Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Mengajar Filsafat Pendidikan



Beberapa kali memberi materi tentang filsafat pendidikan, membuat saya semakin bingung tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu dilakukan (tipikal belajar filsafat, semakin dipelajari semakin bingung). Awalnya, saya mudah untuk mengatakan bahwa pendidikan yang bersifat perenialistik dan esensialistik itu "berbahaya". Perenialisme, secara sederhana, diartikan sebagai pendidikan yang mengacu pada "teks-teks babon", belajar dari yang lampau, klasik, dan terbukti "abadi" (seperti arti kata "perenial" itu sendiri). Dalam satu kalimat, kita bisa mengartikan perenialisme seperti apa yang dikatakan oleh Isaac Newton: "Standing on the shoulders of giant". Esensialisme kurang lebih mirip, tetapi dalam konteks pengetahuan atau skill tertentu yang dianggap lebih "mendasar", seperti yang dipraktikkan dalam artes liberales di Abad Pertengahan atau mungkin jika diilustrasikan di masa sekarang lebih seperti "MKU". Bedanya, esensialisme lebih pada pengetahuan atau skill yang "babon", sementara perenialisme lebih pada tokoh atau teks, misalnya, menganggap teks-teks Aristoteles, Plato, Freud, hingga Dostoyevsky sebagai sesuatu yang primer untuk dipelajari, sementara teks-teks berikutnya dianggap lebih sekunder. Mengapa "berbahaya"? Gampangnya, karena kita cenderung terpatok pada hal-hal di masa silam yang mungkin sudah kekurangan relevansinya di masa kini. Bagaimana teks Plato menjawab persoalan pencurian data digital? Apakah The Brothers Karamazov-nya Dostoevsky dapat mengerti persoalan algoritma? 

Tentu "maksud" dari perenialisme tidak sesimplistik demikian. Bahkan mereka yang menganut filsafat pendidikan lainnya, yang bisa dikatakan berseberangan, seperti progresivisme (contohnya, J.J. Rousseau, John Dewey, atau Rabindranath Tagore), mungkin juga adalah seorang perenialis dan esensialis dalam artian, mereka pembaca-pembaca yang hebat, teoritisi jempolan, yang kemungkinan besar pernah sangat tekun membaca "teks-teks babon". Progresivisme mengandaikan bahwa murid-murid bukanlah "proyek masa lalu", melainkan mesti dihadapkan langsung dengan kondisi tempatnya hidup. Jika dahulu orang belajar berburu hewan atau bercocok tanam untuk bertahan hidup, di masa kini mungkin orang mesti dibekali kemampuan bermedsos agar bisa bertahan hidup. Bagi progresivisme, untuk apa kembali ke cara berpikir masa silam? Murid-murid ini bukan suksesi pemikir sebelumnya, melainkan mesti diajari cara berpikir yang lebih baru, relevan, dan progresif. Pertanyaannya, apakah perenialisme dan esensialisme mesti dipertentangkan dengan progresivisme? 

Keadaan menjadi bertambah rumit jika kita tambahkan beberapa gagasan lain seperti pedagogi kritis-nya Paulo Freire yang menolak "pendidikan gaya bank", yaitu gaya pedagogi yang membuat murid-murid hanya dicekoki apa kata guru tanpa bisa benar-benar bersikap kritis dan mempertanyakan. Sekilas, memang perenialisme dapat membuat kita membayangkan "pendidikan gaya bank" karena memang doktrinnya mengharuskan guru menjadi orang yang berwibawa, dihormati, dan menjadi sentral dalam kegiatan belajar - mengajar. Freire mengajak guru untuk menjadi fasilitator, mengajak murid-muridnya untuk mengritisi keadaan sekitarnya, dan tidak terjebak pada pelajaran-pelajaran teoritis yang tidak ada hubungannya dengan lingkungan tempat murid-murid itu hidup. Freire berpendapat: “The reading of the world must precede the reading of the word.” Tentu saja, sebagai seorang Marxis, ia tidak hanya menginginkan pedagogi yang kritis dan relevan, tapi juga mesti berbasis kesadaran kelas. Posisinya jelas, bahwa pendidikan di sini bertujuan membebaskan, terutama dari kungkungan kebodohan yang sifatnya struktural dan bermodus penindasan. Pandangan Freire di sini menarik, karena guru, tidak seperti di aliran perenialisme, esensialisme, ataupun progresivisme, mungkin tidak perlu banyak-banyak memberikan materi, tetapi lebih banyak "memancing", "memprovokasi", membuat murid-murid bertanya dan merenungkan suatu isu. Lagi-lagi saya mengajukan pertanyaan yang sama, apakah perlu pedagogi kritis dipertentangkan dengan aliran lainnya yang seolah berseberangan? 

Tentunya, dengan ditambah pandangan dari Noam Chomsky misalnya, yang melihat kelompok intelektual sebagai "kelompok terspesialisasi" yang cenderung memihak rezim (meski diembel-embeli "demokrasi"), konstruktivisme Jean Piaget, yang melihat tahapan perkembangan anak dalam kategorisasi tertentu, pandangan eksistensialisme yang melihat pendidikan sebagai "eksistensi mendahului esensi", atau pemikiran radikal Ivan Illich tentang deschooling society, Rudolf Steiner dengan pendekatan spiritualnya, jadi, bagaimana "semestinya" pendidikan itu? Masing-masing dari para pemikir itu, pada dasarnya, memiliki asumsi tersendiri tentang kodrat manusia dan ke mana mereka mesti diarahkan. Pertanyaan dari para peserta yang belajar filsafat pendidikan ini, awalnya, dapat diprediksi: "Jadi, kita harus memilih yang mana?" Namun lama-kelamaan, saat opsi itu kian banyak dan tak terbendung, hingga mereka mempelajari lebih dari empat atau lima pemikiran, pertanyaan "harusnya bagaimana" itu tidak muncul lagi. Mereka, termasuk juga saya, sadar bahwa belajar filsafat bukanlah tentang memilih yang mana untuk dianut, tapi kebijaksanaan yang muncul dari "tegangan antara keseluruhan yang 'benar'" dan "kemampuan untuk memilih manapun secara sadar dan bertanggungjawab". 

Jadi, bagaimana seharusnya pendidikan itu? Bagi saya, bekali mereka dengan "teks-teks babon", karena tulisan-tulisan tersebut terbukti sudah "dibaptis oleh waktu" (kesampingkan terlebih dahulu faktor kolonialisme), perkuat dengan kemampuan dasar a la esensialis seperti logika, retorika (agar mampu menalar dengan tertib dan koheren), bekali kemampuan kritis yang mampu melihat ke balik segala seperti yang diajarkan Freire dan Chomsky, dan lain-lainnya dalam porsi yang berimbang, sehingga murid, siapapun itu, bisa menyetel pandangan tergantung situasi. Bahkan dalam kondisi yang semakin matang, -isme -isme itu tak lagi diperlukan, karena tidakkah pendidikan itu, alih-alih mengarahkan kita menjadi pakar, justru mengarahkan kita untuk menjadi manusia?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...