Skip to main content

Posts

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Filsafat itu..

Saya lupa kapan mulai berkenalan dengan filsafat. Tapi resminya, boleh dibilang ketika saya mengikuti extension course filsafat di tahun 2006. Kegiatan rutin tiap Jumat malam di Jl. Nias itu, pelan tapi pasti, mengubah cara pandang saya. Saya ingat, awal mula materi di extension course itu, adalah soal antropologi manusia. Saya berkenalan diantaranya dengan pemikiran Nietzsche, Marleau-Ponty dan Lacan soal manusia ini sebenarnya apa, dari mana, mau ke mana? Apakah makhluk yang sudah selesai, atau sedang dalam proses? Lantas, apakah yang dinamakan hubungan sesama manusia itu? Lalu, bagaimana manusia mendefinisikan baik-buruk? Ketuhanan? Macam-macam lah pokoknya, membuat saya kebingungan dan keluar ruangan dalam perasaan yang aneh. Perasaan yang, ternyata, one way ticket : Tidak bisa pulang kembali ke kenyamanan yang dulu. Melainkan mesti mengarungi, terus menerus, bergulat dengan gelisah, hingga entah kapan. Demikian awal mula filsafat ambil bagian dalam hidup saya. Mulailah dibeli b...

Posmo oh Posmo

Jelas sekali, ini masa sudah berbeda. Kita masuk pada apa yang para filsuf namai dengan posmodern. Entah kita semua merasakan itu, atau hanya ada pada alam para filsuf, seperti kata Goenawan Mohammad. Yang pasti, memang ada bedanya, yang jika boleh saya menyobek kutipan macam-macam dari Lyotard, Foucault, Derrida, hingga Bambang Sugiharto, maka posmodern dapat diartikan sebagai: 1. Matinya subjek. Jika modern adalah tempat dimana subjek berkehendak bebas dan menentukan dirinya sendiri, maka dalam posmo(dern), subjek dikendalikan oleh suatu kuasa yang mana subjek pun jadi bingung, dia ada dalam kuasa atau tidak. Seperti kita berkata film Hollywood bagus, apakah memang iya kesadaran kita mengatakan demikian, atau jangan-jangan memang apa yang disuguhi pada kita, hanyalah Hollywood, sehingga pikiran kita selalu berpatokan pada Hollywood. Demikian maka cogito ergo sum Cartesian, Kehendak Bebas Sartre, Ego Freud, dan pemikiran modernis lain soal subjek ikut ketinggalan jaman. 2. Matinya...

Lelaki itu Bernama Adam

Bayangkan bayangkan. Adam hidup sendirian. Ia baru saja dibuang. Dari surga yang buah-buahan dan susu sedemikian dihamparkan. Turun ia ke bumi, ke dunia yang kejam dan keji. Kemana Hawa? Tuhan punya rahasia. Meski keduanya makan khuldi bersamaan, tapi Tuhan hanya memilih Adam. Ia berdosa, Hawa juga iya. Tapi Tuhan punya rahasia. Demikian Adam hidup di bumi. Bercocok tanam dan berburu binatang. Disertai luka di hati, karena lepas dari nikmatnya surgawi. Adapun ia tak henti bersedu sedan, karena tiada lagi teman. Hawa yang cantik dan satu itu, entah kenapa tak diturunkan Tuhan. Ia juga kesal pada Hawa, iri tepatnya. Karena kami sama-sama makan khuldi. Sama-sama terbujuk setan terkutuk. Tapi kenapa ia tetap berada di surga? Atau malah ia ada di neraka? Pikiran terakhir itu membuatnya bingung. Entah lega atau sedih. Ia tak mau Hawa berada di neraka, tapi merasa tak adil jika dirinya bernasib lebih buruk atas suatu perbuatan yang sama. Mengapa aku memakan buah itu? Padahal rasanya tak begit...

