Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Tentang Keramahan



Bagaimana menerjemahkan hospitality? Keramahan mungkin bisa, meski tidak persis menggambarkannya, tapi kita anggap saja kata "keramahan" yang dimaksud dalam tulisan ini, merupakan terjemahan dari hospitality. Filsuf Prancis, Jacques Derrida, pernah menulis gagasannya tentang keramahan dalam buku berjudul Of Hospitality yang isinya terdiri dari dua tulisan yang diambil dari kuliahnya, yang satu berjudul Foreigner Question dan lainnya bertajuk Step of Hospitality/ No Hospitality. Dalam tulisannya tersebut, Derrida berangkat dari pernyataan Kant tentang "universal hospitality" yang diartikan sebagai: “(…) the right of a stranger not to be treated as an enemy when he arrives in the land of another. One may refuse to receive him when this can be done without causing his destruction; but, so long as he peacefully occupies his place. one may not treat him with hostility.”

Derrida mengritik pandangan Kant dalam Perpetual Peace tersebut sebagai "keramahan bersyarat" (conditional hospitality). Kant memang seolah membebaskan "hak untuk mengunjungi" bagi pendatang/ orang asing, tetapi terkait "hak untuk tinggal", dianggap memerlukan syarat-syarat tertentu. Derrida menganggap bahwa persyaratan tersebut bertentangan dengan konsep keramahan itu sendiri, sehingga ia menawarkan keramahan murni (pure) dan tidak bersyarat (unconditional). Mereka yang datang disambut tanpa perlu dipertanyakan identitasnya, keperluannya, dan bahkan namanya. Begini kata Derrida dalam Of Hospitality:

“... absolute hospitality requires that I open up my home and that I give not only to the foreigner (provided with a family name , with the social status of being a foreigner, etc.), but to the absolute, unknown, anonymous other, and that I give place to them, that I let them come, that I let them arrive, an d take place in the place I offer them, without as king of them either reciprocity (entering in to a pact) or even their names.”

Bagi Derrida, keramahan tidak bisa didikte oleh aturan, norma, moral, atau beraneka ketentuan yang berlaku sebelumnya. Namun seperti biasa, Derrida enggan terjebak juga pada konsep keramahan yang baku (harus begini harus begitu), melainkan keramahan, baginya juga adalah tegangan antara "negosiasi" dan "kompromi", antara "tuan rumah" dan "pendatang". Tentu sebagian dari kita akan mempertanyakan: bagaimana jika pendatang itu jahat? Bagaimana jika ia mengambil barang milik kita? Namun bisa jadi di situlah letak persoalannya, kita mengandaikan ada kepemilikan privat, sehingga menganggap mereka yang "mendekat" itu harus disikapi dengan sikap permusuhan (hostility). Bagi Derrida, meski keramahan itu sifatnya total, tapi juga tidak bisa lepas dari tegangan yang diistilahkan sebagai "hostipitality". Hal yang lebih pokok, bagi Derrida, adalah membuang syarat-syarat Kantian yang justru membuat keramahan itu menjadi konsep yang tidak mungkin, atau senantiasa contradictio in terminis.

Memang kelihatannya Derrida menawarkan sesuatu yang utopis (ia sendiri mengakui bahwa unconditional hospitality yang murni adalah tidak mungkin), di dunia yang serba mengagungkan kepemilikan pribadi dan senantiasa melihat orang lain sebagai pihak yang "jahat" - seperti kondisi alamiahnya Hobbesian. Namun Derrida menuliskan demikian kemungkinan salah satunya berangkat dari pengalaman pribadi sebagai imigran dari Aljir yang datang ke Prancis, yang pernah mengalami perlakuan anti-semitik hingga dikeluarkan dari sekolahnya, sehingga konsep keramahan, baginya, selalu sekaligus bersifat permusuhan akibat aneka syarat yang diterapkannya.

Selain itu, Derrida juga menyinggung perbedaan antara visitation (kunjungan) dan invitation (undangan). Dalam invitation, tuan rumah memilih siapa yang boleh datang, yang dengan demikian ia sudah bersiap menyambutnya, dan sudah berasumsi bahwa undangan ini tentu tidak akan mengambil properti pribadi dan mengganggu kenyamanan si tuan rumah. Pada undangan, keramahan bisa lebih dipersiapkan, meski bisa saja artifisial (karena undangan dianggap sudah memenuhi syarat-syarat penghormatan terhadap tuan rumah). Sementara pada visitasi, atau kunjungan, yang dalam konteks ini sifatnya mendadak, tidak diantisipasi, menempatkan tuan rumah pada kebingungan, tetapi pada titik itu justru keramahannya "diuji", ia bisa saja tetap menerima, membuat si pengunjung menjadi teman dalam waktu terbatas, meski keduanya bertukar rasa tidak nyaman, bahkan rasa sakit. Terkait visitasi dan invitasi ini, memang pernah ada masa-masa keluarga saya dikunjungi oleh orang yang tidak diantisipasi, tidak janjian, mereka hanya datang, "cuma main". Kami pun terbiasa seperti itu, tanpa perlu menanyakan: "Ada keperluan apa?" Pada titik ini, terjadi ketegangan, saling menerka perlakuan yang akan diterima. Namun bisa jadi, pada titik itu keramahan yang tanpa syarat menjadi mungkin. Sementara di perkotaan hari ini, agak sukar untuk membayangkan adanya kunjungan mendadak semacam itu. Segalanya mesti berbasis undangan, harus sudah jelas maunya apa, dan sesuai dengan maunya si pengundang.

Lalu, apakah unconditional hospitality itu mungkin? Saya tiba-tiba teringat saat ibu menceritakan tentang kondisi rumahnya dulu saat masih tinggal bersama orangtuanya, yang berarti juga merupakan rumah kakek nenek saya. Katanya, sudah sangat terbiasa jika di rumah tiba-tiba ada orang asing yang ikut makan dan nongkrong, dan tiada satupun dari penghuni rumah yang menanyakan siapa dirinya dan apa keperluannya. Orang asing tersebut diterima begitu saja, dengan pikiran baik bahwa mungkin orang itu kenalan salah satu dari kami, tapi itu tidaklah terlalu penting. Mungkin semacam itulah keramahan versi Derrida, dengan segala risiko bahwa orang asing tersebut bisa saja jahat, tapi bukankah bisa jadi, seketat apapun kita mewaspadai orang, setinggi apapun pagar rumah, hal tersebut tidak menjamin orang lain tidak bisa mengambil kepemilikan pribadi kita. Jadi, mengapa tidak sekalian menyambut semuanya saja dengan ramah?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...