Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Absurditas


Belakangan saya mulai paham pemikiran para eksistensialis yang dulu sempat saya tertawakan. Mereka sering merenungkan tentang ketidakbermaknaan hidup, tentang mengapa saya ada, dari mana, dan mau kemana. Apakah betul-betul senestapa itu kehidupan?

Kehidupan, agaknya, menjadi penuh tanda tanya karena kematian. Kematian adalah satu-satunya yang absolut karena semua manusia mengalaminya. Namun tidak ada seorangpun yang bisa membuktikan apa yang terjadi pasca kematian. Semua punya cerita versinya sendiri. Orang-orang Etruscan menciptakan versi kematian dengan monster hijau yang siap menanti siapapun yang pengecut melawan Romawi. Buddha percaya reinkarnasi, bahwa yang mati kelak akan hidup kembali jadi sesuatu, tergantung baik-buruk yang pernah kita perbuat. Ketika kematian bisa diberi nilai oleh siapapun, artinya kematian itu sendiri tidak punya nilai sama sekali!

Maka logika yang sama bisa dikenakan pada kehidupan. Kehidupan, alangkah setiap hari kita menemukan banyak penilaian terhadapnya. Suatu hari istri saya berkata, "Alhamdulillah yah cuaca panas jadi jemuran cepat kering." Namun saya menimpali, "Coba bayangkan di waktu yang sama kamu berangkat kerja, bukankah cuaca seperti ini bisa dikeluhkan?" Nilai-nilai kehidupan itu sendiri diberi oleh kita semua, para manusia yang tingkat pemahamannya sendiri berbeda-beda. Yang dinamakan "kebenaran" itu sendiri patut kita ragukan karena di belakangnya kerapkali ada unsur-unsur pemaksaan dari kekuasaan. Novel Siddharta karya Herman Hesse bahkan menyatakan bahwa "Lawan dari kebenaran, adalah sama benarnya." 

Pada titik ini saya mulai bisa menghayati eksistensialisme secara praksis. Bahwa hidup ini tidak mungkin punya nilai, karena masing-masing dari kita bisa memberi nilai apapun kepadanya. Bahkan kematian pun bisa kita bayang-bayangkan dengan tujuan yang sama juga: Menjadikan kehidupan bernilai. Tuhan, malaikat, surga, dan kebaikan di alam sana, adalah untuk sekali lagi: Agar kita layak menjalani kehidupan yang absurd ini. 

Hiduplah dengan bahaya. Jalani hidup karena hidup itu absurd. Manusia adalah gairah tanpa makna. Jika tidak ada Tuhan, semua boleh. 

Semua yang saya sebutkan adalah jargon eksistensialisme yang berkembang di Eropa pasca Perang Dunia I. Apa yang mereka kritik adalah optimisme bahwa kehidupan ini sudah punya makna, sudah punya esensi dalam dirinya sendiri. Kenyataannya tidak, saudara-saudara, kitalah yang memaknainya. Maka itu, dalam keterbatasan manusia, pemaknaan itu akan selalu berbeda-beda, tidak stabil, dan relatif. Inilah titik mawas diri para eksistensialis. Ada suatu paradoks bahwa di satu sisi, mereka menyadari otonomi manusia adalah titik mula segala-galanya. Namun di sisi lain, absurditas justru berasal dari kenyataan bahwa manusia adalah "pengada yang terbatas".  

Jalan keluarnya, bagi saya sementara, adalah seni. Seni rupanya mengajarkan untuk merasakan hidup ini tanpa pamrih. Seni yang, kata Schopenhauer, adalah cara untuk menyadari bahwa eksistensi manusia adalah menyedihkan. Rasakanlah sebagaimana ia beresonansi kepadamu. Hidup ini memang tidak punya nilai, tapi ia punya getaran.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...