Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Ketika kawan Erie Setiawan mengirimkan buku Imagi-Nation: Membuat Musik Biasa Jadi Luar Biasa dari Yogya, saya langsung menghabiskan buku setebal kurang lebih seratus halaman itu dalam sehari. Namun bukan ketipisan buku itu yang membuat saya sanggup membaca cepat. Entah oleh sebab sang penulis, Vince McDermott, atau kelihaian sang penerjemah, yang pasti kata-kata dalam buku ini amat renyah, lincah, dan sepertinya sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak membuat pembaca ketakutan dengan topiknya.
Apa yang dibahas oleh McDermott sesungguhnya tidak semudah gaya bahasanya. Ia menyuguhkan banyak hal mendasar tentang musik yang justru merupakan topik yang tidak populer -bahkan di kalangan akademisi musik sekalipun?-. Hal yang mendasar ini bukan berarti menyoal teori atau praktik dasar dalam bermusik. McDermott memulai bukunya dengan membahas apa itu estetika, apa perbedaan estetika barat dan timur, hingga memperdebatkan apakah musik kemudian harus ditransfer kembali pada kata-kata untuk menjawab pertanyaan orang awam, "Musik yang dimainkan barusan, maknanya apa ya?" Ini jelas merupakan bahasan yang tidak menyenangkan untuk praktisi bahkan teoritisi musik khususnya di Indonesia -buktinya, buku yang membahas hal semacam ini sangat jarang beredar-. Mungkin mereka bisa melemparkan tanggung jawab atas persoalan estetika pada bidang kajian filsafat saja.
McDermott kemudian dengan perlahan memberikan panduan bagi para komposer untuk pertama-tama mempertanyakan ulang maksud dari pelbagai ciptaannya, hingga akhirnya masuk pada dimensi musik yang lebih kompleks seperti dinamika, frase, energi, bentuk, ritme, repetisi, tekstur, lapisan, harmoni, tempo, transisi, warna, hingga instrumen. Dalam pemaparan demi pemaparan, McDermott sama sekali tidak bersikap menggurui atau bahkan memberikan tips-tips sederhana (seperti yang sedikit tersirat lewat judulnya). McDermott rupanya ingin lebih tepatnya memberikan panduan. Ia tidak mau "penyair bunyi" (istilah yang McDermott ambil dari sebutan Beethoven bagi para komposer) manapun mengabaikan sejumlah peraturan dalam mencipta. Hal ini tersirat dalam pemaparannya mengenai musik jazz dan hubungannya dengan improvisasi:
Bahkan, dalam gaya improvisasional seperti "free jazz" atau "musik kebetulan" (chance music) sekalipun, tetap ada pembatas. Pemusik-komponis memiliki ide-ide tertentu yang ingin mereka sajikan, dan tujuan mereka adalah ide-ide itu. Dengan demikian, mereka sengaja membatasi fokus mereka.
Meski "keras" dalam memberikan batas-batas mencipta, McDermott tetap mengatakan bahwa yang menjadi penentu pada akhirnya adalah kreativitas, keberanian untuk berpikir maju, dan petualangan menuju "yang sublim". Seni bukan rutinitas, seni itu pencarian. Ia mengajak mereka yang sudah berpikiran ke depan agar jangan melupakan fondasi bangunan musik seni yang baik. Sebaliknya, mereka yang sudah menguasai pelbagai fundamen dasar dalam bermusik, jangan hanya membuat "musik biasa yang mengenyangkan perut" saja. Jangan takut menciptakan musik yang sanggup dijadikan santapan rohani juga.

Comments
Post a Comment