Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Dilema Joker


Dalam film Dark Knight (2008), tampil seorang antagonis yang cukup menarik simpati, ia adalah Joker (yang diperankan secara dramatis oleh almarhum Heath Ledger). Salah satu musuh bebuyutan Batman ini, ditampilkan dengan karakter khasnya, sedikit gila dengan "rasa humor yang sadistik". Jika saya bicara atas nama common sense, maka penampilan Joker versi Dark Knight ini adalah yang paling "mengganggu" dalam artian terus menerus terngiang di kepala karena sedemikian kuat tampilannya (setujukah jika saya bilang Joker dalam film tersebut masih lebih asyik diapresiasi daripada si Batman-nya sendiri?).

Dalam film tersebut, ada adegan dimana Joker menunjukkan gejala kegilaannya dengan menempatkan dua kapal feri dalam sebuah dilema. Penumpang kapal itu, yang satu bermuatan penumpang umum (civilians), yang satu lagi berisikan para narapidana. Pada dua feri itu disimpan bom yang mana pada masing-masing kapal diberi pemicunya: kapal penumpang umum punya pemicu bom kapal tahanan, kapal tahanan punya pemicu bom kapal penumpang umum. Joker memberi syarat pelik:

1. Jika ada yang mencoba kabur, kedua kapal akan diledakkan.
2. Jika masing-masing pemicu tidak ada yang ditekan hingga jam 00.00, maka kedua kapal akan diledakkan.

Ini adalah sebuah problem etika yang dilematis: Aku yang meledakkan dia untuk menghindari resiko dia meledakkan aku, atau aku justru membiarkan dia meledakkan aku untuk menghindari perasaan bersalah atas pembunuhan? Atau, mari kita meledak bersama agar tiada satupun yang dipersalahkan?

Mari kita bedah kasus ini menurut pemikiran etika beberapa filsuf:

  • Immanuel Kant menggunakan imperatif kategoris. Artinya, berbuatlah sesuatu seolah-olah apa yang kamu lakukan menjadi maksim untuk hukum universal. Kant bisa menjawab bagaimana seorang polisi tetap jujur meski dalam lingkungan yang korup. Menurut Kant, itu karena sang polisi mempunyai keyakinan bahwa yang ia lakukan adalah baik jika diterapkan secara universal. Berdasarkan etika Kantian ini, saya tidak bisa menemukan sebuah solusi untuk dilema Joker. Kalau kamu ada di posisi feri itu, mana yang kamu pikir baik untuk hukum universal? Meledakkan atau diledakkan? Etika Kant dalam kasus ini agak terlalu naif.
  • Jean Paul Sartre menekankan ketiadaan etika dengan merumuskan etika baru: Semuanya bebas selama bertanggungjawab. Memilih meledakkan ataupun diledakkan adalah pilihan free-will manusia karena "man are condemned to be free", tapi pertanyaannya, bagaimana cara kita mempertanggungjawabkannya? Maksudnya, apakah sebebas yang Sartre bayangkan? Apakah tidak ada sedikitpun pertimbangan-pertimbangan lain yang bertentangan dengan kebebasan itu sendiri -dalam kondisi dilematis semacam itu-?
  • Utilitarianisme bicara kuantitas, makin banyak yang diuntungkan makin baik. Tapi diantara kedua awak kapal feri itu, tidak ada yang tahu jumlah penumpang di kapal feri lainnya. Jika berdasar utilitarianisme, sederhana saja, jika semisal kapal tahanan hanya 50 orang, maka sudah seharusnya dia yang diledakkan jika ternyata di kapal civilians ada 100 orang.

Jika kita bertanya pada agama (divine command), maka terang saja agama mengajarkan jangan membunuh. Ini agaknya mulai dekat dengan apa yang saya maksud. Saya akan coba tarik ke wilayah filosofis dengan mempertimbangkan dilema Joker sebagai altruisme versus egosme. Altruisme mengajarkan bahwa apa yang baik adalah yang berfaedah bagi sebanyak mungkin orang selama yang dirugikan adalah kita sendiri. Egoisme adalah persis kebalikannya: Diri sendiri berfaedah itu lebih baik meski yang dirugikan adalah orang banyak.

Pertimbangan-pertimbangan di ataslah yang kemungkinan besar mengganggu para pemegang picu bom: Apakah aku harus bersikap altruis atau egois? Sikap altruis akan membebaskan seseorang dari perasaan-perasaan bersalah meski harus menanggung derita (Nabi-nabi termasuk altruis). Namun tidak semua orang yakin dengan kebahagiaan altruis, maka itu menjadi egois adalah jalan yang cukup fair untuk meraih kebahagiaan. Kalau aku berikan makanan ini ke dia yang sedang lapar, nanti bagaimana jika aku kelak kelaparan? Apakah tidak sebaiknya aku makan ini dan kemudian dia memikirkan bagaimana mengatasi laparnya sendiri?

Pertimbangan "Jangan membunuh, walaupun dengan resiko terbunuh" juga merupakan sikap altruis tersendiri dalam dilema Joker tersebut. Pada wilayah yang lebih dalam, altruis bagi saya adalah sekaligus sikap mencintai kehidupan secara tulus tanpa pamrih. Seorang altruis mungkin tidak pernah betul-betul menderita. Ia mendapatkan kebahagiaan dari posisinya sebagai "martir".

Seorang ibu adalah contoh altruis yang sedemikian konkrit. Ibu mengurusi anak, suami, dan rumah tangga, dengan semangat altruistik yang sedemikian amor fati, fatum brutum. Namun disitu justru letak keutamaannya. Kata Kierkegaard, harus ada penundaan untuk satu kesenangan sementara, agar mendapatkan kebahagiaan yang lebih luas. Agama dengan santai memberi hadiah bagi para altruis dengan kebahagiaan tak terbatas di kemudian hari. Yang tidak beragama bagaimana nasibnya? Jika pun mereka tidak percaya surga, pasti ada sesuatu yang "sama-sama absurd" untuk dijadikan landasan pembenaran altruistik-nya. Entah itu atas nama Kebahagiaan, Kebenaran, atau Kebebasan.

Akhir cerita, kedua awak kapal menyerahkan dirinya pada altruisme. Keduanya selamat, meski campur tangan Batman hadir disana.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...