Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Selisih



Pada setiap kita berada di suatu peristiwa, kita ada di suatu peristiwa tersebut. Maksudnya, kita ada di sana, menjadi bagiannya, melebur dalam ruang dan waktunya. Namun saat ruang dan waktu itu sudah berbeda, kita kemudian punya kemampuan untuk menceritakannya ulang, dalam lisan maupun tulisan. Namun apapun itu yang direpresentasikan oleh lisan ataupun tulisan, bukanlah persisnya peristiwa "itu". Ia telah memiliki "selisih" antara yang berada di ruang dan waktu sejatinya, dan ruang dan waktu yang telah diceritakan ulang. 

Misalnya, terdapat periode yang kelihatannya rumit pada kehidupan Lacan antara tahun 1953 hingga 1962 terkait posisinya dalam beberapa asosiasi psikoanalisis. Sembilan tahun bukanlah periode yang bisa dikatakan singkat dalam kehidupan manusia. Namun kita membacanya bisa jadi sangat ringan, bahwa 1953 Lacan mengalami hal ini, lalu mengalami hal itu, begitu seterusnya hingga tahun 1962. Apakah aslinya demikian "ringan"-nya? Saya membayangkan tidak sama sekali: mungkin Lacan mengalami stres berat, menelpon temannya satu per satu, meminta pertolongan, galau berkepanjangan, memasuki ruangan dengan penuh curiga pada banyak kolega, dan sebagainya. Namun di hadapan sebuah kronologi kehidupan seseorang, kejadian demi kejadian rumit tersebut tampak berlalu begitu saja. 

Namun tulisan ini bukan hendak mempermasalahkan ketidakmungkinan representasi itu (bahwa peristiwa sejati adalah selalu peristiwa sejati yang tidak bisa diwakili oleh lisan atau tulisan yang terpisah ruang dan waktu). Justru selisih itulah yang penting dalam perjalanan umat manusia, bahwa dalam selisih, orang menafsirkan lebih jauh apa yang ada di antaranya: sebuah ruang dan waktu antara peristiwa dan non-peristiwa. Selisih itu diselami di antaranya lewat film, novel, riset-riset lebih jauh, atau sekadar berada di imajinasi orang-orang yang memikirkannya.

Problem selisih ini juga adalah salah satu keresahan yang dipikirkan filsafat berabad-abad. Karena segala sesuatu berselisih, maka segala sesuatu sekaligus takajeg sehingga perlu dirajut oleh fondasi metafisis yang kokoh. Pada segala selisih yang terjadi, filsafat menyatukannya dalam macam-macam klaim, mulai dari akal budi yang mengetahui segala, rasio murni hingga dialektika sejarah. Kita mencoba "menyatukan" selisih lewat pikiran-pikiran, menjadikannya sesuatu yang sebenarnya satu rangkaian, satu gerbong, dengan lokomotif bernama metafisika. Usaha mengatasi selisih, adalah hal terbesar yang dilakukan rasio

Namun selisih adalah sekaligus ketertutupan, sesuatu yang hanya mampu dikunjungi oleh memori seseorang atau suatu kelompok ke masa-masa terjadinya peristiwa "itu". Selisih tidak bisa ditampik kebenarannya, meski bisa disikapi berbeda-beda atas kebenaran tersebut. Pada seseorang yang baru saja patah hati, ia mengalami selisih itu, duduk di antara kehancuran cinta dan berseminya cinta, ia berada dalam tegangan antara hidup yang kehilangan jalannya dan hidup yang pernah begitu bertujuan. 

Pada akhirnya yang kita kenang sekaligus rayakan, adalah selisih itu, bukan tentang masa lalunya, bukan tentang perasaan di masa kini, tetapi hal-hal yang berada di antaranya, yang terpisah oleh ruang dan waktu, tetapi kita kerap meregang bersamanya, menghidupi tegangannya. Antara narasi tentang Lacan dan peristiwa yang sebenarnya dihadapi Lacan, pada rongga-rongga itu kita menikmati imaji-imaji tentangnya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...