Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

(Komunitas Kebangsaan) Menebalkan Kembali Nasionalisme yang Pudar (1 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Jika Indonesia diibaratkan orang yang tengah jatuh sakit, tentu ia butuh obat agar sembuh. Obat yang sedang ramai ditawarkan adalah perbaikan akhlak, mental, maupun karakter. Masing-masing dari kita punya versi sendiri tentang racikan obat tersebut. Ada yang menganggap bahwa racikan terbaik terbuat dari nilai-nilai agama. Ada yang menganggap bahwa racikan terbaik terbuat dari nilai-nilai yang diadopsi dari negara maju. Namun ada juga yang merasa bahwa seharusnya obat tersebut terbuat dari konsep nasionalisme. 
Persoalannya, konsep nasionalisme sedang mengalami kelangkaan. Ada macam-macam penyebabnya: Keberadaan internet yang membuat orang semakin berpikir across national border, pengaruh budaya asing yang sangat kuat lewat media massa, sejarah nasional yang ternyata punya banyak versi, modernisme yang membuat orang berpikir praktis, cepat, dan fungsional –tanpa mau dipusingkan oleh ideologi apa yang sedang ia pegang-, serta kapitalisme yang membuat orang selalu berorientasi akan keuntungan material. Di tengah kenyataan yang berseliweran tersebut, tidakkah memikirkan hakikat nasionalisme adalah semacam kegiatan yang sia-sia? 

Komunitas Kebangsaan 

Sekelompok anak muda di Bandung, yang menamakan dirinya dengan Asian African Reading Club (AARC), tidak menganggap itu sia-sia. Bertempat di Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA), mereka berkumpul setiap hari Rabu untuk merenungkan kembali nilai-nilai kebangsaan yang dianggapnya kian redup. Dengan gaya khas anak muda –campuran idealisme yang kuat dengan humor yang segar-, AARC membaca kembali pemikiran-pemikiran Bapak Bangsa seperti Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, hingga H.O.S. Tjokroaminoto. Ternyata, AARC bukan satu-satunya komunitas yang merasa prihatin atas kelangkaan nasionalisme ini. Ada juga Api Bandung, yang berbasis di Museum Sri Baduga dan Rumah Sejarah Inggit Garnasih. Mereka mencoba mengenalkan pada generasi muda tentang para pahlawan yang kerap dilupakan, seperti Inggit Garnasih dan Ali Sastroamidjojo. Tidak hanya dengan diskusi, Api Bandung juga menggunakan pendekatan seni, seperti musik dan teater, untuk mencapai tujuannya. Di Museum Mandala Wangsit Siliwangi, ada komunitas Historia van Bandoeng, yang gemar melakukan rekonstruksi sejarah bangsa, lengkap dengan pakaiannya. 
Kita bisa menyebut fenomena ini sebagai menjamurnya komunitas kebangsaan. Inilah komunitas-komunitas yang mencoba menebalkan kembali nasionalisme yang pudar. Mungkin dalam diri mereka, ada sedikit keraguan bahwa nasionalisme bisa dibangkitkan lewat institusi formal seperti pelajaran di sekolah, program-program pemerintah, atau seminar-seminar berbayar. Nasionalisme, bagi para penggiat komunitas kebangsaan, bisa dibicarakan secara utuh hanya dalam suasana yang santai, non-formal, dan egaliter. Komunitas kebangsaan juga tidak menitikberatkan barometer kesuksesan pada jumlah orang yang datang dan ambil bagian. Mereka percaya bahwa lebih baik yang hadir sedikit, namun pembahasan lebih mendalam, ketimbang yang hadir berlimpah, tetapi ujung-ujungnya nasionalisme hanya jadi histeria. Tidakkah kemerdekaan Indonesia ini, bermula dari orang-orang yang sedikit, yang berkumpul dalam suasana santai, non-formal, dan egaliter? 

Masa Depan Nasionalisme 

Komunitas kebangsaan mencoba mengajak generasi muda untuk bergelut dengan masa lalu. Harapannya, jika kita semua berkesempatan mengkaji pemikiran para Bapak Bangsa, maka harusnya bangsa ini lepas dari carut marut dan permasalahan yang terus mendera. Pertanyaannya, mengapa? Apa hubungan antara nasionalisme dan obat bagi Indonesia yang jatuh sakit? Tidakkah nasionalisme adalah ideologi yang mudah diserang dari segala sisi –seperti halnya ideologi-ideologi lainnya-? Kita tahu, nasionalisme sering dikritik sebagai konsep yang diciptakan sedemikian rupa untuk memperkuat hegemoni negara. Ada juga kritik yang menyebutkan bahwa nasionalisme justru menyebabkan perang antar negara yang tidak kunjung usai. Arthur Schopenhauer, seorang pemikir asal Jerman di abad ke-18, menyebutkan bahwa nasionalisme menyebabkan hilangnya identitas individu. 
Atas kritik tersebut, mungkin kita bisa menjawabnya lewat pernyataan Juwono Sudarsono di peringatan enam puluh tahun Konperensi Asia Afrika di Bandung, Maret lalu. Ia mengakui bahwa konsep nasionalisme bisa berpotensi menjadi pepesan kosong, romantisme, dan seremonial belaka. Namun satu hal yang pasti, nasionalisme bisa menjadi hal yang mendorong pemberdayaan pemuda. Pemberdayaan itu bisa berupa koperasi idealisme –hal-hal terkait gotong royong seperti komunitas, kerja bakti antarwarga, musyawarah mufakat, dan lain-lain- serta koperasi ekonomi –dianggap sebagai lembaga perekonomian yang paling cocok, menurut pandangan Moh. Hatta, untuk masyarakat kita-. 
Selain itu, jika kita mau melihat secara objektif, pemikiran para Bapak Bangsa kita sebenarnya tidak kalah canggih dengan para filsuf yang sudah lebih dikenal dalam sejarah pemikiran. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, hingga H.O.S. Tjokroaminoto, pernah menulis buku-buku yang dihasilkan melalui pemikiran yang mendalam –dan seringkali mencengangkan-. Misalnya, apa yang dikatakan oleh Juwono, sebenarnya sudah ditulis oleh Sjahrir dalam Sosialisme Indonesia Pembangunan: Kumpulan Tulisan, “Kita hendak bekerja atas dasar kemerdekaan jiwa orang, atas dasar kerakyatan, atas dasar sukarela, mufakat dan kerjasama, dan tidak dengan paksaan seperti yang telah dilakukan di negeri-negeri totaliter dan diktatur itu.” 
Setidaknya, lewat kajian-kajian yang dilakukan oleh komunitas kebangsaan, kita diajak untuk mengingat betapa Indonesia hari ini, sudah jauh dari apa yang dipikirkan oleh para Bapak Bangsa. Tugas kita adalah membuat jembatan agar pemikiran-pemikiran itu bisa terhubung dengan realitas yang ada. Tidak perlu muluk-muluk dalam konteks bangsa dan negara, tapi bisa dimulai dari diri dan keluarga.


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...