Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Lesser Evil


Menjelang pemilu, argumen lesser evil mengemuka: tidak ada capres yang bagus, tetapi kita memilih supaya capres yang buruk tidak berkuasa. Persoalannya, mengacu pada ukuran mana suatu capres lebih buruk dari yang lainnya? Oke, dalam konteks pemilu di Indonesia, Prabowo dikenal sebagai pelanggar HAM berat. Namun apakah dengan demikian, capres lainnya, yang sama-sama punya rekam jejak buruk, dianggap "lebih baik"? Takaran semacam ini bagi sebagian orang mungkin dipandang mudah sebagai dasar pengambilan kesimpulan. Namun dalam sejarahnya, argumen lesser evil tidak selalu berhasil. Sebagai contoh, pertimbangan Amerika dalam mengebom Hiroshima dan Nagasaki pastilah mengacu pada argumen lesser evil: "Yang kami lakukan ini buruk, tetapi lebih baik ketimbang membiarkan Jepang tetap bertahan di kancah Perang Dunia II". Pada titik itu terdapat bias bahwa takaran mana yang lebih jahat mengacu pada si pengebom. Iya, dalam segala putusan berlandaskan argumen lesser evil, terdapat bayangan atas "kebaikan yang lebih tinggi" (greater good), yang menjadi alasan bagi banyak kejahatan kemudian dijustifikasi secara moral (orang korupsi demi kebaikan kelompoknya, orang mempersekusi demi kemurnian agamanya). 

Dalam argumen lesser evil juga secara implisit menekankan pentingnya bertindak ketimbang membiarkan: bertindak (jahat) lebih baik daripada membiarkan pihak lain yang bertindak (jahat). Kita bisa ambil contoh dari eksperimen pikiran yang cukup terkenal bernama The Trolley Problem. Dalam dilema tersebut, kita diminta memilih apakah membiarkan kereta menabrak lima orang atau menarik tuas supaya "hanya" menabrak satu orang? Ini adalah argumen lesser evil, antara bertindak atau membiarkan, dengan risiko yang setelah dikalkulasi (mau korban satu atau lima?). Membiarkan dapat diartikan sebagai "cuci tangan", "lepas tanggung jawab", dan "tidak mau ikut campur" dalam segala keburukan. Sementara itu, bertindak dapat diartikan sebagai "terlibat", "mau ambil risiko", dan "bertanggung jawab" dalam segala keburukan. Poin ini juga yang kerap digunakan untuk membela argumen lesser evil, "Mending gue mau pake hak pilih, daripada elu diem aja tapi ntar sama-sama ikut protes." 

Problemnya adalah apakah tidak bertindak / membiarkan adalah sama dengan "cuci tangan" dan "lepas tanggung jawab"? Bagaimana dengan tidak bertindak/ membiarkan adalah semacam tindakan juga? Tindakan yang dimaksud dalam hal ini adalah enggan memilih pada opsi yang diberikan atau malah keberatan dengan sistem yang menciptakan opsi-opsi tersebut. The Trolley Problem, bagi saya, adalah eksperimen pikiran yang bermasalah. Orang bisa saja menawarkan opsi lain di luar menarik tuas atau membiarkan. Misalnya saja, melakukan segala cara untuk mensabotase si kereta agar tidak menabrak siapapun. Dengan demikian, menolak argumen lesser evil dalam konteks pemilu dengan misalnya, golput, adalah sah-sah saja dengan pertimbangan bahwa secara sikap memang kita menolak pemimpin manapun yang melakukan kejahatan. Alasannya, lesser evil tetaplah evil! Selain itu, golput juga adalah sebentuk tindakan yang bisa jadi menunjukkan bahwa kita tidak setuju pada sistem yang mengizinkan opsi-opsi (yang buruk) itu. 

Penting untuk diingat bahwa demokrasi bukanlah sebatas politik elektoral. Demokrasi adalah segala bentuk keterlibatan di ruang publik yang ditujukan demi kepentingan publik. Demokrasi adalah jalan untuk menampilkan "yang politis" agar tampil ke permukaan (seberbeda apapun). Di luar ide-ide yang muncul pada saat "pesta demokrasi" alias pemilu, demokrasi akan tetap berjalan sebagai bagian dari kehidupan bernegara. Jadi, jangan khawatir negara menjadi buruk hanya karena menolak argumen lesser evil dengan cara golput. Khawatirlah jika demokrasi gagal menampilkan pluralitas dalam berpendapat. Demokrasi yang baik, adalah demokrasi yang menerima golput sebagai konsekuensi dari sistem dan opsi-opsi yang buruk.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...