Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Saya diajak oleh teman, Deni "Kochun" Ramdani untuk menjadi project officer untuk acara bertajuk Bandung Writers Festival. Saya iyakan meski tahu bahwa ini adalah tugas yang tidak ringan, apalagi akan berlangsung nyaris sepanjang tahun. Rangkaian acara Bandung Writers Festival dimulai pada tanggal 21 - 23 Februari yang diberi judul Road to Bandung Writers Festival: Sastra dan Kearifan Urban. Acaranya macam-macam dan detailnya bisa dicek di instagram @bandungwritersfestival. Tulisan di bawah ini adalah rangkuman dari salah satu mata acaranya yaitu Diskusi Literasi. Diskusi Literasi berlangsung sebanyak lima kali dalam tiga hari.
Diskusi Literasi #1
Sastra Masa Kini
Narasumber: Zulfa Nasrulloh
| Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival |
Masa kini adalah masa ketika ukuran kebenaran menjadi serba nisbi. Tidak terkecuali di wilayah sastra, yang mana setiap orang tiba-riba menciptakan ukuran sendiri untuk menilai mana sastra yang bagus dan mana yang kurang bagus. Ini memang semacam konsekuensi dari zaman, yang memungkinkan sastra paling adiluhung sekalipun, dapat bersanding dengan sastra populer yang mungkin tidak sesuai dengan “kaidah” dari “kanon sastra”. Sastra masa kini juga adalah sastra yang membuka kemungkinan lebih besar terhadap metode alih wahana, yang membuat sastra dapat diterima dalam bentuk teater, film, musik, dan bahkan kutipan-kutipan di instagram.
Diskusi Literasi #2
Sastra Sunda di Era Digital
Narasumber: Deri Hudaya
| Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival |
Digitalisasi ternyata tidak serta merta memberangus sastra Sunda, terutama kaitannya dengan semakin masuknya pengaruh-pengaruh dari luar budaya lokal. Justru digitalisasi adalah peluang bagi kita untuk mempopulerkan bahasa-bahasa “yang nyaris terpinggirkan”, tentunya dengan gaya dan ekspresi baru. Tidak terkecuali dengan sastra Sunda, yang sekarang justru semakin mudah diakses, dan dapat tersebar melalui teknologi baru, seperti misalnya Keblueks: Kumpulan Sajak Sunda Digital dari Wahyu Heriyadi yang dapat diperoleh dengan cara memindai QR Code.
Diskusi Literasi #3
Dunia Digital: Kabar Baik bagi Literasi Anak?
Santi Indra Astuti
| Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival |
Dunia digital bukanlah hal yang mesti dijauhi secara berlebihan. Hal yang mesti dilakukan adalah justru mengakrabinya, sambil memahami bagaimana bentuk digitalisasi yang justru dapat mendorong anak untuk lebih kreatif dan berwawasan. Pada dasarnya, literasi digital justru harus dimulai dari orangtua terlebih dahulu. Orangtua mesti menjadi lingkaran terdalam pertama yang memahami nilai-nilai dalam dunia digital, sebelum meluas perlahan ke ruang lingkup sekolah, komunitas, hingga negara. Digitalisasi baru akan menjadi kabar baik bagi literasi anak, jika ada kerjasama dan koordinasi yang kuat antara unsur-unsur di atas.
Diskusi Literasi #4
Sastra dan Ruang Publik
Narasumber: Rosihan Fahmi
| Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival |
Bagi sebagian orang, sastra selama ini dipandang sebagai wilayah yang eksklusif. Namun pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, terutama karena tidak adanya upaya untuk menghadirkannya di tengah publik. Rindu Menanti adalah gerakan yang menghadirkan sastra di ruang publik, terutama dengan program Halte Sastra, yang menempatkan berbagai kutipan sastra beserta siluet para sastrawan di belasan halte di Kota Bandung. Sebagian dari hasil kerja tersebut masih bertahan hingga hari ini, tapi sebagian besar sudah rusak atau lebih tepatnya, dirusak. Pengrusakan tersebut dapat dinilai sebagai bagian dari respons publik terhadap sastra, selain dari bentuk respons lain yang melegakan, yaitu perlindungan menyeluruh dari tukang parkir, preman, tukang jualan, dan masyarakat sekitar, demi tetap tegaknya Halte Sastra.
Sastra dan Kritisisme
Narasumber: Herry “Ucok” Sutresna
![]() |
| Foto: Dokumentasi Bandung Writers Festival |
Sastra yang kritis bisa ada hubungannya dengan perubahan, bisa juga tidak ada hubungannya sama sekali. Namun setidaknya, sastra yang kritis, meski disampaikan lewat budaya yang paling massal dan populer sekalipun, tetap dapat diterima sebagai gerbang menuju literatur kritis selanjutnya, dan diharapkan timbul menjadi kesadaran baru yang kuat. Meski demikian, budaya massa tetap mengandung dua sisi mata uang. Sisi pertama, dapat menjadi “gerbong” bagi pemikiran kritis agar dapat diterima masyarakat secara lebih luas – walau tetap harus ditindaklanjuti dengan gerakan aktivasi yang konkrit -. Namun di sisi yang lain, budaya massa menciptakan desakralisasi dan sekaligus menghilangkan “transendensi” dari apa yang dikritiknya. Bisa jadi, pembaca sastra kritis ini menjadi kritis, tapi tidak benar-benar menghayati karena apa yang diterimanya hanya bagian dari histeria massal yang tidak berujung apa-apa.

Comments
Post a Comment