Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Siklus


Begitulah manusia. Di usia muda saat sedang kuat-kuatnya, mereka sibuk mencari uang, menumpuk kekayaan, sampai sadar bahwa waktunya tinggal sebentar. Di saat kepala empat, saat tenaga perlahan-lahan menuju penurunan, mulailah mereka memikirkan apa yang disebut sebagai warisan. Mereka tahu bahwa mereka akan lenyap, maka itu harus ada sesuatu yang ditinggalkan bagi dunia. Mereka yang memiliki anak dalam arti tertentu sudah punya sasaran tetap pada siapa warisan tersebut ditinggalkan. 

Namun terlepas punya anak atau tidak, seseorang biasanya berpikir keras tentang apa yang seharusnya ditinggalkan bagi dunia. Di situlah uang yang telah dikumpulkannya mulai dibelanjakan sedikit demi sedikit, untuk apa yang dibayangkan sebagai "legacy". Seseorang tidak lagi melulu menikmati kegiatan menerima, melainkan mulai memperbanyak kegiatan memberi. Tentu dasarnya bukan selalu kemuliaan dan kebaikan hati, tapi juga perasaan bersalah, perasaan ingin menebus segala kerakusan masa mudanya dan juga ketakutan, ketakutan akan mati. 

Namun ada kekhawatiran lain yang tak kalah hebatnya, yakni ketakutan menghadapi masa tua. Di masa tua, seseorang takut sendiri dan takut sakit-sakitan. Disitu jugalah ia kadang enggan mengeluarkan uangnya terlalu banyak. Ia mesti mengantisipasi biaya pengobatan atau biaya mengatasi kebosanan sendirian. 

Menjadi tua memang bukan periode yang menyenangkan. Terdapat ketakutan sana sini dan perasaan iri hati sana sini melihat anak muda yang masih bertenaga dan bisa melakukan apa saja. Waktu terus melaju dan ia yang menuju tua kemudian mulai merasa irelevan dan ditinggalkan. Hal yang ia ingat masih tentang kaset, radio, dan majalah, tapi anak-anak terkini sudah merambah Discord, Threads, dan aplikasi lainnya yang semakin steril dari keterlibatan orang-orang tua. 

Hal yang tersisa dari seorang tua adalah uang yang ia tumpuk semenjak mudanya. Disitulah ia mulai melirik anak-anak yang generasinya jauh di bawahnya, untuk dipekerjakan, untuk membuatkan legacy baginya, dan anak-anak ini, karena masih muda dan polos, dengan bangga menerima tawaran itu. Tawaran untuk menebus kerakusan masa muda dari seorang tua. Lalu si anak-anak muda ini juga beranjak kian dewasa dan menjadi tua juga pada akhirnya. Saat tenaga tak lagi kuat, mereka melirik generasi di bawah untuk mengatasi rasa bersalah. Begitu seterusnya. 

Apa poinnya? Hidup adalah kebaikan yang selalu datang terlambat. Datang saat ketakutan sudah datang, saat kekhawatiran terlalu besar. Kebaikan jangan-jangan tidak pernah muncul dari hati yang bersih, melainkan hati yang keruh.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...