Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kelas


Perspektif kelas mengubah segalanya kalau tidak bisa dikatakan memutarbalikkan pandangan kita tentang dunia. Dulu saya tergila-gila dengan yang namanya sufisme dan menganggapnya sebagai pandangan yang sejati tentang dunia. Sufisme bahkan menurut saya terlalu sempurna, suatu pemahaman yang berada di singgasana, sampai-sampai mereka yang mengkritiknya saya tuduh sebagai "tidak paham" atau "belum sampai". Setelah memiliki perspektif kelas, sufisme menjadi paham yang tidak kebal kritik. Sufisme bisa jadi keren, tetapi aliran tersebut bisa dikritik sebagai aliran yang terlampau fokus pada "pemenuhan batin sendiri", termasuk mensimplifikasi problem kemiskinan dan eksploitasi sebagai "ketidakmampuan orang untuk naik pada tahap marifat sehingga kerap mengeluh dan menyalahkan keadaan". Bahkan sufisme juga bisa dikritik sebagai paham yang "asyik sendiri", enggan mengartikulasikan pencerahannya pada orang lain karena dianggap "tidak selevel". Tidakkah dengan demikian sufisme menjadi aliran yang individualistis? 

Perspektif kelas membuat kita tidak cepat-cepat masuk pada argumen moral. Pernah muncul di timeline Twitter/ X, ada anak yang menggambar alat kelamin di papan tulis sehingga menimbulkan hujatan dari netizen. Netizen menganggap anak itu kurang ajar, tidak dididik dengan baik, dan perlu didisiplinkan. Perspektif kelas membuat kita melihat dengan cara yang sama sekali lain: bagaimana jika anak itu tidak cukup mendapat didikan dari orang tua, karena orang tuanya sibuk bekerja, tenaganya diperas habis oleh perusahaan, sehingga tidak punya waktu yang memadai untuk mengajarkan moral pada anak-anaknya? Bayangkan orang tua yang berasal dari kelas pekerja, mungkin mereka harus pergi jam lima subuh dari rumah, bekerja sampai jam lima sore dan karena macet yang parah, baru sampai rumah pukul delapan atau malah sembilan malam. Dengan sisa waktu dan tenaga yang tinggal sedikit, bagaimana mereka bisa membimbing anak-anaknya? 

Perspektif kelas membuat kita melihat kedermawanan dari sisi yang lain. Bahwa kebaikan hati seseorang untuk memberi tidak bisa melulu dipandang sebagai "kebaikan". Bagaimana jika memberi adalah cara dia untuk "mencuci" dirinya dari perasaan bersalah karena telah mengeksploitasi? Maksudnya, uang yang diperolehnya itu tidak sepenuhnya "halal" karena ada keringat para pekerja di dalamnya. Alih-alih bersikap adil pada para pekerja, seseorang itu malah memberikan sedekah yang diukur berdasarkan keikhlasannya saja. Artinya, ia memberi bukan karena prinsip keadilan, tapi prinsip kerelaan. Prinsip kerelaan ini belum tentu adil secara matematis, tapi mungkin adil secara psikologis (psikologis dirinya sendiri). 

Perspektif kelas membuat kita memandang konsep keluarga dengan cara lain. Keluarga sakinah yang disirami kebaikan moral bisa dipandang sebagai unit yang mempertahankan properti privat untuk kelompoknya sendiri. Keluarga adalah bentuk egoisme dan individualisme juga, tetapi lebih susah untuk dikritisi karena seolah-olah punya basis kolektivisme (apalagi keluarga besar). Bahkan dalam ide membangun keluarga itu sendiri, sudah tampak bibit-bibit penguasaan properti privat. Misalnya dengan mencari calon pasangan yang "satu level" entah dalam hal pendidikan atau latar belakang ekonomi. Semua itu merupakan motif subliminal untuk penguasaan properti privat agar "harta saya ini tidak kemana-mana". Jika memang membangun keluarga didasari oleh prinsip keadilan, mengapa tidak mencari calon pasangan yang beda level sekalian seperti dalam kisah telenovela? Hal ini sukar terjadi dan memang seolah lebih cocok untuk tetap berada dalam telenovela. 

Hampir mirip dengan argumen terhadap sufisme sebenarnya, tetapi secara lebih luas, perspektif kelas juga membuat saya agak kurang sreg memandang gagasan tentang mindfulness. Prinsip kepenuhan pikiran semacam itu kadang hanya menjadi pembenaran untuk abai terhadap masalah-masalah struktural. Terdapat kepasrahan dalam menerima hidup dengan cara "hadir sepenuhnya" dengan menerima secara metafisis segala orang, benda-benda, dan kondisi, tanpa enggan menelusuri lebih jauh mengapa semuanya terjadi dengan cara demikian. Saat saya duduk di kafe minum kopi, saya menikmati sepenuhnya kopi itu, menikmati momen itu, tanpa perlu membayangkan bagaimana segelas kopi bisa hadir ke hadapan saya, yang mungkin di baliknya terdapat banyak masalah (ekploitasi terhadap petani kopi, eksploitasi terhadap barista). Pada argumen mindfulness, pikiran-pikiran kritis semacam itu dianggap overthinking, bikin hidup tidak nikmat dan malah mengganggu "momen egois" dari si individu. 

Yah, tapi itu bukan berarti perspektif kelas tidak bisa dikritik juga. Perspektif kelas dituding sebagai reduksionis, membuat kita melihat segala sesuatunya "tidak lebih daripada". Kita terus-terusan melihat ke belakang segala sesuatu tetapi lupa pada "segala sesuatu" yang tampil di hadapan dan butuh perhatian. Namun justru di situlah letak konfliknya, tentang mengapa argumen kiri dan kanan sukar sekali didamaikan. Si kanan akan mengatakan: udah sih, emang dunia ini berjalan dengan cara seperti ini, nikmati saja (salah satunya dengan "hadir penuh" pada setiap momen). Si kiri akan mengatakan: emang iya, dunia harusnya berjalan dengan cara seperti ini? Bagaimana bisa aku menikmati dan hadir penuh, kalau di sana sini terjadi masalah struktural? Bukankah "hadir penuh" tidak lebih daripada "memikirkan aku dan duniaku" saja?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...