Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
(Tulisan sambutan untuk konser Harpa Nusantara dari Sisca Guzheng Harp, Gedung Kesenian Rumentang Siang, 30 September 2019)
Sisca Guzheng Harp adalah musisi yang cukup lama saya kenal. Dulu, sekitar delapan tahun lalu, kami bersama-sama menjadi pemain reguler di Hilton, dengan dia menjadi pianis dan saya menjadi gitaris. Tak lama kemudian saya tahu juga bahwa dia ternyata lebih memfokuskan penguasaan instrumennya pada guzheng (kecapi Tiongkok) dan harpa - yang kemudian kita ketahui dari mana asal muasal nama panggungnya -.
Hal yang baru saya ketahui belakangan adalah ini: Sisca ternyata punya perhatian lebih pada tradisi dan sekaligus juga kemasakinian. Tentu masa kini ini ada dua aspek, yaitu aspek populer dan aspek kontemporer dalam arti "new movement". Ini terlihat sekurang-kurangnya dari aktivitas Sisca yang selain bermain untuk dimensi hiburan (baca: "weddingan"), juga untuk acara-acara apresiatif seperti teater, puisi, dan musik yang "tidak biasa". Misalnya, terakhir, saya melihat sendiri bagaimana Sisca dengan lihainya melakukan eksplorasi musik dalam pertunjukan Hades Fading karya Sandra Fiona Long, dengan memperlakukan guzheng-nya secara tidak konvensional. Rupanya, rekam jejaknya pun menunjukkan bahwa Sisca, meski sebentar, pernah bersentuhan dengan legenda "musik baru" Indonesia, Slamet Abdul Sjukur.
Maka itu bukanlah hal yang datang dari ruang hampa ketika Sisca merancang konser Harpa Nusantara. Pemikirannya agaknya timbul dari elaborasi yang manis antara pikirannya yang ke depan, kecintaannya pada tradisi Nusantara, tanpa mengabaikan peluang bahwa konsep ini bisa dilanjutkan secara komersil karena kelihatannya belum ada yang serius menggarapnya selain Sisca.
Sisca memang seorang keturunan Tionghoa, dan maka itu mungkin diantara kita timbul pertanyaan sejauh mana kelekatan dia pada aspek-aspek tradisi Nusantara. Untuk konser ini, ke-Nusantara-an "masih" sebatas pada aspek-aspek motif dan visual yang melekat pada harpa, yaitu empat prototipe dengan motif lokal yaitu Toraja, Kawung, Dewi Sri, dan Mega Mendung. Eksperimen ini bukannya tidak terbuka pada kemungkinan kritik, seperti misalnya: mengapa aspek-aspek tidak pada riset terhadap kekhasan alat petik Nusantara saja, yang karakteristiknya seperti harpa?
Namun agaknya kita tidak bisa merta membebankan idealisme semacam itu secara langsung, pada seniman yang tengah berjuang membumikan latar belakang ke-Tionghoa-an nya pada dimensi ke-Nusantara-an yang begitu luas dan juga masih dinamis. Singkat kata: Sisca memulainya, dan membuka wacana penting bagi kita semua, tentang betapa Nusantara kita disuling dari berbagai kebudayaan besar, dan kebudayaan Tiongkok juga berkontribusi di dalamnya. Ini adalah tawaran wacana antar budaya yang penting dan menarik, apalagi jika ditambah dengan kenyataan bahwa harpa identik dengan instrumen "musik klasik Barat". Dalam arti kata lain, konser Harpa Nusantara adalah perayaan budaya yang megah sekaligus bersahaja. Kita akan semakin merasakannya ketika menginderai musik garapan Iman Ulle, yang memang merangkul dua karakter barusan.
Walhasil, saya tidak berpikir panjang ketika Sisca menawari untuk menjadi produser, ketua panitia, pimpro atau apapun itu pada sekitar bulan Maret kemarin. Bukan pekerjaan yang mudah, karena tantangan idealisme yang ditawarkannya. Namun mudah-mudahan, konser Harpa Nusantara tidak hanya menghibur, tapi juga menawarkan hal-hal yang membuka pikiran kita lebih luas.
Selamat mengapresiasi!

Comments
Post a Comment