Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Spartacus dalam film yang digarap oleh sutradara Stanley Kubrick ini, memang diangkat dari kisah nyata, tentang seseorang bernama Spartacus. Tapi kenyataannya, tidak ada sejarah yang sedemikian akurat dalam menggambarkan gerak-gerik Spartacus sesungguhnya.
Film berdurasi tiga jam lima belas menit ini, mengisahkan tentang seorang budak bernama Spartacus yang berjuang mendapatkan kemerdekaannya. Perjuangannya "kebablasan", ia tak cuma membebaskan diri, tapi membebaskan ribuan budak lainnya untuk kemudian memancing penguasa Romawi untuk bertempur secara terbuka. Diperankan oleh Kirk Douglas, tokoh Spartacus disini sungguh mengundang simpati dari sejak awal. Ia pemberontak tapi juga lemah lembut di hadapan wanita bernama Varinia. Ia pemberani namun matanya berubah berkaca jika berbicara pada ribuan budak yang hendak bertempur.
Film Spartacus memang terlihat sekali seperti film berbujet tinggi. Memang iya, konon biaya pembuatannya mencapai dua belas juta dollar, plus figuran lebih dari sepuluh ribu orang. Musiknya digarap oleh Alex North yang cukup terkenal di masa itu, dan memang terasa sekali pengaruh musiknya menjadikan si film epik sekaligus puitik. Untuk seorang Stanley Kubrick yang waktu itu masih berusia tiga puluh tahun, jelas ini sebuah proyek besar! Hasilnya tidak mengecewakan, Spartacus memperoleh empat Oscar untuk pemeran pembantu terbaik, sinematografi terbaik, kostum dan art direction. Alex North sebagai penata musik tercatat dalam nominasi.
Meskipun berdurasi cukup panjang, film yang mengambil setting sekitar tujuh puluh tahun sebelum masehi ini bisa menjaga tensinya. Drama dan action bisa muncul secara berimbang. Yang menjadi perhatian saya secara pribadi bukanlah sosok Spartacus itu sendiri, melainkan sosok antagonis Marcus Licinius Crassus yang merupakan komandan tentara Romawi. Crassus amat berambisi untuk menaklukkan Spartacus, tapi ia menegaskan satu hal: Saya bukan sekedar ingin membunuh Spartacus, tapi juga ingin membunuh legenda tentang Spartacus.
Apa yang diinginkan Crassus sebagian terkabulkan sebagian tidak. Memang iya, kemudian ia sukses meredam Spartacus dan pasukannya. Memang iya juga, Crassus sukses mengaburkan legenda tentang Spartacus. Tapi satu hal yang pasti, cerita tentang Spartacus tetap menyembul meski hanya serpihan-serpihan yang sedemikian sulit untuk dilacak. Artinya, Spartacus adalah juga seperti Sokrates atau Konfusius, keberadaannya sedemikian kabur dan sulit dibuktikan eksistensinya.
Namun memperdebatkan eksistensi terkadang tidak terlalu penting. Yang terpenting disini adalah bagaimana Kubrick menyusun kembali kisah Spartacus, dengan tambahan sana-sini tentunya, untuk menjadi inspirasi bagi siapapun. Kubrick bukan satu-satunya orang yang mencoba menyusun kembali kisah Spartacus untuk dijadikan inspirasi, ada Karl Marx yang mengambil Spartacus sebagai "inspirator gerakan proletar". Maka ketika di masa hidupnya seseorang pernah berjuang namun tidak mencapai apa yang ia inginkan, pastikan bahwa sejarah pernah mencatat. Kelak, sejarah itu sendiri yang akan meneruskan perjuangannya.
Film berdurasi tiga jam lima belas menit ini, mengisahkan tentang seorang budak bernama Spartacus yang berjuang mendapatkan kemerdekaannya. Perjuangannya "kebablasan", ia tak cuma membebaskan diri, tapi membebaskan ribuan budak lainnya untuk kemudian memancing penguasa Romawi untuk bertempur secara terbuka. Diperankan oleh Kirk Douglas, tokoh Spartacus disini sungguh mengundang simpati dari sejak awal. Ia pemberontak tapi juga lemah lembut di hadapan wanita bernama Varinia. Ia pemberani namun matanya berubah berkaca jika berbicara pada ribuan budak yang hendak bertempur.
Film Spartacus memang terlihat sekali seperti film berbujet tinggi. Memang iya, konon biaya pembuatannya mencapai dua belas juta dollar, plus figuran lebih dari sepuluh ribu orang. Musiknya digarap oleh Alex North yang cukup terkenal di masa itu, dan memang terasa sekali pengaruh musiknya menjadikan si film epik sekaligus puitik. Untuk seorang Stanley Kubrick yang waktu itu masih berusia tiga puluh tahun, jelas ini sebuah proyek besar! Hasilnya tidak mengecewakan, Spartacus memperoleh empat Oscar untuk pemeran pembantu terbaik, sinematografi terbaik, kostum dan art direction. Alex North sebagai penata musik tercatat dalam nominasi.
Meskipun berdurasi cukup panjang, film yang mengambil setting sekitar tujuh puluh tahun sebelum masehi ini bisa menjaga tensinya. Drama dan action bisa muncul secara berimbang. Yang menjadi perhatian saya secara pribadi bukanlah sosok Spartacus itu sendiri, melainkan sosok antagonis Marcus Licinius Crassus yang merupakan komandan tentara Romawi. Crassus amat berambisi untuk menaklukkan Spartacus, tapi ia menegaskan satu hal: Saya bukan sekedar ingin membunuh Spartacus, tapi juga ingin membunuh legenda tentang Spartacus.
Apa yang diinginkan Crassus sebagian terkabulkan sebagian tidak. Memang iya, kemudian ia sukses meredam Spartacus dan pasukannya. Memang iya juga, Crassus sukses mengaburkan legenda tentang Spartacus. Tapi satu hal yang pasti, cerita tentang Spartacus tetap menyembul meski hanya serpihan-serpihan yang sedemikian sulit untuk dilacak. Artinya, Spartacus adalah juga seperti Sokrates atau Konfusius, keberadaannya sedemikian kabur dan sulit dibuktikan eksistensinya.
Namun memperdebatkan eksistensi terkadang tidak terlalu penting. Yang terpenting disini adalah bagaimana Kubrick menyusun kembali kisah Spartacus, dengan tambahan sana-sini tentunya, untuk menjadi inspirasi bagi siapapun. Kubrick bukan satu-satunya orang yang mencoba menyusun kembali kisah Spartacus untuk dijadikan inspirasi, ada Karl Marx yang mengambil Spartacus sebagai "inspirator gerakan proletar". Maka ketika di masa hidupnya seseorang pernah berjuang namun tidak mencapai apa yang ia inginkan, pastikan bahwa sejarah pernah mencatat. Kelak, sejarah itu sendiri yang akan meneruskan perjuangannya.

kapan film terbaru spartacus bang..?
ReplyDeleteskarng jarang ORANG jadi SPARTACUS tapi byk yg jd SUPER RACKUSE..
ReplyDeleteGOOD
ReplyDelete