Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Agensi


Bahkan hingga setahunan yang lalu, tidak terbayang bahwa pencapaian AI akan sejauh ini. Keberadaan Chat GPT mengubah banyak hal. Chat GPT kelihatannya mampu melewati tes Turing, yakni tes yang membuat kita tidak bisa menemukan perbedaan antara percakapan teks yang dihasilkan oleh manusia dan percakapan teks yang dihasilkan oleh mesin. Kemajuan tersebut memunculkan kembali wacana tentang AI sebagai agensi atau diartikan secara sederhana sebagai individu yang otonom dan memiliki kehendak bebas. Wacana AI sebagai agensi mungkin pernah tenggelam setelah melihat kenyataan bahwa AI ternyata hanya mampu menjadi weak AI yang cuma mampu mereplikasi kerja pikiran secara partikular. 

Ide tentang strong AI atau AI yang mampu mereplikasi sepenuhnya kerja pikiran manusia salah satunya ditolak John Searle lewat chinese room argument. Menurut Searle, AI hanya mampu melakukan manipulasi simbol tetapi tidak mengerti mengapa harus melakukannya. AI tidak paham makna dari tindak tanduknya. Saat disodori contoh kemenangan komputer Deep Blue dalam pertandingan catur melawan juara dunia Gary Kasparov tahun 1997, Searle menanggapi bahwa kemampuan semacam itu tidak lebih dari cara kerja kalkulator: hanya menghitung. Deep Blue pun demikian, hanya melakukan kalkulasi atas langkah-langkah dalam permainan catur. 

Namun pertanyaannya, apa masalahnya jika AI tidak mampu memaknai atau tidak mengerti kegiatannya sendiri? Bukankah dalam kerangka eksternalitas, AI tersebut tetap menang catur dan mampu mereplikasi percakapan? Bukankah tidak penting apakah AI mengerti atau tidak apa yang dijalankannya? Toh, kita juga tidak harus selalu mengetahui latar belakang orang dalam melakukan tindakannya. Disinilah muncul problem lain tentang kesadaran. Kalaupun memang benar AI mampu mereplikasi kerja pikiran manusia mendekati sempurna, pertanyaan berikutnya, apakah AI memiliki qualia atau kesadaran akan pengalaman subjektif-individual? Qualia ini adalah juga problem yang dimasalahkan Thomas Nagel dalam tulisannya yang berjudul What Is It Like to Be a Bat?. Tesis Nagel memperlihatkan bahwa kalaupun kita tahu segala hal tentang cara kerja kelelewar, kita tetaplah tidak tahu bagaimana rasanya menjadi kelelawar. 

Masalah ada tidaknya kesadaran di luar diri kita, termasuk pada mesin, adalah hal yang berupaya dipecahkan filsuf-filsuf termasuk Descartes. Descartes beranggapan bahwa automata atau mesin yang seolah bergerak atas kemauan sendiri (tanpa terlihat digerakkan oleh pihak eksternal) dapat merespons berbagai sentuhan fisik dan bahkan menunjukkan rasa sakit, tetapi mesin tidak dapat mengatur perkataannya atau merespons suatu percakapan dengan berbagai macam cara. Descartes hendak mengatakan bahwa mesin, pada titik tertentu, memang bisa berinteraksi dengan manusia, tetapi tidak punya kompleksitas dalam merespons secara linguistik. Pandangan Descartes tersebut telah rubuh oleh Chat GPT yang mampu melakukan respons kompleks secara linguistik. 

Kemampuan Chat GPT telah mematahkan pandangan Descartes tentang automata, tetapi tetap belum terjawab apakah AI memiliki kesadaran atau tidak. David Chalmers menegaskan terlebih dahulu jika kesadaran mensyaratkan otak secara biologis, maka AI tidak mungkin punya kesadaran. Namun Chalmers mengingatkan bahwa cara kerja komputer juga rumit seperti otak biologis, bahkan dalam konteks teknologi AI masa kini, AI sudah kian dekat untuk menghasilkan apa yang disebut sebagai agensi terpadi (unified agency). Agensi terpadu ini secara umum diartikan sebagai replikasi dari individu yang solid dengan berbagai kompleksitasnya. Saat AI sudah bisa "melahirkan" Einstein, Aristoteles, dan orang-orang lainnya, maka kita bisa bayangkan AI memiliki "kesadaran". Optimisme Chalmers tidak main-main, ia memprediksi satu atau dua dekade lagi AI akan punya semacam "Qualia". Jika prediksi Chalmers benar, mungkin suatu hari nanti kita tidak akan tahu sedang berbicara tatap muka dengan manusia atau AI.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...