memahami bahasa. Ia lebih setuju kalau bahasa bukan perkara benar atau tidaknya, melainkan bagaimana penempatannya dalam satu konteks permainan (language game). Jadi kalau kita bilang "Cus!", meski tidak ada relasi logisnya, tapi punya nilai kebenaran dalam permainan capsah.
Namun bukan pemikiran Ludwig saja yang akan dibahas dalam tulisan ini, melainkan keluarga Wittgenstein yang sangat menarik. Keluarga Wittgenstein terdiri dari sembilan bersaudara dan bisa dikatakan sebagai keluarga terkaya di Wina saat itu. Untuk menggambarkan kekayaannya, bisa diilustrasikan sebagai berikut: Secara reguler, komposer Gustav Mahler dan Johannes Brahms menggelar konser di kediaman keluarga tersebut. Lalu sang ayah, Karl, adalah orang yang rutin membiayai pameran-pameran Auguste Rodin. Lalu adik perempuan Ludwig, Margaret, pernah dilukis oleh Gustav Klimt pada tahun 1905.
Selain Ludwig, kakaknya, Karl, adalah juga "orang sukses", dengan karirnya sebagai pianis bertangan satu - satu tangannya diamputasi karena perang -. Meski demikian, tiga dari sembilan bersaudara keluarga ini meninggal akibat bunuh diri.
Pemikiran-pemikiran mungkin lebih mudah disampaikan dalam konteks sosial-ekonomi-politik yang "menang". Dalam kehidupan kontemporer pun demikian, orang kaya dan berkuasa tampak lebih didengar meski secara argumentatif sebenarnya omong kosong. Pertarungan wacana harus dimenangkan sebelum narasi-narasi disampaikan. Ya tidak artinya harus jadi punya kekuasaan dulu. Wacana bisa dimenangkan lewat idealisme dan konsistensi terus menerus, yang pada akhirnya membuat kekuasaan itu sendiri menoleh dan bahkan tunduk.
Namun kemenangan wacana saja tidak cukup. Ludwig adalah contoh filsuf yang sudah memenangkan pertarungan wacana akibat posisi sosial keluarganya yang tinggi, tapi kemudian ia menulis pemikiran penting, yang dapat dikatakan juga mengandung kerendahan hati (karena itu tadi, pemikirannya bersedia dikoreksi oleh dirinya sendiri). Kemenangan, kekayaan dan kecerdasan adalah tanggung jawab besar bagi kemanusiaan.

Comments
Post a Comment