Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Menahan Diri dari Berbelanja, Bisakah?

Bulan Ramadhan telah datang, dan umat Muslim di Indonesia pada umumnya berpuasa – atau setidaknya, begitulah kelihatannya-. Seperti kita ketahui secara umum, puasa berarti menahan diri dari segala kenikmatan badani seperti makan, minum, dan seks. Tidak hanya itu, puasa juga menekan nafsu-nafsu negatif lainnya seperti membicarakan kejelekan orang lain, menghina, melihat hal-hal tidak senonoh, atau mungkin juga, menyebarkan hoax (untuk yang terakhir ini, belum kelihatan buktinya). 

Namun ada hal yang tidak pernah dibahas sebagai bagian dari nafsu “negatif” yang faktanya terjadi saat bulan puasa hingga nanti lebaran, yaitu nafsu berbelanja. Menjadi konsumtif adalah salah satu tren yang umum terjadi di Indonesia pada periode ini. Misalnya, yang biasanya makan di rumah, karena sekarang makan menjadi momen istimewa, maka lebih indah jika makan itu beli jadi, atau sekalian di restoran, sambil reuni. Menjelang lebaran nanti, apalagi. Baju baru menjadi tujuan hidup yang utama, karena seolah menjadi simbol bagi sebuah hidup baru yang penuh kesucian. Kadang tidak hanya baju baru, tapi bisa juga mobil baru atau bahkan rumah baru. 

Berbelanja memang bukan suatu “dosa”. Malah perniagaan itu sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad. Menjadi konsumtif berarti juga menggerakkan roda ekonomi dan menjadikan pihak-pihak tertentu merasa diuntungkan. Namun mari berpikir sejenak dan menjauhkan diri dari keriuhan: Apakah berbelanja sekarang ini lebih sentral dan lebih esensial dari ibadah puasa itu sendiri? Mari juga merenungkan: Sebenarnya, puasa itu, untuk apa, sih

Puasa tidak hanya milik umat Muslim. Tradisi-tradisi keagamaan lain juga punya puasanya sendiri. Misalnya, kepercayaan Baha’i punya periode puasa sembilan belas hari di bulan Maret yang disebut sebagai bulan ‘Ala’; Buddhisme pun demikian adanya. Puasa dijadikan bagian dari meditasi demi mencapai kesehatan jasmani dan rohani; Belum lagi kaum Nasrani punya versi puasanya yang lain -yang berbeda juga dengan Yudaisme, Jainisme, Sikhisme, dan sebagainya-. 

Puasa, walaupun berbeda-beda asupannya, atau juga waktunya, tapi intinya tetap satu: Menahan diri. Puasa mungkin semacam latihan agar tubuh ini tidak “nakal” dan malah menjadi terlatih senantiasa -tidak sedikit-sedikit tunduk pada hawa nafsu-. Asumsinya, jika tubuh ini berhasil dijinakkan, maka jiwa manusia akan lebih sampai untuk memahami sang khalik. Seperti kata Plato: Tubuh adalah penjara jiwa. 

Maka itulah, jika puasa adalah latihan, maka mungkin tujuannya kira-kira: mengerem segala sesuatu agar nafsu dan tindakan tidak selalu bertalian. Belanja, harus diakui, adalah sebuah kegiatan yang tidak jarang, didasari juga oleh nafsu. Misalnya, nafsu ingin memiliki, nafsu mendapat pengakuan, ataupun nafsu untuk menjustifikasi bahwa kita harus membeli ini karena kita sudah “menderita” sepanjang hari. “Saya kan, sudah menahan lapar dan haus selama satu bulan. Apa salahnya, sih, setelah itu, makan bermewah-mewah dengan baju-baju indah,” ujar seseorang, mungkin. 

Jadi, apakah kita masih ingat dengan tujuan berpuasa? Atau jangan-jangan, puasa telah dikomodifikasi secara sistematis sehingga orang-orang menjadi lupa akan tujuan utamanya? Belum apa-apa, di televisi, sudah muncul iklan sirup yang menyatakan bahwa berbuka puasa bagusnya dengan sirup tersebut; belum apa-apa, sudah muncul iklan baju koko dan sarung apa yang tepat untuk kita nanti solat Idul Fitri; belum apa-apa, lagu-lagu Islami sudah diputar di berbagai toko ataupun restoran sehingga kita merasa berpahala ketika tengah mengonsumsi; belum apa-apa, tiket kereta sudah diborong karena keharusan untuk mudik; belum apa-apa, sudah memilih barang mana yang harus digadaikan agar bisa pulang kampung nanti. 

Dunia yang kian kapitalistik memang telah mengaburkan batas antara yang profan dan yang sakral. Misalnya, ketika natal di Prancis, orang tidak lagi saling menyapa dengan “Selamat Natal!” tapi “Bonne fÄ•te!” yang jika diartikan kurang lebih: “Selamat berpesta!”. Tapi hal yang semacam itu tidak terlalu salah juga. Agama dan kapitalisme memang punya hubungan mesra sudah sejak lama. Orang tidak akan merasa keberatan keluar uang banyak asalkan itu punya motif agama – sama halnya dengan hubungan kapitalisme dengan anak-anak, yang orangtua manapun kelihatannya susah menolak jika harus membeli sesuatu untuk kepentingan anaknya-. 

Suka tidak suka, fenomena di Indonesia juga sudah mulai seperti itu, meski orang masih malu-malu. Inginnya, sih, saling menyapa seperti ini, “Selamat menunaikan ibadah berbelanja. Mohon maaf lahir dan batin, karena saya, tahun ini, akan mengonsumsi lebih banyak dari tahun kemarin.”

Sumber gambar: http://www.zerohedge.com/news/2014-05-27/religion-cosnumerism

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...