Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Apa itu Demokrasi? (Bagian 1 dari 4)



Istilah “demokrasi” berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu dÄ“mos yang artinya rakyat dan kratos yang artinya pemerintahan atau kekuasaan. Karl Popper, pemikir asal Austria, menyebutkan demokrasi sebagai kekuasaan oleh rakyat, dan maka itu rakyat memiliki hak untuk berkuasa (Popper, 1988). Dalam situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa, demokrasi diartikan sebagai “penyediaan lingkungan yang berisi penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasariah, yang di dalamnya kehendak bebas dari rakyat mampu diungkapkan dan dapat diwujudkan” (United Nations, 2015). Meski dapat diartikan secara sederhana sebagai “pemerintahan rakyat”, tapi dalam praktiknya, demokrasi adalah konsep yang amat luas. Bahkan sebuah riset dari Jean-Paul Gagnon menyebutkan bahwa terdapat 2.234 kata sifat dalam bahasa Inggris untuk mendefinisikan demokrasi (Gagnon, 2018). 

Bernard Crick dalam bukunya yang berjudul Democracy: A Very Short Introduction (2003) menyadari bahwa istilah demokrasi, dalam praktiknya, kerap diartikan secara beragam. Crick kemudian membagi penggunaan istilah demokrasi ke dalam empat pembabakan sejarah yang uraiannya adalah sebagai berikut (Crick, 2003): 

  • Penggunaan pertama dipraktikkan di masa Yunani Kuno. Platon berpandangan bahwa demokrasi merupakan kekuasaan orang-orang tidak terdidik yang sekaligus mengabaikan kemampuan mereka yang terdidik dan berpengetahuan. Sejalan dengan Platon, Aristoteles menganggap bahwa tipe pemerintahan yang baik adalah kekuasaan oleh beberapa orang yang memiliki keutamaan (arete) yang disebutnya sebagai aristokrasi. Meski menggolongkan demokrasi sebagai tipe pemerintahan yang menyimpang (deviant), Aristoteles memiliki poin menarik dalam buku III Politics bab 11 yang menyebutkan bahwa orang banyak bisa jadi lebih baik daripada orang sedikit jika orang banyak tersebut bersatu dan tampil bersama-sama. Orang banyak ini, meski secara individu kemampuannya lebih inferior ketimbang mereka yang sedikit, berpeluang untuk menghasilkan “kebijaksanaan dari banyak orang” (the wisdom of the multitude). 
  • Penggunaan kedua tentang konsep demokrasi dilakukan pada republik Romawi, pada teks Niccolo Machiavelli yang berjudul Discourses on Livy (1531), Republik Inggris dan Belanda pada abad ke-17, dan Republik Amerika Serikat awal-awal. Demokrasi yang dirumuskan pada beraneka gagasan tersebut bermuara pada sebuah pengertian bahwa pendapat orang banyak pada akhirnya bertujuan untuk memberi kekuatan besar bagi negara. Dalam konsep demokrasi semacam ini, terdapat kepercayaan besar terhadap warga negara sebagai subjek aktif yang berkehendak dan memberi pendapat, tetapi di sisi lain, berkembang pandangan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mendapat kepercayaan dari rakyatnya. Di sinilah bibit patriotisme muncul, yang melihat bahwa tentara yang berasal dari rakyat sendiri akan lebih mati-matian membela negerinya ketimbang tentara bayaran yang direkrut secara profesional. 
  • Penggunaan ketiga dapat dilacak pada masa Revolusi Prancis pada akhir abad ke-18 dan teks-teks yang ditulis oleh Jean-Jacques Rousseau. Demokrasi dalam hal ini merupakan gagasan yang menyebutkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk menyatakan pendapat dan mengungkapkan kehendak, selama berkaitan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan kepentingan umum dan kesejahteraan bersama. Landasan dari demokrasi ini bukanlah intelektualitas, melainkan nurani yang jernih, yang mengabaikan keegoisan individu dalam memikirkan kepentingannya sendiri. Dengan demikian, demokrasi menjadi berkaitan dengan pembebasan suatu kelas atau bangsa, tetapi tidak selalu kompatibel dengan kebebasan individu. 
  • Penggunaan keempat konsep demokrasi dapat dilacak pada konstitusi Amerika Serikat, sejumlah konstitusi Eropa pada abad ke-19, konstitusi Jerman Barat dan Jepang pasca Perang Dunia II, dan juga dalam teks-teks yang ditulis oleh John Stuart Mill dan Alexis de Tocqueville. Dalam pandangan ini, setiap orang dapat berpartisipasi dalam demokrasi, tetapi harus saling menghormati hak-hak dari sesama warga negara dalam sebuah aturan yang mengatur, melindungi, dan membatasi hak-hak tersebut. Artinya, demokrasi semacam ini, yang kerap disebut juga sebagai demokrasi modern, adalah usaha penggabungan antara gagasan tentang kekuasaan rakyat dan gagasan tentang hak-hak individu yang dijamin oleh hukum.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...