Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Toleransi


Toleransi adalah kata yang indah. Tapi iyakah? Tidak adakah masalah sama sekali dalam konsep toleransi? Toleransi mungkin secara sederhana bisa diartikan sebagai sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan supaya dapat hidup bersama dan berdampingan. Tidak ada masalah, mungkin, tetapi bisa saja dipermasalahkan: apakah toleransi bersifat eksklusif hanya pada mereka yang juga toleran? Jika toleransi hanya terbatas pada mereka yang punya sikap toleran, tidakkah artinya toleransi juga punya sisi intoleran terhadap mereka yang intoleran? Permasalahan ini pernah disinggung oleh Karl Popper dalam gagasannya tentang paradoks toleransi. Bagi Popper, mereka yang intoleran tidak perlu ditoleransi karena jika diberi panggung, si intoleran nantinya akan menyingkirkan mereka yang toleran. 

Popper mungkin ada benarnya, tapi juga bisa dipermasalahkan: tidakkah boleh-boleh saja bagi seseorang atau kelompok tertentu memandang perbedaan sebagai sesuatu yang menyusahkan bagi prinsip yang dianutnya? Di sisi lain, tidakkah juga "kodrati" bagi seseorang atau sebuah kelompok untuk hidup dengan memandang orang lain sebagai "yang lain" supaya dirinya dan kelompoknya tidak "tercemari"? Pandangan semacam itu mungkin menjadi seperti ancaman bagi prinsip toleransi, tetapi bukankah kita sebaiknya juga toleran terhadap hal demikian? Tidakkah mereka yang punya prinsip toleransi juga enggan "dicemari" oleh mereka-mereka yang dianggap intoleran? 

Menghargai perbedaan memang perlu, tetapi aku juga merasa Kwame Anthony Appiah, si pemikir kosmopolitanisme ada benarnya soal problem dari pluralisme: aku dan kamu berbeda, lalu selesai. "Menerima perbedaan" dalam arti demikian sebenarnya bisa jadi bukan benar-benar "menerima perbedaan", tetapi hanya mengiyakan bahwa antara satu kelompok dan kelompok lain memang berbeda, dan mari lanjutkan kesibukan kita masing-masing asal tidak saling ganggu. Terdapat kesan bahwa toleransi juga demikian, bahwa yang terjadi hanyalah selebrasi atas perbedaan, suatu penerimaan demi tujuan yang satu: "hidup damai dan rukun" Tapi apakah itu "hidup damai dan rukun", apakah tentang mampu mengejar apa yang kita inginkan dan cita-citakan? Tapi apakah yang kita inginkan dan cita-citakan itu? Apakah kesejahteraan dan kesuksesan? Jika iya, adakah yang dikorbankan dalam usaha-usaha itu? Nah, jika ada, bisakah toleransi mendamaikan semua itu, menghargai "perbedaan" dalam hal ketimpangan? 

Dalam pengertian demikian, toleransi bisa jadi semacam justifikasi untuk "tidak saling mencampuri urusan". Toleransi menjadi sebatas "aku dan kamu berbeda" jadi tidak usah saling mengganggu: padahal perbedaan itu bisa sesuatu yang "kodrati", bisa juga konstruksi, perbedaan yang "disengaja". Jika memang toleransi adalah pembenaran bagi perbedaan yang dikonstruksi sedemikian rupa, maka toleransi adalah sekaligus nama lain dari sikap "masa bodoh" dan "tidak peduli", semacam istilah halus bagi individualisme atau bahkan egoisme. Seorang kawan bahkan mengomentari dengan sinis, bahwa toleransi adalah situasi yang dibutuhkan sebagai prasyarat bagi investasi ekonomi. 

Tentu saja toleransi tidak selalu seperti itu. Toleransi ada juga yang penting, yang memang dibutuhkan untuk mengatasi perbedaan yang "kodrati", yang memang tidak mungkin diubah karena sifatnya yang niscaya. Misalnya, perbedaan antar agama mau tidak mau mesti ditoleransi karena hal-hal tersebut biasanya ada unsur terberi dan kerap tidak perlu alasan rasional untuk memeluknya (sehingga tidak selalu bisa diajak berdiskusi). Hal-hal tentang agama juga malah kadang perlu semacam "ketertutupan" supaya bisa fokus terhadap apa yang diyakininya masing-masing. Bahkan sikap terlampau toleran kerapkali jatuh pada pembenaran atas keengganan untuk mendalami keyakinan sendiri dan malah menjadi oportunisme sempit: soal keimanan menjadi tidak penting, yang penting "kebersamaan". 

Hal yang-penting-"kebersamaan" ini juga bisa dikritisi sebagai selebrasi permukaan: toleransi menjadi jargon, sesuatu yang dibesar-besarkan seperti slogan politik. Toleransi menjadi pertunjukkan kekuatan sebagaimana halnya parade militer, semacam kampanye penuh kemeriahan padahal mengandung sisi yang berbahaya: keinginan untuk menghancurkan si intoleran. Hal yang lebih buruk adalah apa yang dimaksud intoleran ini definisinya tidak jelas. Siapa si intoleran itu jadinya hanya diukur berdasarkan barometernya si paling toleran: ia yang berbeda dengan kami, itulah si intoleran. 

Maka itu ketimbang kian sinis memandang jargon toleransi, lebih baik sama sekali tidak menjadikannya jargon atau bahan kampanye. Saat hal-hal tentang toleransi itu diterima dalam pikiran, seketika itu juga dicerna melalui tindakan. Toleransi hanyalah menjadi toleransi saat dipraktikkan, saat berhenti diperkatakan, melainkan mewujud dalam perbuatan. Mari diam saja tentang toleransi, dan bertindaklah yang toleran, tanpa perlu dirayakan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...