Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Dalam Mahabharata, terdapat satu kisah yang cukup terkenal bernama Bhagavad Gita. Ini adalah cerita tentang bagaimana kegalauan Arjuna ketika akan berhadapan dengan saudara-saudaranya sendiri yaitu Kurawa. Arjuna kemudian mengadukan keluh kesahnya ini pada Dewa Krishna tentang dilema moral apakah ia sebaiknya berhenti atau meneruskan pertarungan walaupun dengan risiko membunuhi saudara-saudaranya. Jawaban Dewa Krishna adalah, "Kamu adalah prajurit, tugasmu berperang. Biarkan mencabut nyawa menjadi urusanku."
Etika yang ditawarkan Bhagavad Gita cukup jelas. Moralitas tertinggi dari bekerja adalah pekerjaan itu sendiri dan bukan konsekuensi dari pekerjaannya. Ini mungkin juga semacam seruan bagi kita yang kadangkala meremehkan pekerjaan orang lain yang gajinya kecil atau punya nilai status sosial rendah di mata masyarakat. Mengacu pada apa yang diucap oleh Dewa Krishna, mereka adalah mulia jika bekerja sepenuh hati.
Kemudian dunia modern mengenal konsep profesionalisme dalam pekerjaan yang juga mengandung etikanya tersendiri. Sekilas, etika dalam profesionalisme ini sejalan dengan apa yang digariskan dalam Bhagavad Gita, bahwa keduanya haruslah bekerja keras dalam bidangnya. Namun profesionalisme ini, jika kita perhatikan, basis dari bekerja kerasnya adalah terlebih dahulu setelah mengetahui konsekuensinya. Para profesional dapat didefinisikan sebagai mereka yang bekerja sesuai dengan apa yang sudah dibayarkan kepadanya. Jika ia dibayar satu juta, maka ia harus bekerja seharga satu juta itu. Jika ia dibayar seratus ribu, maka ia harus bekerja seharga seratus ribu itu. Jika ia bekerja di bawah harga yang dibayarkan kepadanya, maka ia gagal secara etis atau kita biasa menyematkan predikat kepadanya yaitu "tidak profesional".
Tapi agaknya dunia modern dengan profesionalismenya tidak memberi tempat bagi etika Bhagavad Gita. Bhagavad Gita justru berbicara tentang 'lupakanlah konsekuensi'. Manusia harus bekerja, karena bekerja adalah suatu kebaikan pada dirinya sendiri. Dewa Krishna seolah mau berkata tentang, "Jikapun tidak ada uang atau imbalannya, pekerjaan itu harus dilakukan sepenuh hati." Karena, iya, dalam Bhagavad Gita, konsekuensi dari pekerjaan kita bukanlah urusan kita, seperti halnya Dewa Krishna mengatakan tentang "nyawa adalah urusanku".
.png)
ehm...betul sekali... :)
ReplyDelete