Baik - Buruk

Dulu dalam satu kuliah dari Pak Slamet di Extension Course Filsafat UNPAR, saya pernah mendapati satu pernyataan (atau pertanyaan) yang cukup membuat saya merenung-renung hingga sekarang: Bagaimana posisi baik-buruk itu sebenarnya? 1. Baik-buruk itu dualisme. Saling mengadakan. 2. Buruk adalah cacat dari baik, sehingga kebaikan adalah utama. 3. Manusia terlahir bebas. Baik-buruk adalah soal kesepakatan. Saya awalnya, karena banyak membaca Sartre. Setuju yang nomor tiga. Menurut saya itu Sartrean sekali: "Man are condemned to be free". Jika Dostoyevsky bilang, "Jika Allah tidak ada, semuanya boleh.", Sartre bilang, "Manusia boleh melakukan semua, maka itu Allah tidak ada." Artinya, segala baik-buruk, adalah soal bagaimana manusia memutuskan. Mengambil keputusan atas pilihan-pilihan hidup yang disediakan. Dengan demikian sepaket dengan konsekuensi etisnya. Pada akhirnya saya tidak bertahan lama dengan nomor tiga ini, karena paradoks semantik Sartre. Ia menga...

Catatan Awal Tahun

Alhamdulillah, akhirnya tahun 2009 terlewati juga. Tahun yang bagi saya, salah satu yang berkesan. Berkesan dalam artian, di tahun ini, saya mendapatkan banyak pengalaman baru. Dan pemaknaan baru. Ada hal-hal yang dulunya saya tak paham, sekarang jadi paham. Atau entah saya merasa paham padahal sebenarnya belum, atau dari dulu sudah paham tapi sekarang tambah paham. Memangnya paham itu apa sih? Yang pasti begini, apapun yang saya alami di tahun 2009 kemarin, ternyata sukses membuat saya sungguh-sungguh menatap 2010. Saya, untuk pertama kalinya, membuat daftar resolusi. Daftar resolusi yang bagi saya, terlampau rinci dan penuh perencanaan. Membuat tahun 2010 terasa dingin dan kaku, bagaikan angka-angka di microsoft excel. Membuat tahun 2010 terasa singkat dan padat, karena memang saya padatkan dalam perencanaan. Bukankah iya, segala perencanaan adalah seolah-olah menafikan bahwa hidup itu punya kejutan? Tidakkah jika Hume masih hidup, ia akan menertawakan daftar resolusi kita semua? Sam...

Siddhartha: Percikan Inspirasi Sang Buddha

Penganugerahan Nobel Sastra bagi Hermann Hesse pada tahun 1946 dibuktikannya dengan sangat baik dalam novel Siddhartha ini. Bagi saya, novel ini tidak hanya indah dan puitis, tapi juga inspiratif dan mencerahkan. Keunikannya terletak dari tidak adanya konflik antar orang, melainkan hanya konflik Siddhartha (sang tokoh utama) dengan dirinya. Ya, ini adalah karya sastra yang bercerita tentang pergulatan batin dan pencarian spiritual seorang Siddhartha, yang diceritakan hidup sejaman dengan Gotama, Sang Buddha (sekitar 600 SM). Penokohannya sendiri sebenarnya cukup menggelikan. Fakta historis mengatakan bahwa Sang Buddha bernama asli Siddhartha Gotama. Namun di novel itu, antara Siddhartha dan Gotama adalah dua tokoh yang sama sekali lain. Gotama adalah Sang Buddha yang ajarannya saat itu tengah naik daun dan sangat digandrungi masyarakat India, sementara Siddhartha justru menolak ajaran Gotama, yang diungkapkannya dalam kalimat yang inspiratif: "Tidak ada seorangpun yang mendapat pe...

Untuk 30 November 2009

Sudah lebih dari dua puluh hari sejak saya terakhir mengupdate blog ini. Jika ditanya alasannya kenapa, saya tidak tahu. Daripada saya cari-cari alasan padahal intinya cuma malas. Artinya, saya melewatkan juga hari ulang tahun saya untuk dituliskan. Maksudnya, dituliskan secara berdekatan dengan momennya. Padahal, ulang tahun saya tahun ini, terasa sangat bermakna. Bermakna karena banyak hal, yang akan saya ceritakan: Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, bagi orangtua saya, itu adalah tanda: bahwa tepat dua puluh empat tahun lalu, saya lahir ke dunia. Lahir untuk entah apa, yang pasti awal mulanya, adalah untuk membahagiakan orangtua saya. Untuk meyakinkan sebenarnya mereka punya garis keturunan yang melanjutkan apa-apa yang pernah ia bangun dalam hidupnya. Yang lewat keturunan ini, seolah-olah orangtua saya disajikan, tentang nikmatnya menyaksikan rekaman ulang kejadian kehidupan. Melanjutkan keturunan itu barangkali, memberi tahu dengan gamblang: bahwa, Subhanall...