Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Dalam Mahabharata, terdapat satu kisah yang cukup terkenal bernama Bhagavad Gita. Ini adalah cerita tentang bagaimana kegalauan Arjuna ketika akan berhadapan dengan saudara-saudaranya sendiri yaitu Kurawa. Arjuna kemudian mengadukan keluh kesahnya ini pada Dewa Krishna tentang dilema moral apakah ia sebaiknya berhenti atau meneruskan pertarungan walaupun dengan risiko membunuhi saudara-saudaranya. Jawaban Dewa Krishna adalah, "Kamu adalah prajurit, tugasmu berperang. Biarkan mencabut nyawa menjadi urusanku."
Etika yang ditawarkan Bhagavad Gita cukup jelas. Moralitas tertinggi dari bekerja adalah pekerjaan itu sendiri dan bukan konsekuensi dari pekerjaannya. Ini mungkin juga semacam seruan bagi kita yang kadangkala meremehkan pekerjaan orang lain yang gajinya kecil atau punya nilai status sosial rendah di mata masyarakat. Mengacu pada apa yang diucap oleh Dewa Krishna, mereka adalah mulia jika bekerja sepenuh hati.
Kemudian dunia modern mengenal konsep profesionalisme dalam pekerjaan yang juga mengandung etikanya tersendiri. Sekilas, etika dalam profesionalisme ini sejalan dengan apa yang digariskan dalam Bhagavad Gita, bahwa keduanya haruslah bekerja keras dalam bidangnya. Namun profesionalisme ini, jika kita perhatikan, basis dari bekerja kerasnya adalah terlebih dahulu setelah mengetahui konsekuensinya. Para profesional dapat didefinisikan sebagai mereka yang bekerja sesuai dengan apa yang sudah dibayarkan kepadanya. Jika ia dibayar satu juta, maka ia harus bekerja seharga satu juta itu. Jika ia dibayar seratus ribu, maka ia harus bekerja seharga seratus ribu itu. Jika ia bekerja di bawah harga yang dibayarkan kepadanya, maka ia gagal secara etis atau kita biasa menyematkan predikat kepadanya yaitu "tidak profesional".
Tapi agaknya dunia modern dengan profesionalismenya tidak memberi tempat bagi etika Bhagavad Gita. Bhagavad Gita justru berbicara tentang 'lupakanlah konsekuensi'. Manusia harus bekerja, karena bekerja adalah suatu kebaikan pada dirinya sendiri. Dewa Krishna seolah mau berkata tentang, "Jikapun tidak ada uang atau imbalannya, pekerjaan itu harus dilakukan sepenuh hati." Karena, iya, dalam Bhagavad Gita, konsekuensi dari pekerjaan kita bukanlah urusan kita, seperti halnya Dewa Krishna mengatakan tentang "nyawa adalah urusanku".
.png)
ehm...betul sekali... :)
ReplyDelete