Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Pertaruhan


Apakah Heidegger tahu bahwa Nazi nantinya akan melakukan kejahatan kemanusiaan? Apakah Sartre tahu bahwa Uni Soviet ujung-ujungnya akan bubar? Apakah Cioran tahu bahwa gerakan yang ia bela, Garda de Fier, membantai orang-orang Yahudi dalam perebutan kekuasaan? Bukan maksudnya memaklumi langkah-langkah mereka, tapi apakah mereka sudah tahu sejak awal bahwa pilihannya tersebut adalah pilihan historis yang keliru? 

Dosa-dosa mereka akan terus diingat dalam sejarah. Heidegger terbilang "beruntung" karena pemikirannya terlalu canggih sehingga sebagian orang tetap mempelajarinya. Mereka tahu bahwa Heidegger berdosa, tetapi memilih untuk memisahkan pemikirannya dari aktivitas politiknya. Bukan maksud membenarkan Heidegger, tetapi mumpung menjelang tahun politik, kita akan lebih mudah membayangkan hal ini: mungkin kita sedang dihadapkan pada pilihan presiden, caleg, dan partai untuk berkuasa di pemerintahan. Beberapa dari kita tidak cuma memberikan dukungan dari luar, tapi ada juga yang diajak ke dalam. Motifnya tentu beragam, ada yang memang benar-benar bersimpati, haus kekuasaan, atau sedang perlu uang. 

Dalam kondisi demikian, maka pilihan-pilihan politik tidak selalu jernih. Baik Heidegger, Sartre, atau Cioran, di masa saat terlibat gerakan-gerakan itu, sudah dikenal sebagai pemikir dan penulis jempolan. Tentu mereka diajak bicara, diberitahu soal visi misi yang pasti terdengar bagus-bagus, dan dijanjikan iming-iming yang bisa jadi besar. Hal ini tentu menggiurkan, apalagi bagi Cioran, yang pekerjaannya waktu itu cuma penulis (Sartre dan Heidegger mending, sudah jadi dosen). Coba bayangkan: Cioran lahir tahun 1910 dan Garda de Fier aktif antara tahun 1927 sampai tahun 1941. Kalaupun Cioran banyak terlibat di sekitar tahun 1930-an, maka usianya sekitar 20 atau maksimal 30 tahun. Masih tergolong muda. Mungkin ia memilih gerakan tersebut dengan naif dan tanpa pikir panjang (terbukti, Cioran di usia tuanya menyesal pernah bersimpati pada Garda de Fier). 

Sartre kelihatannya juga sukar untuk tahu yang sebenar-benarnya. Di era Perang Dingin, rasanya menjadi pilihan keren untuk menjadi intelektual yang pro Blok Timur. Sartre mencitrakan dirinya sebagai pemikir antikolonialisme dan menuding Amerika sebagai negara yang menuju "pra-fasisme". Begitu bersemangatnya Sartre, sampai-sampai Merleau-Ponty menjulukinya sebagai "ultra-Bolshewik". Sartre wafat tahun 1980 atau satu dekade sebelum Uni Soviet akhirnya bubar. Amerika "menang" Perang Dingin dan wajah dunia tidak pernah lagi ramah terhadap komunisme - sosialisme. Untung Sartre sudah meninggal, sehingga ia tidak perlu menanggung malu akibat pernah begitu aktif menangkal segala kritik bagi Uni Soviet. 

Bayangkan kita sekarang dihadapkan beberapa pilihan, entah itu tim Ganjar, tim Anies, tim Prabowo. Saat berada di luar, mungkin kita mudah untuk bersikap sinis terhadap mereka dan segenap sistem politik. Namun saat mulai dirayu, diberitahu kebaikan-kebaikan dari si capres, caleg, dan sebagainya, apalagi diberitahu jumlah uang yang bisa diperoleh, mungkin kita langsung berpikir: oh, tidak ada salahnya juga ya, mungkin mereka akan membawa perubahan ke arah lebih baik. Saat terlibat dan berada di dalam, mana terpikir bagi kita jika salah satu pemimpin tersebut, ternyata, amit-amit, menyimpan nafsu keji untuk membantai ras tertentu, atau memperkuat angkatan perang supaya bisa menginvasi seluruh Asia. 

Sekali lagi bukan membenarkan Heidegger dan filsuf sejenis lainnya yang ternyata memilih opsi keliru secara historis. Kenyataannya, ada pemikir-pemikir yang waras yang tidak memilih untuk terlibat bersama gerakan-gerakan yang pada akhirnya menjadi blunder kemanusiaan tersebut. Kropotkin misalnya, sudah sejak awal tidak setuju dengan Uni Soviet dan ternyata ia banyak benarnya. Camus akhirnya pisah jalan dengan Sartre salah satunya karena Camus tidak percaya akan Uni Soviet dan ternyata Camus benar. Namun seberapa besar mereka Heidegger dan Sartre punya niat jahat dalam keterlibatan bersama gerakan-gerakan itu, sepertinya perlu diperiksa ulang atau bahkan kita tidak pernah bisa tahu yang sebenar-benarnya. 

Hal yang bisa kita refleksikan adalah hal apa yang kita lakukan jika dihadapkan pada pilihan untuk berpartisipasi pada politik (praktis). Para pemikir, secerdas apapun, juga manusia, yang bisa tergiur dan bahkan tertipu oleh janji-janji manis, apalagi uang besar yang bisa mengatasi kesusahannya dalam menyambung hidup. Filsuf tidak sekadar tentang alam fikirnya yang seolah steril dari kedagingan. Filsuf justru selalu ada dalam pertaruhan, apakah pilihannya dalam hidup akan dikenang atau dicemooh oleh sejarah. Tapi jika ia tidak mengambil langkah apapun, pikiran-pikirannya akan tetap berada di sebuah alam yang tenang, alam yang tanpa pertaruhan, yang tidak teruji oleh zaman.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...