Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pantulan




Beberapa tahun lalu, saya pernah berkonsultasi ke psikolog pernikahan. Ada sofa empuk, aroma teh hangat, dan tatapan yang penuh perhatian di seberang saya. Namun yang paling membekas justru bukan nasihat panjang atau petuah bijak. Psikolog itu, ternyata, lebih seperti sebuah cermin. Ia mendengarkan dengan penuh kesabaran, menyisipkan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, lalu perlahan menggali lebih dalam. Tetapi apa yang ia dengar, ia tanyakan, dan ia gali, pada dasarnya hanyalah pikiran dan perasaan saya sendiri. Ia memantulkan kembali, dan saya melihat diri saya dari sudut yang berbeda. 

Dari situ saya mulai bertanya-tanya: mungkinkah kehadiran orang lain seperti teman, sahabat, pasangan juga punya fungsi serupa? Kita sering mengira kita bercerita untuk memberi tahu orang lain apa yang kita alami, padahal diam-diam kita sedang berbicara kepada diri sendiri. Umpan balik mereka memang penting, tetapi inti dari percakapan itu adalah pantulan. Kata-kata kita keluar, membentur dinding empati mereka, lalu kembali lagi ke kita dengan bentuk yang sedikit berbeda: kadang lebih jernih, kadang lebih tajam. 

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya teman dekat, pasangan, atau bahkan ruang untuk bercerita? Saya rasa menulis bisa menjadi cermin yang setia. Dengan menulis, kita mengeluarkan pikiran dari kepala, menaruhnya di luar diri, lalu menatapnya kembali. Saat membaca ulang tulisan itu, kita bisa terkejut menemukan lapisan-lapisan emosi yang sebelumnya tak kita sadari. Membaca pun demikian. Kalimat-kalimat dalam buku sering kali berbicara seolah khusus untuk kita, memicu percakapan batin yang memantulkan gagasan dan perasaan kita sendiri. 

Saya jadi teringat kata-kata Sokrates: “Pengetahuan sejati datang dari dalam diri”. Mungkin inilah yang ia maksud bahwa semua jawaban yang kita cari sebenarnya sudah ada di kedalaman kita. Hanya saja, kita butuh pantulan untuk menemukannya. Psikolog, sahabat, buku, atau bahkan kesunyian, semuanya hanyalah medium untuk menyingkap lapisan-lapisan dalam itu. Sama seperti cermin tidak menciptakan wajah, pantulan juga tidak menciptakan kebenaran, melainkan menampakkannya. 

Di titik ini saya mulai berpikir: apakah doa juga termasuk bentuk pantulan? Saat kita berdoa, kita menyampaikan keinginan, kegelisahan, atau rasa syukur kepada Tuhan. Kita mengira kita sedang berbicara kepada sesuatu di luar diri kita, tetapi seringkali, dalam proses itu, kita justru mendengar kembali suara hati kita sendiri. Mungkin memang Tuhan selalu mendengar, tetapi doa juga membuat kita menjadi pendengar bagi diri kita. Ia mengubah keinginan samar menjadi kata yang jelas, mengubah rasa tak bernama menjadi ungkapan yang nyata. 

Akhirnya saya menyadari, pantulan itu tidak hanya membantu kita memahami apa yang ada di pikiran, tetapi juga siapa kita sebenarnya. Kadang pantulan itu menyenangkan, kadang menyakitkan. Tetapi tanpanya, kita akan berjalan tanpa pernah benar-benar melihat wajah kita sendiri. Entah melalui orang lain, tulisan, buku, atau doa, kita semua butuh pantulan untuk bisa mengenal diri. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...