Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tangan Kosong


Sebagai orang yang tidak belajar filsafat secara formal di kampus, saya sempat tidak sepenuhnya menganut pandangan bahwa filsafat mesti dipahami secara tekstual. Persentuhan saya awal-awal dengan filsafat berasal dari kuliah Extension Course Filsafat UNPAR yang memang ditujukan untuk publik non filsafat dan diskusi-diskusi, utamanya di komunitas Madrasah Falsafah. Berdasarkan pembelajaran filsafat dari tempat-tempat tersebut, saya tahunya filsafat itu ya berpikir kritis dan reflektif secara bebas. Mencomot pemikiran tentu sering, tetapi tidak perlu ketat mengacu pada teks, apalagi teks primer. 

Saya kemudian mendaftar S3 di STF Driyarkara, salah satu kampus filsafat terbaik di Indonesia, dengan bekal surat rekomendasi dari Bambang Sugiharto, guru besar filsafat UNPAR. Dalam surat rekomendasi tersebut, Pak Bambang menuliskan pernyataan yang isinya kurang lebih menunjukkan bahwa syarif memang kurang tekun dalam membaca. Di STF Driyarkara akhirnya saya tahu bahwa mempelajari filsafat adalah tentang membaca teks secara tekun. Kita tidak bisa sembarangan mengajukan pendapat secara bebas tanpa memiliki acuan formal. Kalaupun dibolehkan, pendapat itu di akhir saja, setelah berhasil mengelaborasi pandangan-pandangan para filsuf.

Bahkan di STF Driyarkara ini, terutama untuk level S3, kami tidak diperbolehkan untuk membaca teks primer dalam bentuk terjemahan. Jika teks aslinya dalam bahasa Prancis atau Jerman, ya kita harus mampu berbahasa Prancis atau Jerman untuk bisa membacanya. Sementara saya tahunya membaca teks itu bebas saja, bahkan dalam bahasa Indonesia pun boleh. Di STF Driyarkara saya belajar bahwa berfilsafat itu harus disiplin, karena filsafat juga sekaligus ilmu yang memiliki kekhasan. Di STF Driyarkara saya belajar bahwa kegiatan berfilsafat belum tentu mampu dilakukan semua orang, seperti halnya tidak semua orang bisa menjadi hakim, tidak semua orang bisa menjadi dokter, dan tidak semua orang bisa menjadi seniman. Tadinya saya pikir sepanjang kita ini rajin berdiskusi, membaca tipis-tipis, dan ikut kuliah, kita juga bisa menjadi "ahli filsafat". 

Namun sependek pengamatan, saya juga menemukan terdapat kelemahan dari cara-cara berfilsafat yang terlampau tekstual tersebut. Di ruang publik, terkadang berfilsafat dengan "tangan kosong" itu perlu, dalam artian bahwa kita harus mampu menganalisis fenomena terkini dengan cara-cara khas filsafat yang mendalam sekaligus "tak terduga" tetapi tanpa harus bertele-tele mencarinya ke teks-teks primer dari berabad-abad silam. Kelemahan pembaca tekstual ketat adalah kelambatannya dalam melakukan deduksi, sehingga agak delay dalam mengenali suatu problem di hadapan, yang mungkin masih asing dalam pembacaan pemikir-pemikir besar di masa lampau. Misalnya dalam membaca fenomena TikTok, kemana mestinya filsuf tekstual ini menyandarkan pemikirannya? Platon? Descartes? Marx? Deleuze? Bisa jadi fenomena TikTok ini sangat khas dan belum ada padanan analisisnya di zaman dulu. 

Berfilsafat dengan landasan teks tentu keren, tetapi menurut saya jangan sampai terjebak terus menerus dalam pendapat-pendapat jadul para filsuf. Mereka juga belum tentu mengantisipasi hal-hal seperti keributan di Twitter/ X, peristiwa pandemi COVID-19, atau woke culture yang saat ini tengah naik daun. Umumnya orang-orang terlampau tekstual ini jatuhnya menjadi reduksionis, "Ah ini cuma neo-sofis", "Ah ini mengulangi pandangan raja filsuf-nya Platon", "Ah ini sudah pernah dikatakan oleh Rousseau". Ada benarnya, tetapi tidakkah ada perbedaan antara pandangan-pandangan tersebut dengan fenomena sebenarnya yang terjadi hari ini? Bukankah sejarah memang merepetisi, tetapi dengan cara yang dinamis, yang membawa sekaligus meninggalkan unsur-unsur yang sudah lama? Terkadang, atau bahkan seringnya, berfilsafat dengan tangan kosong alias tanpa senjata teks ini amat diperlukan demi membuat terang apa yang jadi problem di masa sekarang.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...