Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Reuni


Beberapa waktu lalu, di grup WA sekolah saya dulu (entah SMP entah SMA atau bisa jadi keduanya), muncul ajakan untuk reuni. Tentu saja saya tidak tertarik menghadirinya. Dan ternyata benar, dari foto pasca reuni, yang datang ya itu lagi-itu lagi: mereka yang mungkin tidak kesulitan untuk memasuki ring pergaulan mainstream pada masa sekolah. Namun kita tahu tidak semua orang bisa seperti itu. Ada orang-orang yang sepanjang sekolah begitu tertutup sehingga sukar sekali bergaul. Bahkan beberapa diantaranya menjadi korban perundungan. Bagi mereka, reuni yang sifatnya besar-besaran bisa jadi merupakan mimpi buruk, semacam panggilan atas kenangan lama yang tidak mau diingat-ingat lagi. 

Tentu saja orang-orang tereksklusi ini bisa jadi melakukan reuni, tetapi antar mereka sendiri. Bagi mereka yang melabeli diri sebagai outcast atau "orang-orang buangan", undangan "reuni akbar" bisa jadi tidak pernah terdengar benar-benar "akbar", karena yang terjadi adalah "reuni para pemenang", "reuni pergaulan mainstream" atau malah sebutan yang lebih buruk: "reuni para perundung". Jadi, apa motif reuni akbar jika tidak pernah benar-benar akbar? Bisa jadi hanya mengulang perasaan pernah berkuasa antara orang yang itu-itu juga. Lucunya, saat obrolan-obrolan mulai awkward(karena memang beberapa sudah tidak nyambung), mereka mulai mempraktikkan kekuasaan lamanya: berlaku sok kuasa, mengingat-ingat ejekan lama terhadap para outcast. Dengan kecenderungan semacam itu, para outcast mana mau hadir dalam reuni akbar? 

Mungkin terdengar menyulitkan, tetapi bisakah acara reuni akbar tidak berhenti pada sekadar hura-hura? Nostalgia memang menyenangkan, tetapi bagi orang-orang yang melalui masa sekolah dengan pergaulan yang buruk, bisa jadi tidak banyak hal yang ingin diingat-ingat. Maksudnya, bisakah acara reuni akbar juga memiliki misi rekonsiliasi? Semacam acara maaf-maafan satu sama lain, tetapi diadakan serius dan mendalam, bukan selebrasi seperti halnya halal bi halal. Jika demikian adanya, reuni akbar bisa lebih bermakna, karena siapa tahu: ada orang-orang yang begitu membenci masa lalunya akibat kesulitan bergaul, dan membawa luka tersebut hingga dewasa. Memang semuanya sudah telanjur, tetapi sebuah permaafan tidak pernah terlambat. Setidaknya kenangan tentangnya tidak lagi terlalu menyakitkan, karena si pelaku atau siapapun itu, telah menyadari kekeliruannya di masa lampau. 

Maka konsep reuni atau "bersatu kembali" juga adalah konsep yang unik. Bagi sebagian orang, lebih indah jika membayangkan surga sebagai reuni dengan orang-orang yang disayang, ketimbang bergaul dengan bidadari-bidadari yang baru dikenal. Bahkan pertemuan dengan Tuhan bisa jadi dibayangkan sebagai reuni: bahwa kita pernah berjumpa dengan-Nya, lalu berjumpa kembali, seperti nostalgia dengan "sahabat lama". Begitupun saat ada saudara atau teman dekat meninggal, kita kerap mengucap: sampai jumpa lagi. Ungkapan tersebut adalah keyakinan akan terjadinya sebuah reuni. 

Maka reuni adalah semacam kepulangan. Reuni adalah pergi menuju masa lalu. Saat saya mengatakan: saya pulang. Saya sebenarnya sedang mengatakan: saya kembali pada mereka yang menerima saya. Maka itu juga konsep reuni mesti diperbaiki dari pengertian filosofisnya: ia harus menjadi tempat orang-orang diterima, dan juga disayang.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...