Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Autocorrects


Sejak tiga bulan belakangan saya mengikuti akun twitter seorang komedian ber-username autocorrects. Pengikut ia pun tidak sedikit, mencapai lebih dari dua juta orang. Dalam sehari, autocorrects bisa berkicau lebih dari dua puluh kali dan rata-rata ratusan orang melakukan re-tweet pertanda setuju atau suka. Saya sendiri termasuk orang yang menyukainya. Ini beberapa contoh tweet-nya:

  • Starting a blog, making a few posts, then ending up forgetting about it.
  • I speak a language that is universally known. It’s called Fuck You.
  • I Love finding money in my clothes. It’s like gift to me.. from me.
  • I always find myself thinking about what some random celebrity is doing at this moment.
  • Lazy rule: can’t reach it, don’t need it.

Kicauannya nampak tidak istimewa, atau setidaknya: tidak filosofis atau tidak saintifik sekalipun. Tapi itu bukan sama dengan kita tidak menemukan kebenaran di dalamnya. Pada umumnya, twitter sendiri memang berisikan soal “ucapan-ucapan subjektif” yang seringkali tidak mempunyai arti bagi orang yang tidak berkepentingan. Walhasil, kemudian muncul istilah “nyampah di timeline”, sebagai bentuk kritik terhadap orang yang kerapkali menghadirkan sesuatu yang “terlalu berkaitan dengan dirinya”, yang rasanya tidak terlalu penting untuk diungkap ke ruang publik. Namun entah kenapa, ada orang-orang seperti autocorrects ini, yang subjektifnya adalah objektif. Bahwa ia bisa menghayati pengalamannya yang sederhana, yang membuat ketika itu dikicaukan, eh ternyata didapati bahwa banyak orang setuju dengannya.

Mari berfilosofi sejenak, membicarakan evolusi terbentuknya agama menurut Whitehead. Pada awalnya, agama itu adalah agama suku. Yaitu agama yang dihayati dalam kawanan. Lalu di dalam kawanan orang yang menganut agama suku, biasanya kemudian ada satu orang yang memberontak, yang menghayati spiritualitas dalam keindividuannya. Inilah yang terjadi dalam misalnya, Muhammad atau Yesus yang begitu berbeda dengan society, dengan agama suku. Dalam penghayatan individu itu, ia menemukan bahwa ada yang sama dalam dirinya dengan semua manusia. Atas dasar itu ia “mendirikan” agama universal.

Saya tidak mau berlebihan mempersamakan autocorrects dan Muhammad ataupun Isa, karena jelas konten yang mereka “kicaukan” berbeda. Namun yang mau digali adalah, ketiga orang tersebut sama-sama melakukan universalisasi atas pengalaman pribadi. Bahwa apa yang aku alami, pasti juga dialami oleh orang lain juga. Lintas negara, lintas bangsa. Ini adalah suatu hal yang tidak sederhana karena menurut Louis Leahy, manusia itu adalah “makhluk tertutup”. Apa yang ia ketahui pasti semata-mata adalah dirinya sendiri. Tentang orang lain adalah dugaan-dugaan saja, dan mungkin diangkat dari refleksi terhadap diri sendiri, “Kenapa kita tahu orang lain sakit kalau dipukul? Karena semata-mata kita juga sakit kalau dipukul.”

Tentunya ada yang berbeda dari cara autocorrects nge-tweet dengan orang-orang lain yang cuma sekedar “gw bête banget nih, kemana ya?”. Ada yang berbeda, dan itu terasa. Ada suatu renungan ke dalam diri sebelum mengicaukannya untuk publik. Dan ketika berkaca ke diri, ia menemukan perasaan orang banyak yang kira-kira ikut serta. Hal tersebut menjawab bagaimana orang-orang besar yang pemikirannya mendunia, belum tentu sering berkeliling dunia. Immanuel Kant contohnya, ia hanya tinggal di satu kota sepanjang hidupnya, tapi filsafatnya menjadi bangunan pemikiran Barat yang masih diikuti hingga hari ini.

Autocorrects, sekali lagi, kedalaman pemikirannya tidak bisa disandingkan dengan contoh-contoh para filsuf yang sedemikian bertahan dalam sejarah. Ia cuma berkisar soal seks dan kehidupan remaja pada umumnya. Namun membaca tweetnya saya kerapkali tertawa geli. Bukan geli oleh sebab hal tersebut seolah terjadi pada dirinya. Tapi geli oleh sebab hal yang ia alami adalah yang ada pada diri saya pun. Seperti kata Upanishad, bahwa aku dan kamu adalah satu.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...