Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Baik - Buruk


Dulu dalam satu kuliah dari Pak Slamet di Extension Course Filsafat UNPAR, saya pernah mendapati satu pernyataan (atau pertanyaan) yang cukup membuat saya merenung-renung hingga sekarang: Bagaimana posisi baik-buruk itu sebenarnya?

1. Baik-buruk itu dualisme. Saling mengadakan.
2. Buruk adalah cacat dari baik, sehingga kebaikan adalah utama.
3. Manusia terlahir bebas. Baik-buruk adalah soal kesepakatan.

Saya awalnya, karena banyak membaca Sartre. Setuju yang nomor tiga. Menurut saya itu Sartrean sekali: "Man are condemned to be free". Jika Dostoyevsky bilang, "Jika Allah tidak ada, semuanya boleh.", Sartre bilang, "Manusia boleh melakukan semua, maka itu Allah tidak ada." Artinya, segala baik-buruk, adalah soal bagaimana manusia memutuskan. Mengambil keputusan atas pilihan-pilihan hidup yang disediakan. Dengan demikian sepaket dengan konsekuensi etisnya. Pada akhirnya saya tidak bertahan lama dengan nomor tiga ini, karena paradoks semantik Sartre. Ia mengatakan manusia bebas etika, tapi kemudian mengatakan, "Manusia yang baik adalah yang bertanggungjawab pada pilihannya." Berarti ia juga punya batasan baik-buruk, dong?

Saya lama berpegang pada nomor satu akhirnya. Saya percaya, bahwa dunia ini tetap berjalan, karena baik dan buruk berdinamisasi. Saling mematikan sekaligus saling mengadakan. Demikian dunia ini diciptakan seolah-olah hanya tempat pertarungan antara baik dan buruk, yang mana tidak boleh ada satu yang mati. Seperti Partai Golkar memelihara dua partai lainnya di era Orba. Seperti kiai yang mendadak akan kehilangan makna dari setiap pekerjaannya, jika kita membayangkan kejahatan telah terbasmi semua. Maka tidak ada yang salah jika kita berbuat buruk, karena kita memberi jalan untuk berbagai kemungkinan timbulnya kebaikan. Jika demikian tak perlu ada surga-neraka, pahala-dosa. Semua fair dan saling membantu. Yang berpahala ada karena yang berdosa. Tidakkah ya, itu terasa masuk akal? Dan membuat mereka, para pengumpul pahala yang merasa diri mulia, sesungguhnya tak lebih derajatnya dari para pendosa?

Belakangan saya mulai melirik nomor dua. Nomor yang dulu saya anggap, religius dan terlalu naif. Nomor yang, ah, mungkin saya tidak akan pilih untuk waktu entah kapan. Karena, oh, agama sekali. Kurang keren, kurang radikal. Tapi tendensi itu mengarah kesana, mengarah pada jangan-jangan: memang yang ada cuma kebaikan. Bahkan segala keburukan, juga demi kebaikan, juga untuk kebaikan. Seperti kata teman saya, Sutrisna: segalanya mengarah pada kebaikan. Secara logika, bisakah dibalik? Mari berandai-andai bahwa yang ada cuma keburukan. Bahkan segala kebaikan, juga demi keburukan, juga untuk keburukan. Saya kira itu boleh juga, hanya bagi saya terasa kembali seperti eksistensialisme Sartrean: bahwa kita, semua, manusia, hanyalah gairah tanpa makna.

Bahwa menganggap hidup ini pada dasarnya buruk dan maka itu baik juga tak lebih sebagai aksentuasi buruk semata, sama sekali tidak salah. Dan sialnya, ini akan mengembalikan kita pada pilihan khas Sartre (mau menganggap hidup ini hakekatnya kebaikan atau keburukan?). Ujung-ujungnya, bagi saya sekarang: Saya merasa tidak usah menunjuk salah satu dari topik lemparan Pak Slamet. Karena sungguh, ternyata, itu bukan pilihan ternyata. Saya terjebak. Bagi saya, yang penting dari segala perbuatan, adalah totalitas dan kecintaan. Karena perputaran dunia selalu membutuhkan itu semua. Ketika totalitas tiada, dan cinta hanya sebersit saja, maka baik buruk betul-betul tak lebih dari jebakan norma-norma yang gelap dan kaku. Ketika tukang sapu jalanan bangun pagi dan mulai menyapu pada jam yang ditentukan, lalu dia menikmati pekerjaannya seperti halnya ia tak peduli apakah kemudian dapat uang atau tidak. Maka ia telah melampaui baik-buruk secara etikal. Meski kemudian ada orangtua ambisius yang anaknya disekolahkan tinggi-tinggi lantas menasehati, "Kamu sekolah yang tinggi, agar jangan jadi penyapu jalanan." Maka si penyapu, barangkali tidak akan merasa dirinya buruk, jika mendengar ucapan orangtua itu.

Ketika saya mengajar gitar dengan sungguh-sungguh, menulis dengan sepenuh hati. Maka saya berhenti mempertanyakan apakah perbuatan saya baik atau buruk. Bahkan mungkin ketika saya membunuh pun. Saya akan mempertanyakan baik-buruk, jika saya lepas dari totalitas, lantas hati nurani meragukan. Dan soal hati nurani, saya tak dapat berbicara apa-apa.

Comments

  1. fantastis..
    walaupun akhir jawaban yang menggantung..
    eh km udah nulis novel blum??
    klo ada gw beli dah..
    asli asik nih pemikiran..
    hahahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...