Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Rasionalitas dan Teknologi



 
Kemarin saya dikejutkan oleh berita tentang anak bungsunya musisi pop Ahmad Dhani, Abdul Qadir Jaelani alias Dul, yang membuat tewas lima orang akibat mobil yang dikendarainya di jalan tol. Yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa Dul masih berusia tiga belas tahun atau jauh di bawah syarat untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kita tidak akan membicarakan soal bagaimana tanggungjawab Ahmad Dhani soal ini. Kita bisa lebih jauh menyalahkan teknologi yang pada perkembangannya selalu mengandung dua sisi. Di satu sisi, ia membantu kehidupan manusia karena biasanya teknologi selalu mengandaikan ke-masuk-akal-an. Dalam arti kata lain, ketika teknologi diciptakan, tentunya ia sebisa mungkin dapat diakses orang sebanyak-banyaknya dan semudah-mudahnya -Itu sebabnya mengapa gadget masa kini seolah tidak mempunyai batas usia. Karena bagi anak-anak, gadget itu masuk akal untuk mereka mainkan-. Di sisi lain, ke-masuk-akal-an itu yang justru menjadi problem ketika penilaian-penilaian metafisis seperti "kesehatan jiwa", "kematangan berpikir", "penemuan jatidiri", dan hal-hal lain yang tak masuk akal dan tidak punya alat ukur objektif, dibuang jauh-jauh dari prasyarat pemakaian teknologi.

Mari kita ambil contoh dari teman saya yang sedang keranjingan buku The Secret dan menyebut ajarannya, yakni Law of Attraction, sebagai sesuatu yang sangat manjur. Ajaran Law of Attraction kira-kira berisi tentang bagaimana jika kita sungguh-sungguh memikirkan sesuatu, maka sesuatu itu akan terjadi -baik itu positif maupun negatif-. Sayangnya, dia (dan juga banyak orang lainnya) menggunakan prinsip Law of Attraction itu dengan cara yang sama seperti Dul menyetir mobil. Mereka menggunakannya sebagai alat yang kaku dan tidak mempertimbangkan faktor-faktor yang non-rasional. Seperti kata teman saya itu, "Kalau kamu sakit, jangan dipikirin deh. Pikirin yang bagus-bagus saja agar sembuh." Mungkin hiburan semacam itu ada benarnya, tapi kita juga harus pertanyakan: Pikiran semacam apa yang bisa memberi dampak positif? Tentu saja berbeda antara pikiran seorang anak SD dengan pikiran seseorang yang sudah menjalani hidup 80 tahun dengan pengalaman segudang, meski sama-sama positif. Tentu saja berbeda antara pikiran orang yang sudah membaca seribu buku dengan macam-macam jenis dengan pikiran orang yang baru saja membaca The Secret

Kita bisa melihat teknologi di sekeliling kita hari ini sungguh mudah untuk digunakan: Motor, mobil, kulkas, latop, ponsel, televisi, LCD, dan sebagainya. Prasyaratnya hanyalah sebatas urusan asal secara fisik bisa terjangkau atau tidak. Keseluruhan teknologi itu sudah dibuat sedemikian rupa agar secara rasional bisa diterima dan digunakan secara praktis sejak usia dini. Buku-buku petunjuk tentang usia berapa seharusnya seseorang memakai benda-benda tersebut rasanya menjadi hal yang diabaikan dewasa ini. Kemudahan-kemudahan semacam itu secara otomatis meniadakan "teknologi-teknologi" purba yang sering dianggap punya efek membantu kehidupan manusia tapi tidak rasional seperti doa, sembahyang, telepati pikiran maupun perasaan, hingga pawang hujan. Mereka dianggap usang dan harus dibuang ke tong sampah karena semata-mata, "Tidak masuk akal, tidak bisa digunakan segala usia. Mungkin mereka yang bisa pun hanya mengada-ada saja."

Doa, sembahyang, dan lain-lain tersebut mungkin saja menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan jika dilakukan dalam penghayatan dan kematangan jiwa di fase tertentu yang barangkali tidak punya barometer objektifnya. Hal yang sama juga bisa kita tudingkan pada kenapa Dul bisa celaka padahal secara teknis ia sudah memenuhi syarat untuk menyetir. Ini bukan semata-mata soal usia -sesuatu yang sebenarnya masih sangat objektif dan rasional-, melainkan persoalan-persoalan metafisis yang sudah kita buang jauh-jauh konsepnya dari dunia kehidupan modern, yakni "kesehatan jiwa", "kematangan berpikir", dan "penemuan jatidiri".

Keseluruhan paparan di atas mungkin bisa dirangkum menjadi: Pepatah Timur mengatakan bahwa "Pohon tumbuh tidak tergesa-gesa." Barat kemudian memodifikasinya menjadi "Tapi kita bisa membuat pohon lebih cepat tumbuh dengan segala teknologi".

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...