Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Imajinasi


Imajinasi mungkin bisa diduga sebagai kemampuan khas manusia. Imajinasi membuat kita mampu membayangkan hal-hal yang tidak ada di hadapan atau bahkan belum ada. Kita bisa mengimajinasikan bagaimana masa depan hidup bersama seseorang meski hal tersebut belum terjadi. Kita bisa mengimajinasikan kebahagiaan meski kebahagiaan itu belum dirasakan sekarang. Kita bisa mengimajinasikan Tuhan dan hidup setelah mati meskipun sebagian dari bayangan tersebut dibangun dari unsur-unsur yang pernah kita ketahui secara pasti: wujud Tuhan mungkin kita bayangkan sebagai cahaya yang besar (maka itu harus pernah melihat cahaya) dan kehidupan setelah mati kita bayangkan sebagai suatu tempat yang indah dengan sungai mengalir (maka itu harus pernah berada di sebuah tempat yang indah dan pernah melihat sungai mengalir). 

Imajinasi juga dapat berupa suatu kondisi masyarakat yang ideal. Misalnya, masyarakat yang setiap individunya tidak memiliki suatu properti pun secara pribadi karena semuanya dikelola bersama-sama. Atau bisa juga membayangkan masyarakat tanpa hierarki dan segala keputusan diambil secara kolektif berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat. Semua dimulai dari imajinasi dan disitulah tindakan-tindakan kita ditentukan. 

Saya belum tamat membaca Castoriadis, tetapi beberapa argumennya memantik beberapa pemikiran tentang imajinasi (yang karena belum tamatnya ini, bisa jadi saya salah mengartikan Castoriadis). Berbagai revolusi bisa jadi dimulai dari imajinasi. Revolusi Prancis misalnya, berangkat dari bayangan tentang masyarakat yang berhak menentukan kehendaknya sendiri tanpa harus tunduk pada absolutisme raja. Untuk mewujudkan imajinasinya itu, rakyat kemudian bergerak melakukan perubahan besar-besaran. Entah berapa banyak contoh lainnya terkait gerakan berbasis imajinasi, mulai dari imajinasi tentang masyarakat komunis hingga masyarakat primitivis. 

Hidup dalam bayangan bisa jadi sangat membahagiakan, meskipun kenyataan sulit dicapai. Kita bisa bahagia saat berupaya mewujudkan imajinasi tentang masyarakat komunis meski fakta hidup sehari-hari berada dalam kerangkeng kapitalisme. Kita bisa bahagia saat berupaya mewujudkan imajinasi tentang masyarakat egaliter dan inklusif meski sehari-hari berada dalam kuasa patriarki dan dominasi hegemoni lainnya. Kebahagiaan manusia, jangan-jangan, ada pada keberhasilan-keberhasilan mewujudkan hal-hal dalam imajinasinya. Hal ini termasuk dalam hal menjalani perintah agama, yang dilakukan karena memenuhi bayangan seseorang tentang Kebaikan versi Tuhan. Dalam kepatuhan-kepatuhan itu, dibayangkanlah pembalasan di surga, bahkan dibayangkan juga pembalasan di dunia. 

Pertanyaannya, bagaimana jika imajinasi itu terwujud secara riil, konkret? Lucunya, terkadang manusia takut dengan imajinasi yang berhasil direalisasikan! Mengapa? Karena apa yang terjadi seringkali berbeda dengan apa yang dibayangkan. Hal yang benar-benar terjadi biasanya menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang tak terduga. Misalnya, tidak terbayang sebelumnya bahwa imajinasi Hegel tentang masyarakat yang ideal etis ternyata menjadi pemicu munculnya kelas borjuis yang menguasai alat produksi. Saat imajinasi Hegel tersebut berhasil diwujudkan, orang-orang mulai membayangkan rupa masyarakat yang lain, bahkan ada juga yang membayangkan rupa masyarakat yang telah lampau - seperti sebagian orang kita hari ini yang mewacanakan imajinasi tentang masyarakat di era Orde Baru. 

Dari imajinasi ke imajinasi itulah masyarakat menyandarkan tindakannya dan mendefinisikan apa yang menjadi kebahagiaan versinya. Namun hal-hal tertentu menjadi membahagiakan jika tetap bermukim dalam imajinasi. Imajinasi yang terwujud, kadang, terlalu mengerikan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...